Header_Cemerlang_Media

Usia Produktif Mendominasi Penularan HIV/AIDS: Buah Sekularisme?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Siombiwishin
(Aktivis Perempuan)

CemerlangMedia.Com — Penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau AIDS di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) cukup mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat terdapat 110 kasus penularan HIV yang telah terdata di 13 puskesmas di Kabupaten Kolaka per 18 Oktober 2023 lalu. Data ini didukung dengan pernyataan Sekretaris Dinas Kesehatan dr. Muhammad Aris yang menyebutkan bahwa jumlah penderita HIV di Kolaka didominasi oleh rentan usia 20—30 tahun dan penderita terbanyak dengan jenis kelamin laki-laki (Kendariinfo, 23-10-2023).

Adapun beberapa faktor yang disorot menjadi penyebab penularan HIV, di antaranya penggunaan narkoba dengan jarum suntik bekas, seks bebas, dan laki-laki seks laki-laki atau hubungan seksual sesama jenis. Miris, dari sekian banyak kasus yang ditemukan, hubungan seksual sesama jenis atau laki-laki seks laki-laki menjadi penyumbang penularan terbanyak HIV/AIDS di Kolaka. Mobilisasi manusia yang meningkat di area pertambangan juga menjadi salah satu aspek yang diduga turut andil dalam pesatnya penularan penyakit ini.

Tentu hal ini tidak dapat diabaikan. Pemerintah pun melakukan berbagai upaya dalam penanganan kasus tersebut agar tidak bertambah, berbagai fasilitas kesehatan untuk menangani kasus ini juga terus ditingkatkan. Alih-alih berkurang, kasus ini malah makin bertambah. Apa yang menyebabkan kasus ini terus saja tumbuh subur?

Di Balik Kasus HIV/AIDS yang Terus Meningkat

Berkembangnya perilaku seks bebas dan kampanye pro L687 menjadi salah satu fokus yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam upaya menurunkan angka penularan kasus HIV/AIDS. Fakta menunjukkan bahwa penularan penyakit seksual didominasi karena ulah para ‘aktivis seks bebas’ dan kelompok L687. Namun, dunia seolah tutup mata akan hal ini, terbukti dengan dilegalkannya hubungan sesama jenis (L687).

Dunia lebih mengutamakan hak asasi manusia (HAM) dibanding dampak kesehatan yang menyangkut hilangnya nyawa manusia. Dengan kedok kemanusiaan, kebebasan, dan dilindungi oleh hak asasi manusia, aktivitas terlarang ini terus saja berkembang. Seiring berkembangnya seks bebas dan kelompok L687, maka berkembang pula penyakit menular seksual.

Jika seks bebas menjadi hal yang diwajarkan, diperparah dengan dominasi penderitanya adalah rentang usia produktif yang seharusnya berperan dalam pembangunan bangsa, maka tidak menutup kemungkinan kerusakan generasi secara masif akan menjadi kenyataan pahit bagi bangsa. Oleh sebab itu, masyarakat perlu dipahamkan terkait betapa berbahayanya aktivitas seks bebas dan L687 apabila terus dibiarkan.

Tidak dapat dimungkiri bahwa paham sekularisme menjadi salah satu faktor yang menyebabkan berkembangnya seks bebas termasuk L687 sehingga menyebabkan tumbuh suburnya penyakit menular seksual. Paham pemisahan agama dari kehidupan menjadikan manusia hidup bebas tanpa ada aturan yang jelas dan terperinci, baik dari sisi pencegahan, penanggulangan, sampai pemberian hukuman bagi yang melanggar aturan terkait seks bebas.

Solusi Islam Membasmi HIV/AIDS

Seperti halnya larangan Islam terkait seks bebas dan L687, telah dijelaskan pula tentang azab pedih yang menimpa kaum L687, yaitu kaum Nabi Luth. Sayangnya, banyak yang tidak mengindahkan pelarangan, pun kisah yang pernah terjadi ini atau mungkin telah kehilangan rasa takut kepada azab dari Allah Swt.. Inilah akibat jika Islam dipisahkan dari kehidupan. Islam hanya dijadikan identitas, tanpa penerapan hukum-hukumnya.

Dari sisi pencegahan, Islam telah mengatur sistem pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sedini mungkin. Memberi batasan halal-haram dalam bergaul sehingga setiap individu dapat menjaga diri untuk tidak melanggar batasan-batasan tersebut.

Setiap individu juga akan dipahamkan tentang fitrah antara laki-laki dan perempuan beserta tugas yang diemban. Untuk itu, setiap mereka dapat menyadari hak dan kewajiban mereka sehingga tidak melewati koridor-koridor setiap jenis. Hal ini akan berdampak pada terhindarnya setiap individu dari menyukai sesama jenis.

Kemudian dari sisi penanggulangan, apabila terdapat kasus seks bebas yang terjadi, maka akan diarahkan untuk melakukan pertaubatan dengan menerima konsekuensi berupa sanksi atau hukuman. Adapun sanksinya, yaitu tatkala di masa Rasulullah saw., —bagi pelaku zina— jika pelakunya sudah memiliki istri (muhshan), hukumannya dirajam sampai meninggal. Sementara jika pelakunya belum menikah (ghairu muhshan), hukumannya dicambuk sebanyak 100 kali.

Kemudian hukuman bagi pelaku L687, yaitu dengan cara diasingkan dari negara sampai benar-benar bertaubat. Namun, apabila pelaku masih saja melakukan pelanggaran tersebut, maka akan diberi sanksi yang lebih berat. Di antaranya saat Umar bin Khattab menjadi seorang khalifah, hukuman bagi pelaku L687 dijatuhkan dari gedung tertinggi lalu ditimpakan batu besar sampai mati.

Andaikan solusi Islam mau diterapkan, pastinya tidak akan ada individu yang sudi berperilaku seks menyimpang. Pasalnya, mereka telah memiliki kesadaran dalam mengemban tugas sebagai manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka juga memiliki kesadaran bahwa akan diberi sanksi tegas jika melakukan pelanggaran.

Hal ini dilakukan guna menjaga keamanan rakyatnya secara paripurna, baik dari segi kesehatan raga, mental, maupun moral. Sebab, Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga seperangkat aturan dari Yang Maha Pencipta untuk mengatur kehidupan secara keseluruhan dan menyelesaikan setiap problematika kehidupan manusia termasuk problematika terkait HIV/AIDS. Wallahu a’lam. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an