Header_Cemerlang_Media

Flexing Buah dari Kapitalis Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

CemerlangMedia.Com — Flexing (pamer barang branded melalui sosial media) belakangan ramai dilakukan keluarga pejabat. Mereka seakan tidak peka dengan lingkungan sekitar, yang mana masih banyak masyarakat kurang mampu.

Dilansir dari Kumparan.Com (26/3/2023), pejabat pembuat komitmen Direktorat Perhubungan Laut Kemenhub, Muhammad Rizki Alamsyah menjadi sorotan di media sosial. Sebabnya, istri Rizki kerap memamerkan kehidupan mewah (flexing) di media sosialnya.

“Kami telah mengetahui perkara tersebut. Istri Muhammad Rizki Alamsyah yang mengunganggahnya di media sosial,” ujar Juru Bicara Kemenhub, Adita Irawati. Dirinya mengingatkan pesan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi agar seluruh jajaran Kemenhub tidak bergaya hidup mewah.

“Bapak Menteri telah berpesan kepada seluruh karyawan di Kementerian Perhubungan untuk senantiasa menjaga integritas, dengan hidup sederhana dan tidak bergaya hidup mewah, apalagi dipamerkan di media sosial,”lanjutnya.

Sekadar informasi, gaya hidup sang istri di medsos berbanding terbalik dengan laporan harta kekayaan atau LHKPN Rizki Alamsyah yang terlapor Rp 1,4 miliar. Angka ini berdasarkan laporan 4 Maret 2020 yang merupakan penyampaian khusus harta kekayaan saat awal Rizki Alamsyah menjabat pembuat komitmen pada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Flexing juga terjadi pada istri dan anak Sekda Riau, SF Hariyanto. Karena itu, Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN, Guspardi Gaus meminta Mendagri, Tito Karnavian memeriksa Sekda Riau, SF Hariyanto.

“Amat miris sikap yang ditunjukkan istri Sekda Riau tersebut. Sikap bergaya hidup mewah yang ditunjukkan pada media sosial merupakan sikap yang tidak pantas, karena dipertontontan saat masih banyak masyarakat hidup kekurangan,” papar Guspardi.

Sekda Riau ini mengingatkan kepada jajaran pejabat dan ASN serta keluarganya agar tidak memamerkan harta kekayaan. Menurut dia, hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan harus diterapkan oleh ASN sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo.

“Saya merasa prihatin. Kondisi tentang adanya pamer kekayaan para pejabat. Harusnya hal itu sesuatu yang mestinya dihindari oleh mereka. Sikap-sikap hedonis apalagi flexing yang dipamerkan di media sosialis adalah sesuatu yang harus dihindari. Mestinya mereka punya rasa empati kepada masyarakat miskin,” ungkap Guspardi.

Flexing merupakan buah dari sistem sekuler kapitalis, karena sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan, akibatnya manusia bersikap individual, hedonis, dan jauh dari nilai-nilai agama. Kehidupan manusia hanya berstandarkan materi, sehingga sikap riya plus rakus tumbuh subur.

Karena berstandar materi, maka jika materi tersebut tidak diperoleh, tidak jarang berdampak pada depresi dan stress. Mengingat kebahagiaan hakiki bagi mereka yaitu materi, sehingga rentan tertimpa masalah kejiwaan. Hal tersebut diperparah dengan penegakkan hukum yang tebang pilih (tajam ke bawah dan tumpul ke atas), sulitnya akses ekonomi, misalnya lapangan pekerjaan, dan pemenuhan kebutuhan dasar, serta masih merajalelanya korupsi.

Bandingkan dengan sistem Islam yang menstandarkan kehidupan pada syariat, sehingga kehidupan dijalankan dengan standar halal-haram. Jika sistem Islam yang diterapkan, maka akan terwujud ketaatan individu dan negara. Tidak akan terjadi ketidakadilan di segala bidang, terpenuhinya kebutuhan, dan pelayanan dasar masyarakat secara gratis dan berkualitas, tersedianya lapangan kerja serta tidak terjadinya korupsi.

Masyarakat pun akan berpikir berulang kali, jika akan melakukan tindakan yang melanggar syariat, karena tahu betul konsekuensi dunia dan akhirat. Hukum yang diterapkan berefek jera, dan masyarakat melakukan aktivitas semata-mata untuk mencari rida Allah swt..

Tidak kalah penting, negara hadir untuk mengurusi semua kebutuhan masyarakat. Pemimpin yang ada pun merupakan orang-orang yang amanah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,” Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah swt dan adil, maka dengannya, dia akan memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa / azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sungguh umat sangat merindukan kembali diterapkannya sistem Islam, sehingga kegemilangan Islam seperti 13 abad lamanya yang pernah dirasakan umat manusia, dapat kembali dirasakan. Wallahu’alam bishowab.

Ulfah Sari Sakti, S.Pi. (Jurnalis Muslimah Kendari)

[CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an