Islam memandang manusia sebagai satu umat yang dipersatukan oleh akidah, baik tua maupun muda, memiliki tujuan yang sama. Dalam pandangan Islam, pemuda memiliki energi besar dan keberanian untuk menjadi pelopor perubahan menuju tegaknya Islam secara kafah, sebagaimana telah dicontohkan pada masa Rasulullah saw.. Pemuda dipersiapkan sebagai calon pemimpin masa depan yang berakhlak mulia, mampu membangun peradaban Islam yang gemilang, serta mengemban risalah Islam ke seluruh alam dengan kepribadian Islam yang kukuh.
CemerlangMedia.Com — Siapa yang tidak mengenal pemuda? Generasi penerus yang penuh energi ini bukan hanya soal usia, tetapi tentang potensi, semangat, dan peran aktif dalam membangun masyarakat dan bangsa. Pemuda juga menjadi jembatan antara generasi tua dan gambaran masa depan yang kelak akan membangun sebuah peradaban besar, termasuk peradaban Islam.
Namun, sayang seribu sayang, potensi besar pemuda muslim saat ini justru disetir oleh Barat. Mereka bahkan menjadi target pembangunan ala sistem kapitalisme melalui berbagai program, seperti pemberdayaan berbasis digitalisasi.
Menurut data BPS bertajuk ‘Statistik Pemuda Indonesia 2025’ yang dirilis pada (12-12-2025), terdapat tren penurunan persentase pemuda menjadi 23,5% pada tahun 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda tercatat sebesar 11,78%.
Data tersebut juga menunjukkan peningkatan proporsi pemuda yang bekerja, yakni 57,86%, serta penggunaan internet untuk hiburan yang mencapai 91,16%. Mayoritas pemuda berada pada rentang usia 25–30 tahun dengan latar belakang pendidikan yang beragam (12-12-2025). Walaupun jumlah pemuda mengalami penurunan, jumlah keseluruhan masih mendominasi dibanding usia lainnya.
Dari sini dapat dilihat bahwa pemuda memiliki potensi yang sangat besar. Selain sebagai agen perubahan, pemuda diharapkan menjadi pembangun peradaban. Di Indonesia, dengan adanya bonus demografi, jumlah pemuda muslim sangatlah besar. Namun, sungguh disayangkan, hari ini para pemuda justru terjebak dalam arah pembangunan ala sistem kapitalisme yang menyesatkan.
Kapitalisme, melalui perhitungan algoritma, telah berhasil menyetir media sosial. Pemuda senantiasa diarahkan pada ideologi kapitalisme dengan suguhan hiburan yang menarik sehingga mereka terus berlama-lama di depan layar. Ketika layar menjadi guru, maka ideologi yang menguasai layar itulah yang berpeluang membentuk peradaban.
Digitalisasi yang seharusnya membawa manusia pada kecerdasan, di bawah kendali kapitalisme justru menjerumuskan pemuda pada pola hidup instan, konsumtif, dan kehilangan makna. Pemuda didorong dan dieksploitasi melalui media sosial. Akibatnya, mereka hanya fokus pada isu-isu individual seperti ‘self-love’, ‘healing’ dan ‘mental health‘ sehingga mengabaikan lingkungan sekitar, termasuk generasi tua.
Dalam perspektif sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, agenda ini terus berjalan dengan menjauhkan perhatian pemuda dari isu-isu utama umat, seperti urgensi Khil4f4h dan pembebasan Palestina. Pemuda pun menjadi vokal, tetapi pragmatis. Aktif, tetapi kehilangan arah, bukan ideologis.
Oleh karena itu, sudah saatnya pemuda bangkit meninggalkan sistem kapitalisme yang menjadi sebab berbagai kerusakan. Sistem ini telah mendorong pemuda ke dalam jurang kehinaan dan kesengsaraan hidup. Sudah saatnya sistem ini ditinggalkan dan beralih kepada sistem alternatif yang ideologis dan solutif bagi seluruh problematika umat, yaitu Islam.
Islam memandang manusia sebagai satu umat yang dipersatukan oleh akidah, baik tua maupun muda, memiliki tujuan yang sama. Dalam pandangan Islam, pemuda memiliki energi besar dan keberanian untuk menjadi pelopor perubahan menuju tegaknya Islam secara kafah, sebagaimana telah dicontohkan pada masa Rasulullah saw.. Pemuda dipersiapkan sebagai calon pemimpin masa depan yang berakhlak mulia, mampu membangun peradaban Islam yang gemilang, serta mengemban risalah Islam ke seluruh alam dengan kepribadian Islam yang kukuh.
Sejarah telah membuktikan bahwa Islam mampu mencetak pemuda yang beriman dan bertakwa serta mampu menjaga keimanannya. Allah Swt. berfirman,
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS Al-Kahfi: 13).
Seluruh potensi pemuda ini hanya akan bangkit dan tergali secara sempurna apabila Islam dijadikan sebagai fondasi. Oleh karena itu, sudah saatnya umat bangkit dan menjadikan generasi pemuda muslim sebagai pemimpin perubahan sistemik untuk membangun peradaban Islam yang mulia dan gemilang. Menyingkirkan sistem kapitalisme sebagai biang kerusakan dan menggantinya dengan sistem Islam yang diterapkan dalam bingkai negara, yakni Daulah Khil4f4h. Sebab, hanya Khil4f4h yang mampu menyelamatkan generasi. Wallahu a‘lam bisshawab.
Ummu Hilya Aulia [CM/Na]
Views: 6






















