Lumpur bencana tidak boleh dibiarkan mengubur masa depan generasi penerus. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama guna melahirkan generasi khairu ummah yang siap mengelola sumber daya alam sesuai syariat demi kesejahteraan manusia.
CemerlangMedia.Com — Banjir bandang di Aceh menyisakan luka mendalam bagi dunia pendidikan. Ratusan sekolah di Aceh Utara kini lumpuh total akibat timbunan lumpur pekat. Kerusakan ini bukan sekadar persoalan alat tulis yang hilang, komputer yang hancur, atau ribuan buku yang melapuk.
Laporan portal daring menyebutkan bahwa 120 pesantren di Aceh Timur turut roboh, institusi yang merupakan pelita ilmu sekaligus rahim bagi lahirnya generasi rabbani. Bukan hanya bangunan fisik yang hilang, melainkan juga rumah bagi pembentukan adab anak bangsa. Saat ini, seluruh aktivitas pendidikan di wilayah terdampak benar-benar terhenti (15-1-2026).
Melihat fakta tersebut, pemulihan ratusan fasilitas pendidikan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Tanggung jawab pemulihan sepenuhnya berada di tangan negara dan tidak boleh dibebankan kepada masyarakat yang sedang menjadi korban. Nasib pendidikan anak-anak harus dijamin secara komprehensif. Tidak hanya mencakup renovasi fisik gedung, tetapi juga pemulihan mental serta penguatan kepribadian agar tetap kokoh di tengah cobaan.
Peran sekolah dan pesantren di Aceh sangat krusial sebagai benteng pertahanan akidah. Institusi pendidikan bertugas mendidik generasi muda untuk memahami peran manusia sebagai khalifah fil ardh (pengelola bumi) yang bertugas menjaga keseimbangan alam, bukan merusaknya demi kepentingan materi sesaat yang kerap menjadi pemicu bencana ekologis.
Dalam pandangan Islam, negara berkewajiban menjamin hak pendidikan gratis dan berkualitas, termasuk keberlangsungannya dalam kondisi darurat. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam harus menjadi perhatian utama agar pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah islamiyah) tidak tertunda akibat kendala birokrasi pascabencana.
Aksi nyata pemerintah sangat dibutuhkan untuk segera memulihkan seluruh sekolah dan pesantren terdampak tanpa diskriminasi. Lumpur bencana tidak boleh dibiarkan mengubur masa depan generasi penerus. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama guna melahirkan generasi khairu ummah yang siap mengelola sumber daya alam sesuai syariat demi kesejahteraan manusia.
Yanti Fariidah
Founder Rumah Pintar ZR Magelang [CM/Na]
Views: 5






















