Header_Cemerlang_Media

The Real Solution: Hempaskan Kekerasan di Lembaga Pendidikan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Fitria Rahmah, S, Pd.
(Kontributor Cemerlangmedia.Com, Pendidik Generasi)

CemerlangMedia.Com — Dunia pendidikan di Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tercatat beberapa kasus kekerasan terjadi di dunia pendidikan, baik dalam bentuk kekerasan seksual, fisik, verbal, psikologi, diskriminasi, dan perundungan. Menelusuri rekam jejak sejarah tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan di Indonesia, seperti dikutip dari wilwatikta.or.id bahwa pada 2015, sebanyak 84% peserta didik di Indonesia mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah dan 75% siswa mengaku pernah melakukan aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia seperti Papua dan Papua Barat ‘melazimkan’ tindakan kekerasan di sekolah, data ini berasal dari data International Center for Research on Women (ICRW).

Kekerasan di lingkungan sekolah yang saat ini terjadi tidak hanya dilakukan oleh sesama siswa ataupun dilakukan oleh guru terhadap siswa. Namun, kekerasan ini dilakukan oleh wali murid kepada guru ataupun dilakukan oleh murid kepada guru.

Fenomena kekerasan di lembaga pendidikan makin hari makin menghawatirkan, pelaku tindak kekerasan pun makin banyak dan juga bengis. Berangkat dari kondisi ini, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) meluncurkan Permendikbud Ristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP) di Jakarta yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Kemdikbud RI, Selasa (8-8-2023).

Peluncuran Permendikbud PPKSP ini merupakan penyempurnaan dari Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Tujuannya adalah untuk memperkuat tindak pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan dengan memperluas lingkup sasaran ke peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan warga satuan pendidikan.

Sayangnya, penanganan yang terjadi hanya sebatas regulasi yang dituangkan dalam peraturan pemerintah. Meskipun sudah banyak peraturan yang dikeluarkan dalam upaya mencegah dan menanggulangi kekerasan di lembaga Pendidikan. Nyatanya, semua regulasi yang tertuang dalam peraturan pemerintah tersebut telah gagal mencegah kekerasan di lembaga pendidikan. Malah sebaliknya, kondisinya makin mengkhawatirkan layaknya bencana besar yang melanda negeri. Bagaimana tidak dikatakan sebagai sebuah bencana besar, sebab pendidikan yang sejatinya adalah fondasi dasar dari sebuah peradaban, tetapi kondisinya rusak seperti saat ini. Jelas peradaban yang akan lahir pun akan menjadi rapuh dan rusak.

Penyebab Terjadinya Kekerasan di Lembaga Pendidikan

Oleh karena itu, untuk menciptakan ekosistem yang aman dan nyaman di lembaga pendidikan dibutuhkan lebih dari sekadar peraturan pemerintah. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dalam membuat kebijakan jelas tidak akan mampu menghilangkan bencana ini tanpa adanya kerja sama dari setiap elemen negara, yaitu masyarakat, orang tua, dan juga siswa itu sendiri. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, penguasa memiliki tanggung jawab yang besar dalam menciptakan keberhasilan pendidikan.

Berubahnya individu menjadi amoral seperti saat ini disebabkan karena sulitnya mengendalikan emosi yang ada. Hal ini dikarenakan pemisahan agama dari kehidupan. Gaya hidup sekuler saat ini dihasilkan dari sistem kapitalisme yang diterapkan dalam bernegara. Sebab agama dalam sistem ini bukanlah komoditas yang memiliki nilai jual sehingga keberadaannya digunakan sesuai kebutuhan. Termasuk dalam aspek pendidikan saat ini, durasi pengajaran mata pelajaran agama sangat minim. Hal ini dikarenakan orientasi pendidikan saat ini bertumpu pada materi. Makin besar materi yang dihasilkan, maka makin sukses individu tersebut. Alhasil, mereka mengabaikan nilai moral dan agama karena dianggap tidak memiliki nilai jual. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan komponen di lembaga pendidikan berubah menjadi amoral.

Selain itu, kondisi masyarakat saat ini adalah masyarakat yang individualisme, mereka seringkali tak menghiraukan akan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Budaya untuk mengingatkan dalam kebaikan seolah-olah telah hilang. Oleh karena itu, masyarakat kapitalis gagal dalam menumbuhkan suasana bermasyarakat dalam ketakwaan. Ditambah lagi, sistem sekularisme yang kita adopsi saat ini membuat negara tidak dapat menjalankan peran utamanya sebagai penjaga dan pelindung generasi. Maka tidak heran jika masyarakat saat ini terkontaminasi oleh budaya dan pemikiran Barat. Hal ini membuat kerusakan terjadi di segala aspek dan di semua kalangan, tidak hanya siswa dan guru.

Di sisi lain, peran utama ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya tidak dapat berfungsi dengan baik. Para ibu harus berjuang sendiri menanggung beban yang berat demi keberlangsungan hidup keluarganya. Tak dapat dipungkiri, pandemi menyisakan duka yang berkepanjangan. Sebab setelahnya terjadi badai PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang berimbas pada perceraian. Kedua faktor ini secara tidak langsung memaksa para ibu untuk keluar rumah mencari pekerjaan, menjadi tulang punggung keluarga. Peran ibu sebagai madrasatul ula ditinggalkan. Akhirnya, mereka sebagai orang tua tidak dapat lagi memberikan pemahaman Islam kepada anak-anaknya bahwa kita semua diwajibkan berperilaku sesuai dengan syariat Islam. Hal inilah yang membuat para siswa dan orang tua yang tumbuh dalam sistem kapitalisme sekularisme hanya berfokus pada satu titik, yaitu materi. Oleh karenanya, tidak jarang jika mereka lebih mementingkan ilmu dan mengabaikan ketakwaan yang tercermin pada kepribadian.

Tujuan Pendidikan dalam Islam

Atas dasar inilah, solusi yang diambil bukan hanya sekadar regulasi kebijakan yang tertuang dalam peraturan pemerintah. Tapi lebih dari itu, solusi sesungguhnya adalah dengan mengubah cara pandang akan tujuan pendidikan. Cara pandang sistem pendidikan kapitalisme sekularisme yang meletakkan standar keberhasilan pada ukuran materi harus dihapuskan dan diganti. Ini berarti mengubah sistem yang diterapkan saat ini dengan sistem yang lain, yaitu sistem Islam, sebab pendidikan dalam sistem ini memiliki tujuan untuk mencetak generasi bertakwa.

Maka pelajar dalam pendidikan Islam akan memiliki fondasi keimanan yang kuat karena pendidikan dalam Islam tidak hanya untuk menguasai ilmu, tetapi juga untuk melaksanakan pendidikan yang membangun syahsiah islamiyah (kepribadian Islam) dengan aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) yang kuat. Serta kurikulum yang dikembangkan akan mengantarkan pada ketaatan untuk meraih pahala dan keridaan Allah Swt..

Generasi Islami Memuliakan Guru

Oleh karena itu pendidikan dalam Islam melahirkan generasi terbaik yang sangat memuliakan guru. Sebagaimana tercatat dalam sejarah. Suatu kali, setelah memakamkan jenazah, Ibnu Abbas mempersilahkan Zaid bin Tsabit untuk menaiki seekor baghal, kemudian Ibnu Abbas memegang tali pelananya dan menuntun baghal tersebut. Zaid bin Tsabit merasa tak enakan, sembari berkata, “Engkau menuntun baghal, padahal engkau adalah sepupu Rasulullah saw..” Maka Ibnu Abbas menjawab, “karena inilah yang kami lakukan pada ulama-ulama kami.”

Imam Syafi’i pun memuliakan gurunya dengan cara istimewa, sampai-sampai beliau sangat hati-hati dalam membalikkan lembaran bukunya, khawatir suaranya akan mengganggu guru yang sedang mengajarkan ilmu. Gambaran lain betapa peradaban Islam sangat memuliakan guru bisa kita dapatkan ketika masa kepemimpinan Harun Ar Raasyid rahimahullah. Anaknya dididik untuk hormat kepada guru, bahkan sampai mencuci kaki guru yang mengajarkan ilmu bagi anak-anak khalifah. Putra-putri Khalifah Al-Ma’mun pun berlomba-lomba mengambilkan alas kaki gurunya dan memakaikannya, padahal mereka adalah putra mahkota. Sebab Islam memahami betul peran guru karena sejatinya mereka adalah sumber keberkahan bagi ilmu anak didiknya.

Sebagaimana nasihat dari Imam Ghazali, beliau menulis dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Jika seorang guru memiliki 3 sifat ini, maka betapa nikmatnya jadi muridnya: sabar, rendah hati, dan akhlak yang mulia. Dan jika seorang murid memiliki 3 sifat ini, bahagialah yang menjadi gurunya: menghadirkan akal saat belajar, beradab, dan sungguh-sungguh dalam memahami.”

Maka tidak heran jika sistem Islam mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif dan melahirkan generasi terbaik. Generasi terbaik yang memuliakan guru ini tidak muncul karena faktor kebetulan atau sekadar isapan jempol belaka. Peradaban Islam ini pun tidak hanya dibangun oleh satu elemen saja, yakni penguasa. Namun, seluruh elemen mulai dari penguasa, masyarakat, dan keluarga bersinergi dengan solid untuk menerapkan aturan yang berasal dari Sang Pencipta. Oleh karenanya, suasana ketakwaan tercipta di semua lini kehidupan. Peradaban emas ini adalah salah satu bentuk hikmah dan rahmat yang Allah Swt. jaminkan, ketika setiap aturan diterapkan secara utuh tanpa dipilah-pilih. Sebab ketika syariat diterapkan, maka kemashlahatan akan didapat, sebagaimana firman Allah Swt.,
“Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari di langit dan bumi.” (TQS Al-Araf 7: 96)

Itulah kemudian yang menjadikan Daulah Islamiyah mendatangkan berkah dan maslahat bagi kehidupan manusia, termasuk di dalamnya kesejahteraan. Alhasil, peradaban yang tercipta adalah peradaban yang kuat, yang mampu menaklukkan dua pertiga dunia selama kurang lebih 13 Abad. Maka, masih ragukah kita untuk memperjuangkan tegaknya kembali Daulah Islamiyah?
Wallahu a’lam bisshawab [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an