Lintang di Langit Mahameru

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: D’Ikhty
Bab 3 Kotak Es

CemerlangMedia.Com — Bimo menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Tak boleh. Jangan ada yang tau keadaan aku sekarang. Aib… aib,” gerutu Bimo sembari memikirkan cara untuk mencari tahu apa saja yang diketahui Citra.

Mata Bimo melirik kawan sebangkunya. Aditama mengeluarkan ponsel dari laci sembari tersenyum tipis melihat wajah Bimo yang tampak kebingungan.

“Ngapain kau senyum-senyum?” Bimo mendekatkan wajahnya ke arah Aditama.

Aditama mengernyitkan sepasang alis dan mendorong wajah Bimo. “Senyum itu bisa menetralisir kebingungan,” ledek Aditama.

Bimo bertambah kesal dengan jawaban Aditama, tetapi tak kuasa bersitegang lebih jauh. Lebih tepatnya, Bimo tak ingin mengusik singa yang sedang tidur. Ia pun bangkit dari bangkunya, bermaksud membuang kesal.

Aditama mengambil headphone over-ear dan memasangkan di kedua telinga. Sebuah benda berlayar pipih diambilnya dari laci meja. Aditama mulai menikmati irama lagu Stecu-Stecu milik Faris Adam. Lagu dari Timur dengan beat tinggi dan bass drop yang menghentak tersebut memang sedang populer.

Nada lagu yang cepat dan tajam membuat kepala Aditama turut bergerak naik turun bak jarum jam yang menemukan tempo baru. Sesekali ia mengetuk meja dengan jemari sambil menghentakkan kaki layaknya sedang memainkan drum.

Setelah kertas jawaban terkumpul, Citra bergegas melangkahkan kaki menuju ruang guru. Para siswa riuh membahas soal yang cukup rumit. Hanya tiga soal, tetapi tidak ada yang puas dengan jawaban masing-masing. Akhirnya, mereka menyerah dan menyibukkan diri dengan ponsel masing-masing.

“Oi, anak baru!” Bimo kembali mampir di meja Lintang.

“Maaf, namaku bukan anak baru,” ketus Lintang sambil mengelus-elus buku di tangannya.

“Ok lah. Lintang, aku tadi liat kau macam santai kali. Bukannya kau dari kampung? Tapi macam sok pandai kali jawab soal! Atau … jangan-jangan … kau kumpul duluan, sebab tak bisa jawab, ya? Hahaha ….”

Lintang menutup buku Olimpiade Sains Nasional (OSN). “Memangnya, orang kampung gak boleh pinter? Jangan telalu hobi remehin orang lain, kawan. Oh, ya. Nanti, pulang sekolah belilah cermin, biar bisa ngaca. Biar bisa nilai diri sebelum nilai orang lain.” Lintang yang sementara duduk harus mendongak untuk beradu mata dengan Bimo.

Lintang mengalihkan pandangan ke arah Beryl. “Ryl, ngomong-ngomong … kertas siapa, ya, yang tadi putih bersih seputih kapas? Alias kosong melompong?” Lintang kembali menatap Bimo dengan sorot menantang, membuat nyali Bimo sedikit menciut.

“Gadis ini kelihatan lugu, tapi ternyata bisa melawan juga. Sial!” pikir Bimo menggigit bibir sambil mencari celah untuk menjatuhkan Lintang. “Kau ini berjilbab, tapi bicaramu sarkas!”

Lintang menjeling kemudian menjatuhkan pandangan ke arah buku di tangannya. Ia tak ingin melanjutkan perdebatan receh, tetapi bisa menguras emosi. Ia memilih tak menanggapi dan menyibukkan diri dengan membuka lembaran buku di depannya.

“Ah, percuma aja kau rajin belajar … tetep ndak mampu ngalahin PraGus dan Addara. Sang Juara sekolah.” Bimo menyilangkan kedua lengan dengan gaya angkuh, sementara Lintang mengernyitkan dahi saat mendengar nama sepupunya disebut.

“Bimo, lu aneh, tau! Orang lain yang jago, tapi lu yang songong!” tandas Beryl.

Lintang melempar senyum ke arah Beryl sebelum mengalihkan pandangan ke arah jendela.

Tak ingin kalah dengan dua gadis di depannya, Bimo hendak melanjutkan perang narasi. Namun, tiba-tiba lengan Aditama menggamit leher Bimo dan membawanya keluar kelas. Bimo dengan tinggi 155cm tak berkutik melawan Aditama dengan tinggi 169cm.

“Ado-do-do-do. Ampun, Dit ….”

Lintang terperanjat. Sepasang matanya mengikuti pergerakan kedua siswa hingga menghilang di balik pintu.

“Lintang, lu tadi bisa ngerjain soal gak?” sapa Beryl sambil memperbaiki poni yang mulai berantakan.

“Alhamdulillah, bisa. Tapi, gak tau sih, bener apa gak? Hehehe.”

“Hmm, usai jam pelajaran nanti, ajarin gue matematika, dong,” pinta Beryl menangkupkan kedua telapak tangan.

“Ok!” Lintang menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O sementara tiga jari lain ditegakkan.

Mendapat teman yang mau menyapa di hari pertama masuk sekolah merupakan hal paling patut disyukuri bagi Lintang. Apalagi teman lain terlihat cuek dan masing-masing sibuk dengan ponsel. “Satu kawan cukuplah untuk memulai beradaptasi di sekolah baru,” pikirnya.

Duduk di pinggir jendela membuat Lintang mudah untuk mengintip suasana di luar kelas. Tirai vertikal berbahan PVC tampak tegar menutupi jendela kelas dari teriknya matahari. Ia hanyut menikmati pemandangan ujung pohon pucuk merah yang meliuk-liuk tersapu angin. Di gedung sebelah, beberapa pohon glodok tiang dan cemara menari-nari di tengah sengatan matahari.

Matahari mulai menggantung tinggi, tetapi Lintang kedinginan. Gadis itu belum terbiasa dengan ruangan ber-AC hingga rasa menggigil harus dilaluinya. Lintang melirik siswa lain yang terlihat enjoi berada di ruangan yang begitu dingin.

“Kenapa mereka terlihat menikmati sekali berada di kotak es ini?” pikirnya heran melihat siswa lain bisa santai di dalam ruang berbentuk kotak raksasa yang dingin.

Lintang menyembunyikan kedua lengan di balik kerudung, berharap tubuhnya bisa lebih hangat. Pakaian dua lapis dan kaos kaki sebetis turut menutupi auratnya lebih sempurna. Namun, hawa dingin yang berasal dari dua unit AC 2PK yang menggantung di dinding mampu menembus hingga pori-pori kulit.

Sejak mengikuti kajian rutin di kampung, Lintang mulai memahami setiap muslimah wajib memakai pakaian syar’i saat keluar rumah. Tak cukup satu lapis baju, tetapi musti dilapisi jilbab, yaitu pakaian terusan longgar layaknya gamis yang menutupi seluruh tubuh. Kerudung yang dipakai pun selalu menutupi bagian dada.

Sepasang mata Lintang iseng memerhatikan siswi lain. Diedarkan pandangan dari bangku depan sampai belakang. Di kelasnya tak ada siswi berhijab, kecuali dirinya. Dari 13 siswi, semuanya memakai rok di atas lutut dan kemeja pres bodi. Terkecuali Beryl yang memakai rok di bawah lutut dengan kemeja sedikit longgar.

“Kulit mereka setebal apa, ya? Udara sedingin ini tidakkah mereka rasakan?” gerutunya dalam hati.

“Teman-teman … ada info bagus.” Tanpa jejak suara kaki, Citra sudah di depan kelas. “Bulan depan ada olimpiade. Hadiah olimpiade kali ini sangat menggiurkan. Bagi kalian yang berminat, silakan persiapkan diri. Nanti, usai ulangan semester ganjil akan ada seleksi. Bagi siswa yang lolos seleksi akan diikutkan dalam olimpiade.”

“Cit, mata pelajaran apa saja yang dikutsertakan dalam olimpiade?” tanya Daren.

“Tunggu info berikutnya.” Citra duduk di kursinya.

“Lintang kayaknya jago matematika, deh. Diikutkan saja,” bisik Beryl.

“Hmm, betul. Tadi aku lihat jawaban ulangannya rapi dan terstruktur. Khusus matematika, kayaknya Pak Heru yang seleksi langsung, deh,” Citra balik berbisik.

“Aku harus ikut olimpiade. Setidaknya bisa lolos seleksi, demi mematahkan anggapan orang-orang kota bahwa orang kampung itu bodoh,” ucap Lintang dalam hati.

***

[CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *