Penulis: Annisa Wayyu
Aktivis Muslimah
Sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslim di seluruh dunia, khususnya para penguasa muslim untuk mengirimkan militernya dalam rangka melakukan perlawanan, yaitu jihad fii sabilillah. Sebab, solusi atas permasalahan saudara muslim di Palestina tidak akan bisa diraih melalui meja perundingan, melainkan melalui kekuatan militer yang mampu mengusir para penjajah.
CemerlangMedia.Com — Hari ini, dunia kembali melihat pengkhianatan yang dilakukan Zi*nis Israel. Sejak diberlakukannya gencatan senjata yang telah disepakati pada Oktober 2025 lalu, Zi*nis Isra3l setidaknya telah melakukan 399 pelanggaran hingga menyebabkan 309 warga Palestina syahid. Selain itu, terdapat upaya Zi*nis yang terus memblokir obat-obatan hingga peralatan medis yang dibutuhkan oleh warga Palestina di situasi bencana kesehatan yang makin parah (Republika.com, 21-11-2025).
Kondisi ini makin memburuk saat hujan turun di musim dingin. Tenda-tenda pengungsian terendam, memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Banyak warga Gaza, terutama anak-anak terancam kesehatannya karena sulitnya akses bantuan kemanusiaan yang masuk. Kelaparan dan situasi serba terjepit di sekitar perbatasan “Garis Kuning”, yaitu garis pemisah antara area yang dikendalikan militer Zionis dan wilayah yang masih boleh diakses warga Palestina, membuat ruang gerak mereka untuk mencari tempat pengungsian menjadi sangat terbatas.
Ilusi Gencatan Senjata dan Pengkhianatan Penguasa Muslim
Genosida yang terjadi pada warga Palestina tidak hanya berlangsung sejak dua tahun lalu, tetapi telah dimulai sejak 77 tahun yang lalu. Kondisi ini terus berlanjut hingga memperlihatkan kehancuran sistematis. Mulai dari hancurnya bangunan fisik seperti rumah penduduk, gedung perkantoran, sekolah, dan rumah sakit.
Ditambah lagi dengan upaya Zi*nis dalam melakukan pemusnahan massal dengan mengambil hak hidup warga Gaza, menahan pasokan makanan sehingga warga kelaparan, melakukan pengeboman serta pembunuhan secara sistematis. Situasi ini terus dipertontonkan kepada dunia hingga mengundang kecaman masyarakat internasional. Hanya saja, kenyataan pahitnya adalah dunia tidak bisa berbuat apa-apa karena sistem dunia hari ini hanya mengenal satu hal, yaitu kepentingan, bukan kemanusiaan, apalagi keimanan.
Solusi gencatan senjata yang diberikan melalui persetujuan proposal Trump yang berisi perjanjian damai antara Hamas dan Isra3l, tampaknya seperti ilusi untuk menenangkan masyarakat dunia. Seolah-olah, Gaza sudah menemukan hak-haknya kembali, padahal realita di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Pada saat yang sama, pesawat ke-1.000 yang membawa pasokan senjata telah mendarat di Bandara Ben Gurion. Kementerian Pertahanan Israel menyebut kedatangan ini sebagai bagian dari bantuan militer yang masih terus mengalir. Bantuan tersebut tetap bebas masuk untuk menyuplai logistik perang bagi Zionis.
Kontras dengan itu, Presiden Turki menerbitkan surat penangkapan PM Israel Benyamin Netanyahu sebagai orang yang bertanggung jawab atas genosida di Gaza. Namun, surat ini pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan kecaman para penguasa negeri-negeri muslim lainnya karena tidak ada tindakan tuntas untuk menyelamatkan saudara-saudara muslim di Gaza.
Bahkan, banyak penguasa muslim yang terlibat sebagai negosiator dalam upaya gencatan senjata maupun solusi dua negara bersama negara-negara Barat pendukung Zi*nis. Alih-alih menciptakan kedamaian, langkah ini justru memberikan akses bagi para penjajah Barat untuk makin menguasai kedaulatan Palestina. Solusi dua negara yang dijadikan jalan tengah pun makin menampakkan pengkhianatan para penguasa muslim karena secara tidak langsung mendukung usaha para penjajah untuk menduduki kedaulatan wilayah Palestina.
Palestina Butuh Jihad dan Perisai Umat
Perundingan terhadap upaya gencatan senjata yang mengantarkan pada solusi dua negara secara tidak langsung memberi pengakuan terhadap penjajah Zi*nis. Hal itu tidak hanya bertentangan dengan akal dan kemanusiaan, tetapi ini juga bertentangan dengan syariat Islam.
Dalam Islam, tidak dikenal istilah negosiasi dalam perihal penjajahan terlebih lagi terjadi pada kaum muslim. Penjajah adalah musuh yang wajib untuk diperangi dan diusir. Allah Swt. dalam firmannya,
“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah kalian melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai kaum yang melampaui batas. Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (TQS Al-Baqarah [2]: 190-191).
Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi juga menyampaikan bahwa jika kaum kafir menduduki suatu negeri kaum muslim, maka penduduk negeri itu wajib memerangi kaum kafir tersebut. Jika mereka tidak mampu, kewajiban itu meluas kepada kaum muslim yang ada di negeri sekitarnya (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 9/228).
Hal ini mempertegas bahwa sejatinya serangan terhadap kaum muslim di Palestina pada hakikatnya merupakan serangan terhadap seluruh kaum muslim di dunia. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslim di seluruh dunia, khususnya para penguasa muslim untuk mengirimkan militernya dalam rangka melakukan perlawanan, yaitu jihad fii sabilillah. Sebab, solusi atas permasalahan saudara muslim di Palestina tidak akan bisa diraih melalui meja perundingan, melainkan melalui kekuatan militer yang mampu mengusir para penjajah.
Solusi ideal ini akan tercapai ketika umat mau membuang kepentingan-kepentingan yang terbentuk akibat sekat-sekat nasionalisme dan beralih kepada persatuan umat yang hakiki di bawah kepemimpinan Daulah Islamiah. Daulah Islamiah ini bukan hanya menjadi simbol persatuan umat, tetapi juga memimpin umat dengan kekuatan dan keadilan sehingga terbentuklah perisai umat yang melindungi seluruh umat Islam di dunia.
Wallahu a’lam bisshawab [CM/Na]
Views: 27






















