Giok Putih Nona Myeonghwa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Adine Azaria
Bab 9 Kepanikan Istana Manwoldae

CemerlangMedia.Com — Waktu sudah memasuki jam kuda atau waktu O-si (sekitar pukul 11.00 – 13.00), namun Kasim Toghan belum melihat tanda-tanda kembalinya Putra Mahkota Wang Won dan Nasan. Kasim Toghan segera menyusul ke dapur istana untuk mencari tuannya. Di dapur istana, kasim Toghan bertemu dengan Kepala Koki Istana bernama Han Yeom Chubang-gam (istilah jabatan untuk Kepala Dapur Istana). Setelah tersenyum dan bertegur sapa, kasim Toghan langsung bertanya,

“Tuan Han Yeom, apa Anda melihat Putra Mahkota ke mari tadi? Beliau bilang ingin jalan-jalan dan melihat-lihat dapurmu bersama Nasan tadi.”

“Oh, ya, benar. Tadi mereka berdua ke mari. Aku sempat menemaninya sebentar, lalu Yang Mulia Putra Mahkota memintaku untuk membiarkannya berdua saja dengan Nasan ke arah gudang penyimpanan rempah-rempah.” Jelasnya pada kasim Toghan.

“Lalu di mana mereka sekarang? Aku harus segera mengantar Yang Mulia Wang Won ke kediaman Yang Mulia Ratu.” Tanya Toghan dengan gelisah.

“Tadi masih di gudang rempah-rempah berdua Nasan. Sebentar, ayo kita lihat ke sana.” Jawab Han Yeom sambil mengarahkan Kasim Toghan.

Mereka mendapati gudang itu sepi tak ada siapa pun, hanya penyimpanan rempah-rempah saja. Seketika keringat dingin mengucurii dahi Koki Han Yeom. Raut wajah Kasim Toghan memerah dan akhirnya memarahi Koki Han Yeom.

Ia menggeledah gudang itu sebentar, dan menemukan jubah, mahkota, dan sepatu khas pangeran milik Wang Wong dan jubah, sepatu, serta topi kasim khas milik Nasan di dalam sebuah buntalan kain di pojok ruangan. Instingnya berkata, Wang Won kabur bersama Nasan dengan menyamar.

“Pasti Yang Mulia kabur dengan menyamar menjadi kurir pemasok. Apa kau punya daftar nama kurir yang rutin keluar-masuk istana hari ini dan dari mana saja mereka berasal? Berikan padaku, cepat!” Kasim Toghan memerintah dengan berteriak.

Koki Han Yeom menyerahkan setumpuk daftar nama dengan takut-takut. Dalam daftar itu, kasim Toghan mencari nama-nama dengan umur yang sepantaran dengan pangeran Wang Won dan dari mana mereka datang. Setelah itu mencatatnya dan menyimpan catatan tersebut di saku bajunya.

Sebentar lagi waktu makan siang dengan Yang Mulia Ratu, tetapi dia harus tetap melapor terlebih dahulu. Dia memerlukan izin otoritas dari Ratu Jeguk untuk mengirim beberapa pasukan kelompok pengawal untuk mencari Putra Mahkota. Dia sudah siap dengan risiko serta kemarahan dari Ratu Jeguk.

Kasim Toghan dan Koki Han Yeom bersujud sedalam-dalamnya di ruangan yang penuh dengan guci dan artefak mewah di kompleks Anjeong-gung, kediaman Ratu Jeguk. Beberapa guci sudah pecah karena terbanting akibat reaksi kemarahan Ratu Jeguk. Ruangan itu biasanya tenang dan damai, tetapi hari ini tegang dan panas seperti api kayu bakar. Semua orang tahu bahwa hilangnya putra mahkota berarti sama dengan ketegangan dan ancaman politik.

Di tengah ruangan, Ratu Jeguk berdiri dengan wajah pucat yang memerah dan mata berkaca-kaca, antara marah, sedih, dan ketakutan sebagai seorang ibu. Dengan tangan menunjuk-nunjuk pada bawahannya, Ratu Jeguk berucap dengan nada marah,

“Angkat kepala kalian! Coba ulangi apa yang kalian katakan tadi!”

“Hamba pantas mati, Yang Mulia …. Ini semua karena kelalaian hamba …. Hamba telah salah karena membiarkan Putra Mahkota pergi istirahat tanpa pengawasan hamba ….” Jawab kasim Toghan sambil menangis.

Tak kalah takutnya, Koki Han Yeom juga menjawab dengan gemetar, “Ya … Yang Mulia … sa, saya … mohon a … ampun pada … Yang Mulia …. I, ini … karena ke … kesalahan sa, saya juga … mem … biarkan… Pu, Putra Mahkota … ke gu, gudang … tanpa pe, pengawasan … sa, saya ….”

“Akan tetapi, Yang Mulia Ratu, saya menemukan pakaian luar Putra Mahkota dan seragam kasim milik Nasan. Saya kira mereka berdua kabur dengan berganti pakaian luar, menyamar sebagai kurir anak-anak yang rutin mengantar barang ke dapur istana. Saya sudah memeriksa catatan daftar nama kurir untuk hari ini, dan saya menemukan beberapa nama yang usianya sepantaran dengan Putra Mahkota. Ini dia catatan saya, Yang Mulia.” Kasim Toghan menjelaskan sambil menyerahkan daftar itu kepada Ratu Jeguk.

“Saya juga ingin meminta izin dari Yang Mulia Ratu agar saya dapat mengirimkan perintah dari Yang Mulia untuk mengutus pasukan pencarian guna mencari Putera Mahkota.” Lanjut kasim Toghan.

“Baiklah, kau kuizinkan, akan tetapi kalian berdua harus merahasiakan hal ini. Aku tidak mau seluruh istana panik dan gempar. Apalagi jika sampai diketahui oleh perdana menteri dan yang lainnya. Hanya kita, dan orang-orangku yang berada di sini yang boleh tahu kabar ini! Kalian mengerti?!”

“Kami mengerti, Yang Mulia.” Ucap Kasim Toghan dan Koki Han Yeom bersamaan.

Ratu Jeguk segera menulis surat izin perintah agar Kasim Toghan bisa memakai sejumlah pasukan pengawal istana, lengkap dengan stempel khusus ratu dan plat khusus dari perunggu berbentuk bulat dengan lambang burung phoenix, yang menandakan itu perintah resmi dan asli dari Ratu Jeguk.

“Ini kuserahkan pada kalian, terutama Anda, Kasim Toghan. Segera temukan putraku, atau aku sendiri yang akan menebas leher kalian di pengadilan. Ingat, ini amat, sangat, rahasia.” Ucap Ratu Jeguk dengan nada amarah yang tertahan dan mengancam, serta menatap bawahannya dengan sangat tajam.

“Baik, Yang Mulia. Kami akan berusaha sekuat tenaga menemukan Putra Mahkota dan merahasiakan masalah ini.” Jawab kasim Toghan mewakili.

Kasim Toghan pergi menuju Seungjeongwon (Kantor Sekretariat Kerajaan) untuk memberikan surat perintah rahasia, sementara Koki Han Yeom kembali ke dapur istana untuk mengantarkan makan siang ke seluruh keluarga kerajaan. Setelah segel Ratu Jeguk dipastikan sah keasliannya di Seungjeongwon, surat perintah tertutup itu langsung diteruskan kepada Eosade (pejabat untuk misi rahasia), kemudian lanjut ke pejabat militer tertentu. Semua yang dilalui alur surat rahasia itu merupakan orang-orang kepercayaan Ratu Jeguk yang sangat loyal. Dengan secepat kilat, tanpa menimbulkan kecurigaan, kegaduhan, dan tanda tanya, beberapa kelompok pasukan telah dilepas keluar istana dan segera berpencar mencari Sang Putra Mahkota.

Di lain pihak, orang yang sedang dicari-cari malah sedang asyik melihat-lihat warna-warni suasana Pasar Arabia yang wangi dan banyak camilan enak. Wang Won sudah mempersiapkan segalanya dengan teliti dan cermat. Tak hanya pakaian ganti, ia juga membawa uang yang cukup untuk berbelanja. Perasaan Kasim Nasan campur aduk. Dia senang karena melihat tuannya juga senang. Namun, tidak dimungkiri, dia juga merasa was-was dan khawatir. Saat ini Kasim Toghan pasti sedang kewalahan. Yang Mulia Ratu sedang marah besar. Dan kemungkinan besar orang-orang dari istana sudah dikerahkan untuk mencari mereka. Samir, si anak berkulit gelap itu telah menjadi semacam pemandu wisata untuk memuaskan rasa ingin tahu Putra Mahkota. Dia tentu senang melayaninya karena kini telah mengantongi bayaran emas dan perak yang telah dijanjikan.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 11

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *