Header_Cemerlang_Media

Pendidikan Kapitalisme, Bikin Miris!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Ummu Sholahuddin
(Pemerhati Remaja)

CemerlangMedia.Com — Pendidikan merupakan proses untuk membentuk generasi penerus yang mempunyai pemahaman ilmu mumpuni serta kepribadian baik sehingga mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.. Namun, harapan tinggal harapan, upaya tersebut begitu sangat jauh dari output pendidikan. Secara faktual dunia pendidikan tidak pernah sepi dari sorotan publik. Saat ini, memang berbagai bentuk kenakalan pelajar tengah merebah mewarnai dunia pendidikan. Mulai dari pelecehan seksual, tawuran antar pelajar, narkoba bahkan berakhir pada kasus pembunuhan. Hal ini akan menjadi sejarah kegelapan dalam dunia pendidikan.

Dilansir dari replubika.co, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Depok, berinisial MNZ (19) ditemukan tewas di kamar kosnya di Kawasan Kukusan, Beji, Kota Depok, Jumat (4-8-2023). Wakasat Reskrim Polres Metro Depok AKP Nirwan Pohan mengungkap, korban dibunuh oleh AAB (23), senior dan kenalan korban di kampus. Terduga pelaku membunuh MNZ karena iri dengan korban dan ingin mengambil barang berharganya.

Kenakalan Pelajar dan Pemicunya

Kenakalan pelajar merupakan bentuk sikap seorang pelajar yang menyimpang dari nilai-nilai keagamaan serta fungsi dari pendidikan.

Dalam sistem pendidikan saat ini, keadaan moral pelajar makin merosot. Mereka yang seharusnya fokus dengan menuntut ilmu di meja belajar, santun terhadap guru dan rekannya, tetapi mereka teralihkan dengan berbagai macam problematika.

Jika diamati, negara sendiri dalam rancangan yang tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan memberi rambu-rambu bahwa dalam proses pendidikan nantinya, peserta didik diharapkan mempunyai adab yang luhur.

Alih-alih tujuan tersebut bisa terealisasi, serta mampu memberikan sumbangsih pada dunia pendidikan, tetapi kasus kenakalan pelajar makin meningkat dan beragam. Dalam pendidikan saat ini, justru banyak para pelajar kehilangan jati dirinya sebagai hamba Allah.

Tentunya dari hal tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor di antaranya:
Pertama, faktor individu. Minimnya pemahaman serta ketidakpedulian individu terhadap agamanya sehingga individu tersebut mudah terangsang untuk melakukan perbuatan kejahatan yang muncul dari naluri dan kebutuhan jasmaniah.

Kedua, faktor keluarga. Bentuk kejahatan pelajar bisa dipicu dari keadaan keluarganya. Baik dari pemahaman agama orang tuanya, pendidikan orang tua terhadap anaknya, keharmonisan keluarga, dan keadaan ekonomi keluarga tersebut.

Ketiga, tidak adanya kontrol masyarakat. Keadaan lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan individu. Jika masyarakat yang ada rusak serta tidak adanya saling beramar makruf nahi mungkar, maka hal ini bisa memicu terjadinya tindak kejahatan.

Keempat, tidak adanya kontrol dari negara. Dari kasus kenakalan pelajar tidak segera berakhir menunjukkan bahwa negara tidak mampu mengatasi dan memberi solusi dengan baik.

Kapitalisme Bikin Miris

Diterapkannya sistem kapitalisme dalam kepengurusan negara adalah sumber petaka utama kehidupan. Inilah permasalahan terbesar dalam kehidupan umat. Sejak runtuhnya sistem Islam pada 1924 di Turki, negara seakan runtuh. Islam dicabut hingga akarnya dan sistem sekularisme, yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan diemban di seluruh belahan dunia.

Segala aspek kehidupan negara baik hukum, ekonomi, kesehatan, pergaulan, pendidikan diatur berdasarkan sistem sekularisme dan kapitalisme. Imbasnya, berbagai bentuk kejahatan merajalela, tidak hanya dari kalangan orang tua,  kalangan anak-anak pun sudah menjadi pelaku kejahatan.

Dalam dunia pendidikan sekularisme dan kapitalisme tidak terlepas dari tinta hitam. Kurikulum, sarana dan prasarana tidak mampu mencetak generasi yang cemerlang. Para pelajar justru terlihat saling bersaing, iri hati terhadap sesama rekan sehingga berakhir pada tumpahnya darah demi mendapatkan kepuasan nafsu serta materi.

Itulah wajah kapitalisme yang tidak cocok jika dijadikan tolok ukur dalam kehidupan umat. Oleh karenanya, sudah selayaknya negara mengganti sistem tersebut dengan sistem yang mampu mengembalikan jati diri umat.

Kembali pada Sistem Islam

Islam merupakan akidah spiritual dan politik, yakni segala hukum yang terpancar dan pemikiran yang dibangun di atasnya mampu menangani urusan kehidupan dunia dan akhirat.

Islam yang di dalamnya mengandung hukum syariat berfungsi mengatur hubungan individu dengan Rabbnya, mengatur hubungan manusia dengan sesama, serta mengatur hubungan manusia dengan dirinya.

Dalam kepengurusan hamba dengan Rabbnya, Islam mewajibkan setiap individu mempunyai keimanan yang kuat. Melaksanakan apa-apa yang diwajibkan serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Swt. sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt..

Setiap individu juga diharapkan menghadirkan ruh dalam setiap amal perbuatannya sehingga mereka merasa bahwa setiap amal perbuatannya selalu diawasi oleh Allah serta akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Oleh karenanya, setiap individu akan merasa ketenangan dalam hidupnya karena dijauhkan dari segala sifat ingin bersaing, iri hati, dan tindak kemaksiatan lainnya.
Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (TQS Ar-Ra’du [13]: 28)

Dalam urusan manusia dengan sesama. Segala aspek di dalam lingkungan masyarakat hingga negara yang meliputi hukum yang adil, memberi efek jera dan penebus dosa bagi pelakunya. Ekonomi kuat sehingga segala kebutuhan rakyat tercukupi, kesehatan yang berkualitas dan gratis. Sistem pergaulan yang terjaga.

Pendidikan maju dengan kurikulum yang berdasarkan akidah Islam. Alhasil, dunia pendidikan mampu membentuk generasi bertsaqafah dan syahsiah islamiyah yang mampu memahami tujuan hidupnya, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah bukan memenuhi nafsu dan materi. Allah berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS Adz-Dzariyat [51]: 56)

Selain itu, siswa mampu memberikan sumbangsih untuk kemajuan pendidikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dalam urusan manusia dengan dirinya, Islam akan membentengi diri dari segala bentuk kejahatan baik lahir maupun batin. Demikianlah jika Islam diterapkan akan menjadi sumber kebahagiaan di dunia bahkan di akhirat.
Wallahu a’lam [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an