Peringatan Hari Ibu: Wanita Berdaya, Indonesia Maju, Benarkah?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Neni Nurlaelasari
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Ibu merupakan sosok penting dalam kehidupan. Sosok yang tak pernah letih mengurus dan mendidik anak-anaknya. Melalui tangan ibu lahirlah generasi penerus peradaban. Salah satu bentuk apresiasi bagi para ibu ditunjukkan dengan Peringatan Hari Ibu (PHI) setiap 22 Desember.

Pada peringatan Hari Ibu tahun ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) merilis tema ‘Perempuan Berdaya, Indonesia Maju’ (CNNindonesia.com, 17-12-2023). Melihat tema peringatan hari ibu tahun ini, benarkah Indonesia akan maju, jika perempuan berdaya? Seperti apa pandangan perempuan berdaya dalam sistem saat ini?

Ibu Berdaya, Generasi dalam Bahaya

Ibu berdaya dalam sistem saat ini adalah ibu yang mampu menghasilkan materi/uang dan berpolitik praktis. Pandangan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ide kesetaraan gender, sistem kapitalisme, dan sekularisme yang diterapkan. Ide kesetaraan gender yang dihembuskan menganggap bahwa ibu dikatakan berdaya, jika mampu berkiprah di ranah publik setara dengan laki-laki. Ide ini berhasil memengaruhi para ibu untuk lebih memilih bekerja daripada di rumah mendidik anak-anaknya.

Di sisi lain, sistem kapitalisme yang diterapkan makin mendorong para ibu untuk meninggalkan tugas utamanya di rumah. Sistem yang menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan dan kesuksesan mendorong individu termasuk para ibu untuk mengumpulkan materi sebanyak mungkin. Sementara itu, penerapan ekonomi kapitalisme membuat biaya hidup makin mahal. Sebab, sumber daya alam yang ada dikuasai dan dinikmati segelintir oligarki. Alhasil, negara tak mampu menyejahterakan rakyatnya sehingga mengakibatkan tak sedikit para ibu terpaksa bekerja demi membantu mencukupi perekonomian keluarga.

Selain itu, sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan para ibu tak memahami tanggung jawab yang dipikulnya. Mereka berpandangan, jika kebahagiaan anak bertumpu pada terpenuhinya kebutuhan materi. Sementara aspek pendidikan anak cukup diserahkan pada pihak sekolah. Akibatnya, anak kurang mendapat perhatian dan kehilangan sosok ibu sebagai madrasah pertama dalam hidupnya.

Minimnya peran ibu dalam mendidik dan mendampingi anak-anak, menyebabkan generasi saat ini dalam bahaya. Kenakalan remaja, pergaulan bebas, penggunaan narkotika, bullying, game online, judi online, dan kerusakan lainnya mengancam generasi penerus. Ini terjadi bukan hanya semata gempuran budaya Barat yang ada, tetapi kesibukan ibu dalam bekerja membuat waktu bersama anak terabaikan. Akhirnya, menjadi ibu yang berdaya dalam sistem saat ini bisa membuat generasi dalam bahaya. Lalu, apakah Indonesia bisa maju, jika bahaya mengintai generasi penerus?

Mulianya Peran Ibu dalam Islam

Dalam pandangan Islam, seorang ibu sangat dimuliakan. Tak sekadar dengan momen seperti Hari Ibu, tetapi setiap saat, ibu mesti dihormati. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah saw. menyebutkan bahwa orang pertama yang harus dihormati bagi seorang anak adalah ibunya. Hal ini disebutkan sebanyak tiga kali sebagai penegasan bahwa kedudukan ibu begitu istimewa. Selain itu, perintah untuk berbuat baik kepada ibu pun terdapat dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 14,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.(QS Luqman: 14).

Sementara itu, Islam memandang ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di tangan para ibu terdapat amanah untuk mencetak generasi penerus bangsa. Salah satu kisah keteladanan ibu yang mencetak generasi terbaik dalam Islam adalah ibunda Imam Syafi’i, yaitu Fathimah binti Ubaidillah Azdiyah. Beliau mendidik Imam Syafi’i seorang diri setelah kematian suaminya. Beliau menanamkan akidah dan kecintaan yang kuat terhadap ilmu kepada anaknya. Alhasil, Imam Syafi’i menjadi ulama hebat yang ijtihadnya menjadi rujukan hingga saat ini.

Melihat pentingnya peran wanita dalam mencetak generasi, seorang ulama asal Mesir Hasan Al Banna pernah berkata, “Wanita adalah tiang negara. Jika wanitanya baik, maka baiklah sebuah negeri. Namun, jika wanitanya tidak baik, maka hancurlah negeri tersebut.”

Tentu ungkapan ini bukan isapan jempol belaka. Sebab, generasi penerus tentunya terbentuk dari tangan para ibu yang tak kenal lelah mendidik anak-anaknya. Jika waktu bersama anak terabaikan karena kesibukan ibu mengumpulkan materi, lantas bagaimana bisa terlahir generasi penerus yang berkualitas? Di sinilah perbedaan pandangan ibu berdaya dalam sistem kapitalisme dan sistem Islam.

Selain itu, negara dalam sistem Islam sangat berperan untuk mendorong para ibu dalam mendidik anak-anaknya. Dengan memastikan barang kebutuhan pokok yang murah, tersedianya lapangan pekerjaan bagi laki-laki, serta berbagai fasilitas dan layanan publik yang terjangkau bahkan gratis, diharapkan para ibu tak mesti terpaksa ikut mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebab, fungsi negara dalam Islam adalah sebagai pelayan rakyat. Maka, menyejahterakan rakyat adalah kewajiban negara sehingga para ibu fokus untuk mendidik generasi penerus agar menjadi generasi yang berkualitas.

Dengan demikian, sudah saatnya menerapkan sistem Islam secara menyeluruh (kafah) agar peran ibu bisa maksimal dalam mendidik anak-anaknya. Serta membuang sistem kapitalisme yang jelas membahayakan generasi penerus sehingga Indonesia maju bisa terwujud karena lahirnya generasi penerus bangsa yang berkualitas. Wallahua’lam bisshawwab. [CM/NA]

Views: 37

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *