Header_Cemerlang_Media

Tradisi Nenek Moyang Membawa Malapetaka, Bukti Penguasa Abai?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Suyatminingsih S.Sos.I.
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Indonesia adalah negara yang majemuk, yaitu negara yang terdiri dari banyak kepulauan, di mana di dalamnya terdapat berbagai suku, ras, agama dan budaya yang bermacam-macam. Hal ini merupakan ciri unik sebuah negara, tetapi keunikan tersebut jika menjadi sebab kebodohan atau merugikan rakyat maka hal ini bukan dikatakam unik, melainkan malapetaka. Tradisi atau budaya diartikulasikan sebagai warisan leluhur yang patut dilestarikan pada dasarnya lebih banyak membawa kemudaratan daripada kemashlahatan. Katakanlah tradisi brandu atau purak yang beberapa waktu lalu telah memakan korban beberapa warga Dusun Jati, Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta meninggal dunia.

Beberapa warga Dusun Jati yang meninggal dunia telah terdiagnosis positif antraks dan puluhan warga lainnya mengalami keluhan fisik. Kejadian tersebut terjadi karena mereka telah mengonsumsi daging hewan yang sudah mati atau sakit. Ya, kebiasaan membeli, menyembelih serta mengonsumsi daging hewan yang sudah mati atau sakit adalah salah satu tradisi (budaya) dari daerah Gunungkidul yang dinamakan “brandu” atau “purak” yakni kegiatan pemotongan sapi atau kambing yang sakit atau mati (CNN Indonesia, 8-7-2023).

Lebih tepatnya, tradisi brandu atau purak adalah tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh warga Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, yakni memotong, membeli, dan memakan bangkai daging hewan ternak atau daging hewan sakit dengan tujuan meringankan beban para peternak saat mengalami kerugian sebab hewan ternaknya mati atau sakit.

Meskipun tujuannya baik, tetapi pada dasarnya secara teknis tradisi brandu ini cukup merugikan. Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Retno Widyastuti menjelaskan bahwa tradisi brandu merupakan tradisi yang membuat kasus antraks terus bermunculan di Gunungkidul. Ia menambahkan bahwa bakteri yang ada di dalam darah mengalir keluar berubah menjadi spora. Spora itu tahan puluhan tahun (CNN Indonesia, 5-7-2023).

Dari beberapa fakta di atas, kita pahami bahwa adanya warga meninggal karena antraks bukan hal baru di Dusun Jati, Gunungkidul, Yogyakarta. Akan tetapi, warga tetap melakukan tradisi brandu meski kerap memakan korban jiwa. Hal demikian menjadi salah satu bukti bahwa penguasa telah abai terhadap literasi rakyat terkait bahaya virus antraks dan mengonsumsi daging hewan yang sakit atau mati.

Selain itu, muncul dugaan —menurut hasil investigasi yang dilakukan oleh Balai Besar Veteriner Wates dan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul— bahwasanya tradisi pemotongan sapi dan kambing yang sakit atau mati dilakukan dan dagingnya diperjualbelikan dengan harga di bawah standar merupakan akibat dari kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan dari sisi peternak, yakni adanya dorongan untuk mempertahakankan perekonomian dari hewan yang sakit atau mati. Hal ini dianggap sebagai asas gotong-royong dan bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami musibah (CNN Indonesia, 8-7-2023).

Padahal dalam Islam, bangkai hewan tidak boleh dimakan karena hukumnya haram. Mengapa demikian? Karena dalam bangkai hewan yang sudah mati terdapat kemudaratan yang bisa jadi ditimbulkan oleh sebab kematian hewan tersebut karena suatu penyakit yang dideritanya sejak lama atau adanya penyakit baru sehingga jika dimakan bisa memengaruhi kesehatan tubuh manusia dan untuk menyembelih apalagi mengonsumsinya tidak dianjurkan sebab sudah jelas adanya penyakit di dalam tubuh hewan tersebut.

Dengan kata lain, hewan yang sudah mati atau sakit merupakan hewan yang menjijikkan sehingga tak layak untuk dikonsumsi. Jika dikaitkan dengan kasus antraks yang diderita oleh warga Dusun Gunung Jati, Gunungkidul, Yogyakarta, maka sudah jelas apa yang dilakukan oleh warga adalah kesalahan fatal dan tradisi brandu tidak layak untuk dilestarikan apalagi dipertahankan karena hal ini bisa menimbulkan konsekuensi yang sama.

Oleh karena itu peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk meriayah atau memberi literasi pada rakyat agar tidak melakukan kebodohan yang berulang. Pemerintah juga wajib memenuhi kebutuhan rakyat agar tidak berada dalam garis kemiskinan sehingga untuk bertahan hidup mereka tidak perlu lagi mengabaikan bahaya yang bisa terjadi saat mereka makan daging hewan mati atau sakit. Abainya rakyat terhadap kemaslahatan diri pun menjadi pemicu munculnya pola pikir “masa bodoh” sehingga memakan bangkai hewan atau hewan sakit seolah merupakan hal yang lumrah. Wallahu a’alam [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an