Header_Cemerlang_Media

Mental Illness: Hikikomori

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Ghina Ulya
Siswi Kelas 6 Ma’had Al-Ukhuwah Islamiyyah

CemerlangMedia.Com — Sudah pernah dengarkah Anda tentang hikikomori? Hikikomori adalah penyakit mental yang banyak menjangkiti generasi Z, terutama di negeri sakura Jepang dan tetangga-tetangganya, yakni remaja dan pemudanya memilih mengurung diri di kamarnya, tidak mau belajar, bekerja, atau bahkan sekadar bersosialisasi dengan manusia dan memilih melakukan hikikomori. Mereka yang melakukan hal tersebut biasanya mengalami hal yang tidak menyenangkan. Contohnya nilai yang anjlok, ditolak lamaran pekerjaannya, di-buli oleh teman, dan masih banyak lagi. Hal-hal inilah yang membuat banyak remaja di Jepang, Korea, Cina, dan sekitarnya memilih menyerah dan melakukan hikikomori.

Sebenarnya bukan hanya di Jepang saja yang pemudanya terkena masalah mental illness atau penyakit mental. WHO (organisasi kesehatan dunia) mencatat bahwa 1 dari 3 remaja dunia terkena mental illness, termasuk di Indonesia. Dari I-NAHMS survei nasional, Indonesia mencatat bahwa 1dari 3 remaja di Indonesia memiliki masalah mental illness, jumlahnya setara dengan 15,5 juta jiwa.

Dari banyaknya data remaja yang terkena mental illness, maka menjadi pertanyaan tersendiri bagi kita bahwa apa sebenarnya arti mental illness dan penyebab remaja berbondong-bondong terkena mental illness?

Mental illness adalah kondisi kesehatan yang memengaruhi pikiran, perasaan, perilaku, dan suasana hati atau kombinasi di antaranya (Halodoc.com). Mental illness memiliki beberapa jenis, mulai dari depresi mayor, masalah kecemasan, skrizofenia, OCD, PTSD, hyperaktifitas, dan masih banyak lagi penyakit mental yang menjangkiti generasi Z ini.

Akibat Sistem Sekuler Kapitalisme

Remaja yang terkena penyakit mental illnes sebenarnya adalah remaja yang belum selesai dengan pertanyaan di dalam diri mereka sendiri. Mengenai apa dan siapa sebenarnya mereka. Dan fase remaja adalah fase krusial, yakni remaja mulai mengalami perubahan dari fase anak-anak menuju dewasa. Di fase ini, jiwa anak-anak mereka -mau tidak mau- harus berkenalan dengan kondisi yang cukup keras dan jauh dari bayangan mereka.

Terlebih dengan sistem sekuler kapitalisme yang digunakan saat ini yang bertanggung jawab penuh atas kerusakan mental generasi penerus. Mengapa sistem sistem sekuler lagi-lagi menjadi biang kerok kerusakan? Karena sistem ini mendewakan harta, menuhankan tahta dan membuang jauh agama, dan merusak seluruh aspek kehidupan. Mulai dari negara yang seharusnya berperan paling penting dalam menjaga rakyatnya dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya, mengayomi dan menjaga rakyatnya, mengokohkan akidah rakyatnya.

Sistem kapitalisme sekarang hanya memedulikan uang dan materi. Pejabat-pejabat yang harusnya mengayomi, eh malah sibuk berkorupsi. Rakyatnya yang sudah harus berjuang sendiri, pun masih dijerat atas nama pajak. Masyarakat menjadi salah satu aspek yang rusak di sistem sekularisme liberal ini, yakni membebaskan remaja dan anak-anak yang sedang mencari jati diri, tanpa patokan ataupun arahan.

Wajar kalau mereka kalah mental atau bahkan salah arah. Keluarga dan orang tua yang menjadi benteng pertahanan terakhir seorang anak pun hancur akibat sistem. Orang tua yang harusnya mendampingi dan mengarahkan, tak sedikit yang akhirnya malah berakhir di meja perceraian. Orang tua yang harusnya berwajiban mendidik anak, kini harus berjuang mencari nafkah dan melupakan sang anak tersayang. Belum lagi orang tua yang sangat ingin anaknya sukses di dunia, sangat menuntut sempurna di nilai akademisnya, mereka lupa bahwa ada akidah dan jati diri yang harusnya mereka tanamkan.

Kembali pada Sistem Islam

Alhasil, kesehatan mental generasilah yang tergadai akibat sistem sekuler, terbukti telah gagal memakmurkan kehidupan manusia. Hanya dengan memperbaiki titik pusat masalah, mental generasi dapat diselamatkan, yaitu dengan cara mengganti sistem sekuler kapitalisme yang merusak dengan sistem Islam yang sempurna bagi seluruh umat manusia. Sistem yang dapat memperbaiki tatanan dan fungsi negara dalam mengayomi rakyatnya sehingga negara dapat memfilter segala kerusakan yang dapat merusak generasinya. Hanya sistem Islam lah yang mampu memperbaiki tatanan masyarakat, dari masyarakat yang tidak peduli menjadi masyarakat yang saling beramal makruf nahi mungkar. Serta hanya Islam lah yang mampu mengharmoniskan keluarga sehingga ayah dan ibunda tidak perlu lagi berjuang mencari rupiah, pun orang tua akan menanamkan akidah dan membentuk jati diri putra putrinya berlandaskan akidah Islam.

Bukan hanya itu saja, hanya dengan menerapkan Islam secara kafah-lah satu-satunya cara menyelamatkan mental generasi muda, sebagaimana Allah berfirman QS Ar-Ra’d ayat 28,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya: “Mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah yaitu orang orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.”

Namun, mengubah sistem tersebut adalah tanggung jawab bagi semua individu dan lapisan masyarakat, yakni dengan mendakwahkan Islam secara kafah kepada seluruh umat agar tercipta kehidupan yang sempurna. Wallahu a’alam [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an