Header_Cemerlang_Media

Hilirisasi Nikel, Liberalisasi SDA Berujung Korupsi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

CemerlangMedia.Com — Penyalahgunaan kekuasaan kembali terjadi, yang terbaru terkait kasus tambang nikel di Blok Mandiodo, Sulawesi Tenggara. Hal ini seolah makin menunjukkan karut marutnya tata kelola sumber daya alam dalam sistem kapitalisme.

Dalam perkembangan penyidikan, Kejaksaan Agung menetapkan eks Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral Ridwan Djamaluddin sebagai tersangka. Ia disebut membuat kebijakan yang dapat menyebabkan makin menjamurnya praktik pertambangan ilegal di lahan konsensi milik PT Antam Tbk. Hal ini menyebabkan negara rugi hingga Rp5,7 triliun (11-8-2023).

Indonesia berambisi untuk menjadi produsen baterai terbesar di dunia. Hal ini menyebabkan pertumbuhan industri nikel terus digenjot dan yang paling masif terlihat di Sulawesi. Akan tetapi, ambisi itu tidak dibarengi pengawasan dan penegakan hukum yang ketat. Akibatnya, muncul praktik penambangan nikel ilegal yang berdampak pada kerusakan lingkungan seperti laut di sekitar wilayah operasi tambang tercemar sehingga berwarna kecokelatan. Hal ini menyebabkan pendapatan ikan menjadi minim bagi nelayan. Warga juga mengeluhkan sumber air bersih yang tercemar karena penambangan.

Kondisi seperti ini seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah. Ambisi perihal capaian pertumbuhan nikel yang terlalu tinggi ternyata tidak mempertimbangkan masyarakat setempat berikut dampak lingkungannya, justru liberalisasi menjadi tampak nyata dalam hal ini. Negara seolah-olah telah dibodohi oleh pengusaha dan para penguasa jahat. Sistem seakan tidak berdaya. Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi karena kasus-kasus korupsi memang tidak bisa dipisahkan dari sistem demokrasi dan ekonomi kapitalisme.

Begitu pula dengan hilirisasi serta perpindahan kepemilikan sumber daya alam milik negara menjadi milik individu. Di mana hilirisasi ini adalah strategi untuk meningkatkan nilai tambah suatu komoditas yang dengannya komoditas ekspor Indonesia tidak lagi hanya bahan baku, tetapi sampai ke produk jadi. Rancangan hilirisasi telah ada sejak 2010. Target besarnya tentu saja untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya hilirisasi industry, sumber daya alam yang diekspor keluar negeri akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah mendorong lebih banyak investasi ke dalam negeri. Akan tetapi, investasi dan investor pastilah berasal dari pihak swasta, baik lokal maupun asing. Artinya, hilirisasi hanya akan dinikmati oleh swasta, khususnya oligarki di sekeliling penguasa, sedangkan rakyat hanya mendapat wacana. Lebih dari itu, hilirisasi juga menyuburkan kepentingan sejumlah kapitalis, baik yang legal maupun ilegal. Alhasil, korupsi dan kecurangan tidak dapat dihindarkan.

Begitulah memang sistem liberalisme kapitalisme. Di tangannya, hilirisasi bukan dijadikan alat untuk menyejahterakan rakyat, tetapi menjadi alat untuk menjadikan SDA sebagai kepemilikan individu serta makin liberalnya sistem ekonomi.

Berbeda dengan Islam, yakni hilirisasi dan semua SDA akan dikelola oleh negara tanpa uang pinjaman dari luar negeri ataupun investasi asing. SDA akan dikelola oleh negara sepenuhnya tanpa mengabaikan kondisi lingkungan. Semuanya akan berjalan dengan selaras sesuai dengan aturan syariat. Hal ini dilakukan semata-mata hanya untuk menyejahterakan rakyat.

Korupsi pun akan hilang karena penerapan sistem Islam akan menerapkan sistem pidana sesuai syariat yang memberi efek jera pada para koruptor juga para penguasa yang menzalimi rakyatnya. Sudah seharusnya kita kembali pada sistem Islam karena Islam bukan hanya sebagai agama, tetapi juga aturan hidup yang berasal dari Sang Pencipta. Wallahu a’lam bisshawab

D Budiarti Saputri [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an