Menjadi Ibu Generasi Ideologis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Melgi Zarwati
Pemerhati Generasi

Ibu generasi ideologis tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari kesadaran amanah dan keberanian dakwah. Ia tidak hanya menyiapkan generasi yang siap menghadapi dunia, tetapi generasi yang siap memimpin dunia dengan Islam.

CemerlangMedia.Com — Ibu bukan sekadar pengurus rumah. Ia adalah madrasah yang menanamkan arah peradaban. Ketika seorang ibu mendidik dengan ideologi yang jelas, ia sedang membentuk masa depan umat—bukan hanya masa depan anaknya.

Di tengah riuh narasi sekuler yang sering memosisikan ibu hanya sebagai “pengelola domestik”, umat perlu kembali menegaskan hakikatnya: ibu adalah arsitek generasi. Islam tidak pernah memandang peran ibu sebagai tugas kecil. Dari rahimnya, lahir generasi yang kelak memimpin, menaklukkan zaman, dan mengemban risalah.

Peran ideal ibu dalam Islam adalah mencetak generasi pemimpin dan penakluk ketakutan—generasi yang tidak gentar kepada apa pun dan siapa pun, kecuali kepada Allah Swt.. Generasi yang visi hidupnya bukan berhenti pada dunia, tetapi menembus ke langit, menjadikan surga sebagai tujuan tertinggi. Sejarah telah menorehkan bukti bahwa peran ini bukan ilusi, melainkan kenyataan yang mengubah arah peradaban.

Jejak Ibu-Ibu Pencetak Pemimpin

Ibu Imam Syafi’i, seorang janda sederhana dari Gaza. Ia tidak memiliki singgasana, tetapi ia memiliki visi. Ia hijrahkan Syafi’i kecil ke Makkah demi ilmu, meski hidup serba terbatas. Tanpa fasilitas mewah, Syafi’i kecil menulis pelajaran di pelepah kurma. Namun, dari didikan ibu yang teliti dan visioner itu, lahirlah ulama besar yang ilmunya menaklukkan zaman dan menjadi rujukan peradaban.

Lalu ada Huma Hatun, ibu Muhammad Al-Fatih. Ia tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan cita-cita besar penaklukan Konstantinopel, seraya mengajak putranya menatap tembok kota dan berkata, “Kamulah yang dimaksud oleh Rasulullah.”

Keyakinan itu ditanam sejak dini. Hasilnya, lahir pemimpin muda berusia 21 tahun yang menaklukkan benteng terkuat di dunia dan membuka era baru kegemilangan Islam. Mereka tidak hanya mendidik anak, mereka mendidik pengubah sejarah. Dari tangan mereka, lahir generasi yang memimpin peradaban, bukan sekadar hidup di dalamnya.

Menjadi Ibu Generasi Ideologis

Hari ini, ibu dituntut lebih dari sekadar pengasuhan. Ia harus menjadi Ibu generasi ideologis yang memadukan peran keibuan dengan dakwah, disinari oleh kesadaran politik Islam. Kesadaran bahwa kerusakan generasi bukan hanya soal perilaku anak, tetapi soal sistem yang membentuk lingkungan tempat anak tumbuh.

Ibu yang ideologis mendidik bukan hanya untuk keluarganya, tetapi untuk kebangkitan umat. Sebab, ia paham bahwa generasi besar hanya lahir dari rumah yang bernyawa akidah, ilmu, dan dakwah. Rumah yang tidak hanya melahirkan anak, tetapi juga melahirkan arah peradaban.

Tantangan di Sistem Sekuler

Namun, tantangan hari ini tidak ringan. Dalam sistem sekuler, ibu menghadapi tekanan dari segala arah.
Pertama, serangan pemikiran yang menyingkirkan Islam sebagai ideologi hidup dan menggantinya dengan narasi kesetaraan gender, HAM liberal, serta moderasi beragama yang membingungkan arah generasi.

Kedua, serangan digital yang membentuk kebiasaan dan cara pandang anak lebih cepat dari nasihat orang tua ketika layar mengambil alih fokus mereka lebih kuat dari suara ibu.

Ketiga, sistem ekonomi kapitalisme yang memaksa ibu memikul beban ganda, berjuang di tengah biaya hidup, pendidikan, dan kebutuhan yang makin mencekik. Sementara solusi yang ditawarkan sering berbasis riba yang hanya akan menambah masalah baru. Dalam sistem yang menuhankan materi, ibu dilelahkan untuk sekadar bertahan, bukan disokong untuk mencetak generasi pemimpin umat.

Rasulullah ﷺ menegaskan, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi…” yang artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Jadi, mendidik anak bukan hanya tugas biologis, tetapi amanah ideologis yang akan ditanya oleh Allah kelak. Apabila ibu tidak membekali anak dengan akidah, visi Islam, dan keberanian mengemban risalah, bagaimana ia akan menjawab tentang generasi yang berada dalam genggamannya?

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan generasi tidak cukup hanya dengan memperbaiki anak, tetapi juga mengubah lingkungan yang membentuknya. Sebab, lingkungan lahir dari sistem. Jadi, perjuangan ibu sebagai madrasah generasi harus berjalan seiring dakwah politik Islam untuk mengubah sistem kapitalisme sekuler menuju sistem Islam yang menyejahterakan dan memuliakan peran ibu sebagai pencetak pemimpin umat.

Peran Riil Ibu Saat Ini

Di tengah keterbatasan dan kerusakan sistem, ibu tetap harus bergerak. Pertama, ia menetapkan visi pendidikan anak sebagai abdullah, khalifah fil ardh, dan pengemban misi khairu ummah. Kedua, ia menjadi teladan hidup karena pendidikan dimulai dari perbuatan, bukan hanya dari perkataan. Bukan hanya memerintah salat, tetapi memperlihatkan salat. Bukan hanya bicara akhlak, tetapi mempraktikkan akhlak. Bukan menanamkan takut pada manusia, melainkan takut pada dosa.

Ketiga, ia menanamkan keberanian ideologis yang tidak goyah oleh tekanan zaman. Keempat, ia mendampingi dunia digital anak dengan filter akidah dan kesadaran politik Islam. Kelima, ia mengokohkan dakwah di rumah dan masyarakat karena ia paham bahwa menolong agama Allah akan menghadirkan pertolongan-Nya dalam seluruh kebutuhan hidup.

Solusi Sistemik: Islam sebagai Penopang Generasi

Islam tidak memisahkan peran ibu dari sistem negara. Dalam sistem Islam, kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, dan pertanian ditanggung oleh negara, bukan diserahkan pada mekanisme pasar, bukan pada persaingan modal, dan bukan pada jerat riba. Ketika kebutuhan rakyat dijamin oleh negara, maka energi ibu tidak dihabiskan untuk sekadar bertahan, tetapi dapat fokus pada peran utamanya, mencetak generasi pemimpin peradaban.

Sistem Islam tidak menambah beban perempuan, tetapi memuliakan dan menguatkan perannya dalam bangunan umat. Menempatkan ibu bukan sebagai korban keadaan, melainkan sebagai pemimpin perubahan dari rumah yang bernyawa akidah, ilmu, dan dakwah.

Penutup

Ibu generasi ideologis tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari kesadaran amanah dan keberanian dakwah. Ia tidak hanya menyiapkan generasi yang siap menghadapi dunia, tetapi generasi yang siap memimpin dunia dengan Islam.

Saatnya ibu berhenti hanya menjadi benteng terakhir. Saatnya ia menjadi benteng pertama kebangkitan umat yang menyiapkan anak-anaknya sebagai pemimpin peradaban dan penakluk ketakutan, dengan surga sebagai visi tertinggi. Sebab, dari rumah yang ideologis, umat akan bangkit dan sejarah baru akan ditulis kembali.

Wallahu a’lam. [CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *