Header_Cemerlang_Media

Tontonan Bukan Tuntunan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Nunik Umma Fayha

CemerlangMedia.Com — Masih nonton televisi?
Guys, ngerasa gak, sih, kalau makin hari, tayangan yang diberi label islami dan religi di televisi, makin membuat miris. Tayangan sinetron, seperti Tukang Bubur Ingin Naik Haji, TKP Wali (Ramadan), Magic 5, dan semacamnya, bisa membuat pemahaman kita tentang syariat bergeser dan berubah. Ngeri-ngeri tidak sedap, ya. Bagaimana bisa sedap kalau hasil akhirnya murka Allah. Astaghfirullah.

Setiap Ramadan, televisi membuat berbagai program khusus, mulai hiburan sampai kajian keislaman. Semua channel berlomba menayangkan acara yang berpotensi merebut perhatian dan menggoda calon penonton. Kultum, sinetron religi, sampai acara hiburan ditawarkan. Sayangnya, tontonan yang disajikan, meskipun diniatkan untuk konsumsi kaum muslimin, tetapi makin jauh dari syariat.

Khalwat, ikhtilat, bahkan pacaran, tiba-tiba menjadi islami karena dilakukan oleh sosok pemeran utama cerita yang banyak menggunakan idiom Islam, seperti nama, istilah-istilah, dan busana. Intrik di dalam cerita pun mengesankan Islam itu buruk, mulai dari ghibah, hasutan, sampai fitnah. Semua itu banyak mengisi tontonan sehari-hari, seolah menjadi layak di kesehariannya kehidupan muslim. Astaghfirullah.

Ramadan berlalu dan segala yang tadinya sedikit berbau keruhanian seperti mencapai finis. Gaspol seperti tidak ada lagi aturan dan tidak ada syariat dalam tampilan, pun keseharian. Para penampil yang kemarin berdandan tertutup, kembali melepas atribut, kembali ke selera asal.

Menjaga Akhlak

Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam diri manusia yang akan muncul dengan sendirinya tanpa paksaan, tanpa pemikiran, dan pertimbangan. Bagaimana kita menyikapi sesuatu, itulah yang mencerminkan akhlak kita. Begitu, Guys, penjelasannya.

Ketika kita menyandarkan akhlak hanya berdasar apa yang ditemui dalam keseharian, maka apa yang dilihat sehari-hari bisa menjadi kebiasaan kita. Bisa muncul spontan ketika menemui sebuah fakta. Seringnya melihat orang pacaran dan berkhalwat, membuat alam bawah sadar kita secara tidak sadar menganggap bahwa pacaran dan khalwat adalah aktivitas biasa, bukan lagi aktivitas yang menyalahi syariat. Sebagaimana yang kita tahu, tontonan yang beredar di televisi, medsos, keseharian kita, banyak sekali aktivitas khalwat dan juga ikhtilat.

Penonton yang biasa melihat, secara tidak sadar menjadi terbiasa, padahal kalau kita balik ke aturan Islam, Guys, pergaulan kita sudah ditata serta diatur dengan cermat dan menenangkan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena setan menjadi yang ketiga di antara mereka berdua.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Tuh, kan, ngeri kalau sampai ada setan mengikuti kita. Banyaknya kasus hamil di luar nikah hingga aborsi, tentu disebabkan khalwat karena yang ketiga dari dua orang yang menyendiri adalah setan yang menggoda dan meniupkan syahwat. Naudzubillahi min zalik.

Begitu pun masalah menjaga aurat. Ketika berseliweran tontonan dan iklan di berbagai media, banyak mengumbar aurat, bisa jadi lama-lama, kita menganggap biasa aurat yang terbuka. Sementara aturan tentang ini pun juga sangat jelas. Bisa kita lihat dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Aurat seorang wanita itu dari kepala sampai kaki. Hal ini pernah disampaikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada Asma ra. ketika berkunjung ke rumah Rasulullah, seperti termaktub dalam QS Al-Ahzab ayat 59,

“Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”

Jadi, berdasar ayat ini, jilbab dipakai dengan mengulurkan kain ke seluruh tubuh, bukan hanya menutup kepala seperti dipahami secara umum. Sebab, aturan menutup kepala diatur tersendiri dalam QS An-Nur ayat 31,

“… Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya….”

Guys, pergaulan Islam memiliki aturan yang jelas. Bila aturan itu dilaksanakan, sungguh akan membawa maslahat dalam kehidupan. Dimulai dari menjaga aurat, pandangan, lisan, semua itu masuk ke dalam cakupan syariat.

Menjaga pergaulan dengan baik tanpa ikhtilat yang tidak perlu, tidak berkhalwat karena bisa mengundang setan, termasuk juga menjaga penampilan. Tidak satu pun aturan itu yang membawa mudharat kecuali bagi yang tidak berharap taat. Bagi mereka akan berat menjalani, sebab kuatnya hasutan dalam keseharian, entah dari tontonan, bacaan, meskipun diberi label islami.

Nah, Guys, makin mudahnya tontonan diakses siapa pun, di mana pun, kapan pun, membuat para pembuat tayangan berlomba memperebutkan calon penonton. Dengan kebebasan yang nyaris tanpa batas, pornografi menjadi salah satu senjata andalan menggapai jumlah ‘viewer’.

Sebagai seorang muslim, kesadaran akan aturan yang harus dijalankan terus ditipiskan sehingga rancu antara mana yang boleh dan mana yang tidak. Kesalehan yang dicampur dengan kesyirikan dan sensualitas, menjadi komoditi yang siap mengusik setiap waktu.

Beratnya berada dalam sistem serba bebas. Mereka minta dibebaskan melakukan kemaksiatan berkedok seni dan bertopeng ekspresi kreativitas, tetapi untuk menjalankan syariat justru tidak bebas. Menjadi muslim kafah justru mendapat anggapan radikal yang berkonotasi negatif karena menggunakan idiom ciptaan Barat pembenci Islam. Bebas menurut idiom Barat, justru menafikan bebas menjalankan syariat karena tegaknya syariat akan membawa kehancuran kebebasan tanpa batas ciptaan mereka.

Masih teringat di benak, obrolan para pelaku bisnis iklan berapa tahun lalu yang berbeda pendapat tentang materi iklan. Haruskah mereka ikut bertanggung jawab atas tontonan yang mereka buat? Dan sekarang ini, mereka yang berpendapat bahwa hak penonton untuk menilai mendapat kebebasan yang luas. Banyak tayangan yang sekilas tampak menghibur, justru merusak secara pelan, tetapi pasti.

Jadi, Guys, kalau kalian masih nonton televisi, menikmati medsos dan berbagai tayangan yang gampang kita akses, jangan jadi penonton yang gampang dicocok hidung. Jadilah penonton yang kritis memilih dan memilah agar tontonan unfaedah mati sendiri karena tidak laku. Bahkan, saat menonton iklan —sebab tayangan itu memang dibuat untuk membujuk, jangan sampai kita lengah dan tidak sadar lepas syariat.
Naudzubillah tsumma naudzubillah’ [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an