Header_Cemerlang_Media

Belaian Ibu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Aisya Najiyyah
(Kelas 4A MIN 1 Kota Palangka Raya)

CemerlangMedia.Com — ‘Dum… dum… dum…’
Terdengar suara benda keras dari kamar sebelah. Aku pun memastikan ke sumber suara. Tampak kaki adik bungsuku menendang dinding kamar. Dia menendang dengan marah. Air bening bergulir dari kelopak mata adik bungsuku.

“Kenapa, Dik?” tanyaku penasaran.

“Ibu mana, Kak?” Dia bertanya balik sembari sesegukan.

Iya, adikku ini usianya lima tahun enam bulan dan masih sangat manja. Jika pulang bermain dengan teman-teman di kompleks rumah kami, ada saja yang ditangisi, tetapi dirinya bukan sedih karena bertengkar atau kehilangan mainan.

“Kakkk… panggil Ibu!” bentaknya bikin kaget.

Aku pun langsung berlari ke arah Ibu berada. Seperti biasa, hari libur adalah waktunya Ibu membuatkan kue dan berbagai camilan untuk kami, terutama untuk adik bungsuku. Aku juga sebenarnya suka, tetapi saat ini lagi mengurangi makan berbagai camilan maupun yang lainnya.

“Anak cewek harus langsing tubuhnya. Jaga Kesehatan!” pesan Ibu.

“Makan dikit boleh, kan, Bu? Masa adik terus,”protesku.

“Boleh, makanya Ibu membuat kue hanya Minggu saja supaya kalian tidak terlalu banyak konsumsi terigu,” ucap Ibu saat itu.

Kadang adik bungsu protes karena Ibu membatasi makan kue dan camilan lainnya, “Ibu pelit. Kata Kak Nayla, jika pelit, kelak kuburannya sempit,” ucapnya.

“Makanya, Ibu membuat kue dan camilan tidak setahun sekali,” tegas Ibu.

“Buuu!” teriak adik bungsuku lagi. Aku langsung mencolek Ibu.

“Adik nangis, Bu. Cepat ke sana. Nanti dia ngamuk!” ucapku.

“Kenapa dia, Kak?” tanya Ibu.

“Palingan berantem sama temannya. Cepat, Bu! Dia pukul-pukul tembok,” seruku.

Ibu segera berlari ke kamar adikku.
“Jaga oven, ya! Sebentar lagi kuenya mateng. Jangan lupa lihat lewat kaca oven,” perintah Ibu. Aku hanya mengangguk.

Lagi-lagi aku yang harus jaga kompor. Bukan tidak mau membantu Ibu. Aku sering lupa melihat kue di oven. Akhirnya gosong, kena omel juga. “Ingat jangan sambil main game!” teriak Ibu.

Aku langsung meletakkan ponsel di meja makan. Mataku tertuju ke arah kompor. Hidungku pasang alarm.

“Jika sudah wangi, atasnya menguning, segera matikan kompor. Keluarkan kue dari pemanggang,” kata Ibu.

Benar saja, tidak berapa lama kue sudah wangi dan menguning. Langkah pertama, segera kumatikan kompor. Selanjutnya kue dengan berbagai toping aku keluarkan dari oven.

Mendengar teriakan adik yang makin menjadi. Aku pun menyusul Ibu ke kamar.

“Bu, temanku tadi ngatain aku jelek,” kata adikku.

“Lagi-lagi masalah bullying. Cengeng amat anak laki,” cibirku.

Mendengar ucapanku, adik makin teriak. Persis seperti panci presto saat Ibu memasak daging.

“Kakak jahat, Kakak jahat!” teriak adikku.

“Duduk sini, Kak!” perintah Ibu.

Aku pun tidak bisa menolak. Aku duduk di samping Ibu.

“Eh, Kak, ambilkan kue dan air minum, ya. Bawa ke sini!” perintah Ibu lagi.

Selang beberapa menit, aku membawa satu piring kue dengan air putih sesuai permintaan Ibu.

“Ayo minum dan makan dulu kuenya. Ini empuk banget mirip pipimu, Dik!’’

Mendengar kue, adikku mulai tenang dan duduk bersebelahan dengan Ibu. Dengan lahap dia memakan kue kesukaannya.

Menurut teori, jika selesai menangis, anak cenderung lapar. Lebih baik jangan diajak bicara, tetapi beri makanan. Teori itu memang benar. Ibu tidak perlu ngomel atau memarahi adik yang menangis. Cukup bawa makanan kesukaannya. Setelah itu, ajak ngobrol.

Intinya Ibu tidak pernah memberi saran untuk melawan teman-temannya.

“Besok juga mereka lupa. Lalu main lagi. Adik hanya perlu pelukan dan makanan. Kakak jangan ikut meledek, kan sudah besar,” ucap Ibu.

Ternyata benar apa kata Ibu, esoknya adikku main lagi. Tentunya bersama temannya yang memanggil dia jelek dan adikku pun lupa. Mungkin terhipnotis kasih belaian Ibu dan enaknya kue bikinan Ibu. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an