Sudah saatnya umat berhenti terperdaya oleh kosmetika kebijakan dan slogan antikorupsi yang hampa makna. Bukan sekadar perbaikan permukaan yang dibutuhkan, melainkan pembenahan mendasar terhadap sistem kehidupan. Hanya dengan mengembalikan hukum Allah ke pusat pengaturan, amanah akan kembali dimuliakan dan ibadah tidak lagi dijadikan tumbal oleh kerakusan kekuasaan.
CemerlangMedia.Com — Sebuah sistem hidup yang rapuh akan melahirkan barisan pemimpin yang keropos nuraninya. Dari rahim aturan yang menuhankan materi dan menyingkirkan rasa takut kepada Allah ﷻ, lahirlah penguasa-penguasa yang memandang kekuasaan sebagai ladang rampasan, bukan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Korupsi yang menjalar di negeri ini bukan lagi sekadar penyimpangan, melainkan telah beralih rupa menjadi epidemi kekuasaan. Ia menyusup ke setiap celah birokrasi, menggerogoti sendi-sendi amanah, hingga akhirnya berani menodai wilayah paling sakral: pengelolaan dana haji. Dana yang seharusnya dijaga dengan kehati-hatian dan kesucian niat, justru dipermainkan, diperalat, dan diperdagangkan demi kepentingan sesaat.
Akibat pengkhianatan ini, ribuan calon tamu Allah terpaksa memendam rindu yang tertunda. Penantian panjang, doa-doa yang terangkai dalam sujud malam, serta harapan untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci harus kandas oleh kerakusan segelintir elite. Bukan harta semata yang dirampas, melainkan juga ketenangan batin dan kepercayaan umat.
Inilah potret buram sistem kapitalisme-sekularisme, sebuah tatanan yang mempreteli agama dari ruang pengaturan kehidupan. Dalam sistem ini, nilai takwa disisihkan, amanah didegradasi, dan jabatan direduksi menjadi instrumen akumulasi kekayaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika lahir pemimpin-pemimpin yang fasih bersolek kata, tetapi miskin rasa takut kepada Allah; piawai beretorika, tetapi abai terhadap dosa yang menggunung.
Pemimpin durjana semacam ini kerap menabur kerusakan secara sistematis. Kebijakan lahir tanpa nurani, hukum ditegakkan tanpa keadilan, dan rakyat dibiarkan menanggung beban pengkhianatan yang tidak mereka perbuat. Kekuasaan menjadi perisai, sementara amanah dibiarkan terkubur di bawah timbunan kepentingan.
Selama tatanan hidup yang cacat ini tetap dipertahankan, maka pengkhianatan akan terus beranak-pinak. Pergantian figur hanyalah ilusi perubahan, sebab sumber kebusukan tetap bercokol pada sistem yang sama. Kepemimpinan yang bertakwa tidak akan tumbuh dari tanah yang gersang nilai ilahiah, melainkan dari aturan hidup yang menjadikan syariat Allah sebagai penopang, penuntun, dan pengawas.
Sudah saatnya umat berhenti terperdaya oleh kosmetika kebijakan dan slogan antikorupsi yang hampa makna. Bukan sekadar perbaikan permukaan yang dibutuhkan, melainkan pembenahan mendasar terhadap sistem kehidupan. Hanya dengan mengembalikan hukum Allah ke pusat pengaturan, amanah akan kembali dimuliakan dan ibadah tidak lagi dijadikan tumbal oleh kerakusan kekuasaan.
Cici Rafika, S.Pd. [CM/Na]
Views: 3






















