Header_Cemerlang_Media

Tradisi Brandu, Wujud Tidak Diterapkannya Syariat Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Trihayusanti
(Komunitas Tinta Pelopor)

CemerlangMedia.Com — Kabupaten Gunungkidul dihebohkan dengan penyakit antraks yang menyebar di daerah tersebut. Seorang warga Kecamatan Semanu, Gunungkidul, (DIY) meninggal pada 4 Juli 2023 karena antraks. Menurut Kementerian Pertanian, tradisi brandu atau purak merupakan faktor meningkatnya penularan antraks. Tradisi brandu ini dilakukan dengan memotong sapi dan kambing sakit secara paksa. Kemudian daging dijual belikan kepada warga dengan harga dibawah standar (jatim.tribunnews.com, 8-7-2023).

Tradisi brandu atau purak diakibatkan karena kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan yakni dari sang peternak ingin mempertahankan nilai ekonomi ternak yang mati. Di sisi lain masyarakat menganggap tradisi ini merupakan gotong-royong sebagai kepedulian terdapat warga yang terkena musibah (cnnindonesia.com, 5-7-2023).

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya bersikap cepat untuk menangani dan segera menetapkan status KLB agar tidak makin berbahaya bagi masyarakat.

Brandu Akibat Kemiskinan dan Minimnya Ilmu

Brandu merupakan potret kemiskinan yang parah di tengah masyarakat. Ini menunjukkan rendahnya edukasi kesehatan pangan oleh pemerintah terhadap warga. Keharaman memakan bangkai sudah ada di Al-Qur’an, tetapi hari ini masih ada warga yang mengonsumsinya bahkan memperjualbelikan.

Mengonsumsi bangkai sangat berbahaya terhadap kesehatan dan sudah banyak dibahas di berbagai media. Namun, apakah pemerintah sudah memastikan masyarakat paham akan hal ini?

Selain itu, kemiskinan bisa membuat masyarakat gelap mata. Masyarakat saat ini akan melakukan cara apa pun demi bisa makan, meski membahayakan kesehatan. Inilah fakta masyarakat miskin di negeri ini, saking miskinnya, sampai bangkai hewan pun dikonsumsi. Walhasil, merebaknya antraks berpangkal pada problem kemiskinan.

Akibat Sistem Kapitalisme

Kemiskinan merupakan masalah yang serius di Gunungkidul, Yogyakarta. Jumlah penduduk miskinnya pada 2022 mencapai 15,86%. Sebanyak 6.390 warga terkategori miskin ekstrem. Kemiskinan ini berdampak pada banyak hal, termasuk adanya tradisi brandu yang membahayakan kesehatan masyarakat. Kemiskinan ini bersifat struktural sebagai akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme.

Kapitalisme membuat persoalan kemiskinan tidak kunjung usai. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan kasus antraks di Gunungkidul tidak cukup sekadar dari aspek kesehatan saja, tetapi juga butuh penyelesaian secara sistemis dengan meninggalkan sistem ekonomi kapitalisme yang melestarikan kemiskinan.

Solusi Islam

Islam negara menjadi pengurus umat yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
“Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus) rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Al-Bukhari)

Maka, seorang pemimpin (khalifah) akan menetapkan kebijakan dalam rangka kesejahteraan rakyatnya. Oleh karenanya, tradisi brandu atau purak tidak akan dibiarkan berkembang di negara karena tradisi tersebut membahayakan nyawa manusia. Selain itu, menurut syariat Islam, perbuatan membahayakan diri sendiri serta orang lain tidak dibolehkan.

Negara akan mensosialisasikan pada masyarakat bahwa menjaga kesehatan sangat penting. Termasuk dalam hal yang dikonsumsi haruslah yang diperbolehkan oleh syarak yakni makan makanan yang halal juga baik. Sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya:
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik daripada apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (TQS Al-Maidah: 88)

Selain itu, seorang pemimpin akan mengedukasi masyarakat agar berkepribadian Islam sehingga masyarakat mampu berpikir dan bersikap yang benar sesuai syariat Islam. Dengan begitu tidak akan ada pemahaman yang salah di masyarakat dalam mengambil sikap dan keputusan terhadap hewan yang sakit dan mati. Wallahu a’alam. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an