Header_Cemerlang_Media

Islamofobia Tak Akan Membendung Kebangkitan Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Mia Kusmiati
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Aksi pembakaran Al-Qur’an kembali terjadi, kali ini terjadi di Swedia dan dilakukan oleh seorang warga Irak bernama Salwan Momika. Momika merobek beberapa halaman salinan Al-Qur’an dan membakarnya dengan tujuan mengkritik Islam dan mengenalkan diri sebagai ateis sekuler di media sosial (Tempo.co, 30-06-2023).

Penghinaan dan penistaan agama tidak pernah berhenti terjadi, baik di negeri minoritas maupun mayoritas muslim seperti di Indonesia. Cara dan motif penghinaan dan penistaan beragam, ada yang menghina simbol-simbol Islam, kitab suci Al-Qur’an, Nabi Muhammad saw., dan Allah Swt.. Bahkan ada yang melakukan penghinaan dan penistaan dengan menolak sebagian dari ajaran yang dibawa oleh Islam.

Kasus pembakaran Al-Qur’an adalah salah satu bentuk islamofobia. Runnymede Trust, sebuah lembaga pemikir (think tank) tentang kesetaraan ras dan independen di Inggris mendefinisikan islamofobia sebagai rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan semua muslim.

Gelombang ketidaksukaan terhadap ajaran Islam dan kaum muslim terus bergulir. Berbagai cara dilakukan untuk mengutak-atik Islam. Gerakan islamofobia didukung sepenuhnya oleh Barat dan dilakukan oleh kaum muslim yang sudah terkooptasi oleh pemikiran Barat dan kepentingan duniawi.

Munculnya islamofobia bukan gejala lokal semata, tetapi merupakan fenomena global. Ada perang peradaban yang tak terelakkan. Barat memusuhi Islam dan itu disebarkan ke seluruh penjuru dunia melalui antek-anteknya. Barat takut, Islam tampil kembali ke permukaan sebagai satu kekuatan politik global sebagaimana dulu pernah ada karena itu akan mengancam eksistensi dan dominasi mereka saat ini.

Pada perkembangannya, narasi-narasi islamofobia di negeri Barat sudah berkembang menjadi sebuah industri. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk membangun narasi islamofobia di media mainstream, media cetak, media online, dan media sosial pada kurun waktu 2003 —2013 mencapai Rp28 triliun.

Di dalam negeri, narasi Islamofobia terus digaungkan oleh oknum-oknum yang tidak jernih memaknai ajaran yang dibawa oleh Islam. Mereka menjadikan Islam sebagai monster, musuh bersama. Berbagai cara dilakukan agar umat menjauh dari ajarannya. Istilah radikalisme, terorisme, ekstremisme, adalah bagian dari upaya mereka untuk memframing ajaran Islam dari orang-orang yang memperjuangkannya. Mereka menolak Khil4f4h dengan alasan sudah tidak relevan diterapkan di masa sekarang. Ironisnya, rezim berada di balik upaya menghantam umat dan ajaran Islam.

Seseorang yang melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar disebut sebagai radikal, ketika memberikan kritik terhadap pemerintah dianggap anti pemerintah, padahal jika kebijakan pemerintah berpihak pada umat maka akan mendapat dukungan sepenuhnya, tetapi jika sebaliknya maka harus diluruskan melalui jalan dakwah.

Akan tetapi sebaliknya, ketika ada yang menistakan Islam, pemerintah seolah membiarkan saja. Mereka yang korupsi seolah dilindungi, mereka yang membunuh anak bangsa di Papua dianggap saudara. Tak pernah disematkan istilah kelompok radikal kepada mereka. Dalam kondisi ini, rezim seolah berada bersama dengan kepentingan Barat, mendukung, dan melindung kalangan liberal.

Peperangan antara Islam dan kekufuran tak terbatas di medan perang. Musuh-musuh Islam terus berusaha melemahkan dan jika mungkin melenyapkan sampai ke akar.

Sebagaimana firman Allah Swt.,
“Mereka (orang-orang kafir) ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, sementara Allah menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir tidak suka.” (QS At-Taubah: 32)

Apa yang salah dengan Islam? Padahal Islam memberikan jalan bagaimana menyejahterakan umat, mengajarkan hidup berdampingan secara baik dengan siapapun termasuk orang kafir, mendidik umatnya menjadi manusia mulia dengan akhlaknya luar biasa, dan semua itu ada contoh yang nyata yaitu kehidupan Rasulullah dan para sahabat generasi Khulafaur Rasyidin.

Para musuh-musuh Islam terus gencar menebar narasi islamofobia agar umat tidak memegang teguh akidah dan syariat Islam. Jika umat Islam membenci ajaran agamanya sendiri, lantas bagaimana mungkin mereka akan menjaga dan memelihara agamanya ini?

Narasi-narasi islamofobia yang masif dilakukan pasti akan berdampak kepada kehidupan umat Islam dan menjadikan sebuah pemahaman jika tidak memiliki filter yang cukup dan akhirnya ikut menghalangi perjuangan Islam.

Oleh karena itu, penting bagi umat untuk berhati-hati menghadapi propaganda islamofobia ini. Umat harus berusaha untuk membentengi diri dengan meningkatkan pemahaman Islam yang benar dan aktif membongkar kemungkaran dan menyebarkan kemakrufan.

Selain itu, para pengemban dakwah juga harus terus menyampaikan Islam kafah kepada semua umat, bahwa Islam bukan hanya mengatur aspek ritual semata, tetapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan. Kaum muslim harus memiliki pertahanan berupa pemahaman Islam yang benar sehingga tidak mudah tergoreng narasi-narasi islamofobia.

Islamofobia tumbuh subur karena didukung oleh sistem demokrasi yang terbukti tak memberikan kebaikan bagi Islam dan umat. Maka, menerapkan sistem Islam secara kafah adalah jalan terbaik untuk menjaga dan melindungi Islam dan islamofobia akan lenyap di tengah sistem Islam.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah kebangkitan Islam laksana mencegah matahari untuk terbit. Sesuai dengan janji Allah bahwa kemenangan Islam itu pasti. Wallahu a’lam bisshawab. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

2 komentar pada “Islamofobia Tak Akan Membendung Kebangkitan Islam

  • 1
    0

    In syaa Allah, cahaya Islam akan terus bersinar di saat “mereka” gigih memadamkan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an