Header_Cemerlang_Media

Yang Muda yang Ikutan Seks Suka-suka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Novida Sari, S.Kom.
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Sebuah fakta mengejutkan datang dari kawula muda. Bukan prestasi negara, melainkan perilaku freedom para remaja. Catatan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan kalau usia remajanya negeri +62 sudah pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Untuk Gen Z sendiri sungguh mencengangkan, dari yang sudah melakukan seks bebas nih ya, terdapat 20% dari usia 14—15 tahun, 60% untuk usia 16—17 tahun, dan 20% untuk usia 19 sampai 20 tahun. Hal ini terungkap berdasar data Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) pada 2017 (liputan6.com, 6-8-2023). Lantas, apa yang harus dilakukan?

Penyebab Seks Bebas

Hasto Wardoyo selaku Ketua BKKBN mengungkapkan bahwa perilaku seks bebas yang kian B aja disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, kemajuan masa pubertas dan siklus menstruasi. Karena kebiasaan menstruasi orang dulu itu 17 atau 18 tahun, sekarang maju ke 12,5 tahun.
Kedua, pengaruh sosmed dan gaya pacaran. Jadi orang dulu itu jarang ketemu apalagi boncengan, palingan bertukar surat. Sementara kalau sekarang, komunikasinya jauh lebih intens. Jadinya boncengan bukan lagi hal yang tabu, bahkan angka pelaku pacaran yang pegangan tangan di atas 75%, yang ciuman sudah 25%, yang akhirnya mengantarkan kepada rangsangan emosional seksual.
Ketiga, faktor keluarga. Anak-anak yang broken home atau yang kurang kasih sayang itu sangat mungkin untuk terjerumus seks bebas.
Keempat, sistem pendidikan Indonesia yang belum menerima pendidikan dan bahaya seksualitas, apalagi warga Indonesia itu malas baca. Oleh karenanya, pihak BKKBN mendorong Kementrian Pendidikan atau Dinas Pendidikan untuk melegalkan pendidikan akan bahaya seks bebas.

Praktisi Psikologi Keluarga Nuzulia Rahma Tristinarum juga menanggapi penyebab tingginya data seks bebas remaja dikarenakan masalah mental ekonomi. Banyak remaja ingin punya uang dengan cara instan. Kemudian kurangnya kasih sayang orang tua, yakni quality time dan komunikasi dua arah, yang pada akhirnya membuat anak mencari kasih sayang di luar rumah (ameera.republika.co.id, 16-4-2023).

Di tempat lain, LPA Batam Erry Syahrial menyebutkan, tingginya angka remaja pelaku hubungan seks bebas akan berdampak pada tingginya pencabulan, pernikahan dini, kasus penjualan atau pembuangan bayi. Oleh karenanya, beliau meminta agar para orang tua menguatkan pendidikan karakter dan agama anak. Orang tua, sekolah atau guru harus berperan memberi edukasi pada anak (metrobatampos.com, 6-8-2023).

Buah Sekularisme Kapitalisme

Islam memandang perilaku seks bebas atas dasar suka sama suka sebagai perbuatan zina yang tercela. Nggak banget deh ngelakoni-nya. Namun, perilaku zina di kalangan remaja hari ini tidak lepas dari penerapan ide sekularisme kapitalisme.

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, selaku mujtahid kebanggaan Al Azhar abad ini mengatakan dalam kitabnya, Nizhomul Islam bab Thariqul Iman menjelaskan bahwa manusia akan berbuat sesuai dengan mindset-nya, mindset-nya ini sendiri dibentuk oleh pemikiran, dan pemikiran ini pasti dipengaruhi oleh ideologi ataupun jalan pikiran tertentu. Nah, jika dicermati pemikiran remaja dan masyarakat hari ini dipengaruhi oleh ide sekularisme kapitalisme yang menilai kebahagiaan itu dengan meraih materi (kapital), menjunjung tinggi kebebasan untuk kepuasan fisik tanpa batas, artinya dengan mengesampingkan agama.

Pola pikir inilah yang akhirnya membuat pola pikir, termasuk seks suka-suka oleh remaja yang angkanya kian mengkhawatirkan. Remaja menilai seks suka-suka itu ekspresi pemuasan sebuah hubungan yang indah di masa muda yang penuh warna.

Padahal ya, Sob, seks suka-suka bukanlah ekspresi cinta dan kasih sayang. Dalam Islam, ia dosa besar dan akibat nyata seks suka-suka bisa mengantarkan pada perilaku aborsi, kekerasan, penyakit kelamin, pelacuran, pembunuhan, dan sebagainya. Oleh karenanya, perilaku seks suka-suka yang meresahkan ini harus diberantas tuntas. Gimanapun, ini itu zina, Bestie. Dosa besar! Kita butuh perubahan mindset sekuler kapitalisme menuju mindset terbaik sejagat raya, yakni Islam.

Islam Mindset

Allah Swt. telah menjamin Islam itu sebagai rahmatan lil ‘alamin. Penegasan pengutusan sosok mulia, Rasulullah saw. sebagai jaminan atas apa yang dibawanya akan menjadi rahmat bagi sekalian alam (Tafsir Surah Al Anbiya: 107). Namun, jaminan ini tidak akan berlaku jika kita tidak menggenggam Islam itu sendiri sebagai jalan hidup.

Pengukuhuan Al-Qur’an yang menjadi sumber ketenangan hidup yang Allah Swt. sebut di surah Al-Baqarah ayat 2, harusnya menjadi penguat keyakinan bagi kita untuk memeluk erat Islam sebagai tata kehidupan khas yang menyelamatkan. Kekhasan Islam terdiri dari mindset (fikrah) dan cara perwujudan mindset (thariqah). Oleh karenanya, sistem pergaulan di tengah masyarakat dan remaja tidak akan bisa lepas dari mindset Islam dan sistem Islam itu sendiri. Sebab mustahil Islam akan tegak dengan mindset non Islam. Semustahil mindset Islam yang akan tegak dengan sistem selain Islam seperti sistem sekularisme kapitalisme hari ini.

Allah Swt. telah memberikan berbagai kebutuhan mendasar dan naluri secara fitrahnya. Salah satu naluri yang Allah Swt. berikan adalah gharizatun nau’ (naluri seksual). Naluri ini bertujuan untuk menjaga kelestarian manusia, jadi adanya ketertarikan pada lawan jenis itu pasti ada. Namun, perwujudan rahmatan lil alamin tidak akan terwujud, jika naluri ini tidak diatur dengan aturan yang pasti benar, yakni Islam. So, jika naluri ini datang, manusia kudu nikah, bukan dengan zina.

Lorong Pernikahan Dini

Allah Swt. memberikan ketenangan dan kesenangan kepada manusia dengan memiliki pasangan (QS Al A’raf: 189). Pasangan yang dimaksudkan tentu hubungan yang terikat dalam ikatan suci pernikahan. Namun, melalui revisi UU 1/1974 tentang pernikahan menjadi UU 16/2019, penetapan usia minimal warga yang diperbolehkan menikah naik dari 16 tahun menjadi minimal 19 tahun. Dengan kata lain, pernikahan kian dipersempit oleh lorong usia, menghambat para pemuda yang ingin menjaga izzah dirinya dengan pernikahan.

Di samping itu, pembatasan pernikahan para pemuda tidak didukung oleh support system dari negara. Media yang kian multidimensi justru tidak ada pembendung dan pem-filter sehingga pemuda tidak terbangkitkan gharizah nau’-nya. Bahkan Wakil Presiden Ma’ruf Amin justru berharap tren Korean Pop (K-Pop) mampu menginspirasi generasi muda Indonesia (nasional.tempo.co, 20-9-2020).

Bagaimana mungkin menginspirasi pada arah yang positif, sementara budaya K-Pop dibangun atas asas sekularisme liberalisme kapitalisme. Sesuatu yang diharapkan dapat menginspirasi, tentu harus diperhatikan. Nah, K-Pop sendiri sangat sarat akan konten yang membangkitkan gharizah nau’. Ditambah lagi, marak banget sama situs porno, suguhan di media televisi yang isinya membangkitkan nau’. Kalau pemerintah begini, lantas kita berharap kepada siapa?

Cegah Seks Suka-Suka

Islam punya rambu-rambu yang khas mengatur interaksi dengan lawan jenis. Kekhasannya itu terletak pada komprehensif (luas, menyeluruh) dan preventif (tindak pencegahan) ketika dijalankan. Nah, rambu-rambunya itu antara lain, menundukkan pandangan (ghadul bashar), menutup aurat saat berada di luar kehidupan khusus, perempuan safar ditemani mahram, nggak ber-khalwat alias berdua-duaan apalagi ikhtilat (campur baur), tidak keluar rumah tanpa izin wali, terus memisahkan kehidupan khusus wanita dan pria.

Laki-laki dan perempuan boleh bermuamalah seperti berjual beli, melakukan urusan pendidikan ataupun kesehatan sehingga yang dihasilkan adalah ta’awun alias tolong menolong. Nggak dikenal tuh, seks suka-suka. Andaikan seorang pemuda itu tergerak gharizah nau’nya, tetapi belum bisa melangsungkan pernikahan, maka pemuda itu kudu puasa.

Khatimah

Sayangnya, rambu-rambu Islam ini tidak dapat diterapkan di wilayah yang menerapkan ide sekularisme kapitalisme. Namanya juga sekuler, ya pasti nolak agama. Oleh karena itu, mindset Islam harus ditumbuhkan terlebih dahulu ke tengah-tengah benak pemuda dan masyarakat hari ini. Alhasil, kerinduan akan rahmat sekalian alam dari Islam itu diperjuangkan dengan sepenuh jiwa. Jadi, nggak ada lagi tuh yang muda yang ikutan seks suka-suka. Yang ada, pemuda-pemudi generasi emas peradaban yang dirindu surga. Masyaallah. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an