Header_Cemerlang_Media

Sekularisme Lahirkan Banyak Predator Anak

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

CemerlangMedia.Com — Miris, anak berusia 5 tahun di Cengkareng, Jakarta Barat, menjadi korban pelecehan yang dilakukan oleh EA (21). EA merupakan keluarga korban dan saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Diduga, pelecehan sudah terjadi sejak 2 tahun lalu (24-04-2024).

Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertama, paparan pornografi yang saat ini sangat mudah diakses di media sosial. Kedua, regulasi hukum yang seharusnya berfungsi untuk melindungi hak-hak anak, saat ini terkesan mandul. Meski undang-undang terkait perlindungan anak beberapa kali direvisi, faktanya hingga hari ini belum mampu mengurangi kasus pidana pelecehan seksual terhadap anak. Ini menjadi bukti gagalnya sistem hukum dalam menjamin perlindungan anak.

Ketiga, sistem pendidikan yang dinilai gagal. Hal ini tampak dari adanya beberapa terduga pelaku yang justru berprofesi sebagai tenaga pendidik alias guru, anggota kepolisian, dan masih banyaknya lagi profesi lainnya yang tidak jarang menjadi pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Sepatutnya, sebagai orang yang mengenyam bangku pendidikan, sudah seharusnya mereka dapat memperlihatkan contoh yang baik dan sikap yang terdidik, serta membawa pengaruh positif di manapun mereka tinggal. Namun, yang tampak saat ini justru sebaliknya, mereka tega menghancurkan masa depan anak yang seharusnya dilindungi.

Sejatinya, semua itu terjadi akibat dari penerapan sistem kehidupan sekularisme demokrasi. Sebuah tuntunan hidup yang telah menihilkan peran Allah Sang Pencipta sebagai pembuat aturan sehingga menghasilkan individu-individu yang kering dari nilai-nilai agama.

Sementara itu, aturan dalam bermasyarakat dibuat bersama oleh rakyat dan disepakati oleh lembaga yang menurut mereka adalah wakil rakyat. Walhasil, lahirlah undang-undang yang dibuat berdasarkan sudut pandang manusia yang belum tentu baik secara hakikat.

Manusia jelas memiliki kemampuan terbatas dalam menilai suatu hal, baik atau buruk. Otomatis dalam membuat aturan pun ia tidak akan mampu membuat regulasi yang dapat mengatasi berbagai permasalahan hidup. Apa yang disangka manusia baik baginya, belum tentu baik menurut pandangan Allah atau sebaliknya, apa yang dianggap buruk, belum tentu buruk dalam pandangan Allah.

Dalam Islam, untuk mengatasi berulangnya kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak, tidak cukup hanya dengan pemberatan hukuman tanpa adanya peran negara yang komprehensif. Untuk itu, negara wajib menjadi panglima dalam mewujudkan sistem perlindungan anak dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang tegas, seperti menutup seluruh akses konten porno, melarang perilaku porno, mewajibkan menutup aurat saat keluar rumah, melarang semua bisnis dan media porno serta pelacuran.

Semua hal itu merupakan dasar utama yang terbukti mengakibatkan perilaku kekerasan seksual terhadap anak. Negara juga akan menutup bisnis miras, mengatasi peredaran narkoba, mengubah sistem pendidikan agar sesuai dengan syariat Islam sehingga menghasilkan individu-individu yang bertakwa. Negara juga mengentaskan kemiskinan dan memampukan keluarga dalam mendidik anak-anaknya dengan baik sesuai dengan tuntunan Islam.

Problem pelecehan seksual yang terjadi terhadap anak, pada dasarnya merupakan persoalan sistemis sehingga penyelesaiannya pun harus dengan cara perubahan yang sistemis. Tidak hanya cukup dengan menangkap pelaku kemudian memberikan hukuman yang seberat-beratnya, tetapi harus menyuntikkan tata nilai Islam serta menghapus liberalisme dan sekularisme yang saat ini bercokol di tengah masyarakat.

Solusinya yaitu dengan menerapkan sistem Islam secara kafah dalam naungan Khil4f4h. Sebab, hanya Khil4f4h yang mampu mewujudkan semua itu karena seluruh aturan Allah hanya bisa ditegakkan dalam bingkai Daulah Khil4f4h. Negara tentu tidak akan membiarkan satu anak pun mengalami kekerasan seksual. Negara juga akan menghentikan lahirnya predator-predator baru. Wallahu a’lam

Rina Herlina
Payakumbuh, Sumbar [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an