Lintang di Langit Mahameru

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: D’Ikhty
Bab 4 Terbakar Api Cemburu

CemerlangMedia.Com — Matahari menggantung rendah di langit, bersiap menyambut malam. Cahaya keemasan dari barat menyembur ke sudut-sudut perumahan elite, Infinity Residences. Bayangan rumah-rumah modern memanjang di atas jalan seolah-olah sedang menari mengikuti arah angin. Meski di pusat kota, perumahan elite tersebut dikelilingi pepohonan tinggi dan aneka jenis bunga yang mampu menyaring udara agar tetap segar.

Untuk pertama kalinya Lintang menyaksikan Oyeng dan Puty berkejaran mengelilingi taman. Kedua ekor kucing itu melompat kegirangan menikmati harum dan indahnya mawar yang bermekaran. Oyeng berlari melesat seperti anak panah hingga menabrak kaki Lintang. Puty terkejut melihat kawannya melakukan kesalahan. Namun, hati Lintang justru luluh melihat Oyeng mendengkur halus sembari memasang muka memelas.

“Dasar budak-budak berbulu. Kau mau minta maaf?” tanya Lintang meluruskan jari telunjuk ke hidung Oyeng. Kucing itu mengeong dan kembali berlari disusul Puty.

Aroma wangi bawang goreng dan sambal menguar saat sepasang kaki Lintang sampai di pintu rumah. Lantai marmer berkilau menyambut siapa pun yang datang. Sebuah lampu gantung kristal berukuran jumbo tergantung di tengah ruang tamu berukuran 5m x 8m.

Baru tadi malam Lintang menginjakkan kaki di rumah mewah milik pamannya, Danu. Neneknya meninggal tiga pekan lalu, sementara kedua orang tuanya lebih dulu meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan.

Saat orang tuanya meninggal dunia, Lintang masih berusia lima tahun. Setelah itu, Lintang hidup bersama kakek-nenek dari ayah. Setahun lebih sang kakek berpulang, sang nenek pun kini menyusul. Mau tak mau, Lintang ikut Danu, adik kandung ayahnya selaku pihak yang bertanggung jawab memberi nafkah.

Lana, istri Danu sementara duduk di sofa panjang saat Lintang memasuki rumah.

“Assalamu’alaikum.” Salam Lintang dijawab Lana yang sedang menyulam.

Addara terlihat cuek melihat Lintang masuk rumah. Ia duduk santai sambil membalas komentar di Instagram. Postingan terakhirnya, saat jalan-jalan di Pantai Aloha Pasir Putih, di PIK 2 Tangerang, Banten ternyata mencuri perhatian netizen. Di ruang tengah ada Lucky, adik Addara yang sedang asik bermain game di karpet sambil memeluk bantal beludru.

“Aih, jam begini baru pulang.” Addara melirik sepupunya kemudian kembali menatap layar pipih di genggamannya.

Lintang mengulurkan tangan kanan di hadapan Lana. Uluran tangan itu bersambut hingga ia pun bisa mengecup punggung tangan tantenya.

“Lintang, dari mana saja kamu? Hari pertama sekolah, tetapi sudah berani terlambat pulang? Emangnya kamu dah hafal jalan di sini? Kenapa gak pulang sama-sama dengan Addara? Kamu mikir gak, kalau nanti ada apa-apa, kami juga yang repot.” Pertanyaan Lana beruntun bak sedang menginterogasi terduga kasus kriminal.

Lintang menengok sepupunya sejenak sambil menggamit kedua bibir. “Bukannya tadi Addara yang suruh Mang Dadang cepat-cepat pulang dan mengabaikanku? Hmm, dia pasang muka ‘tak bersalah’ lagi, di depan mamanya.”

Lintang meletakkan ransel yang sedari tadi melekat di punggung dan duduk di samping tantenya. Meski usianya sudah kepala empat, Lana terlihat masih muda sepuluh tahun. Kulitnya mulus dan glowing karena rajin perawatan. Saat duduk bersebelahan dengan Addara, lebih cocok sebagai kakak-adik, bukan ibu-anak.

“Maaf, Tante. Tadi habis ulangan matematika. Teman-teman merasa kesulitan menjawab soal. Jadi, kami belajar bareng membahas soal ulangan tadi. Tapi, tadi Lintang kirim pesan, minta izin ke Paman Danu, kok.”

“Ma, apa yang Addara bilang benar, kan? Kasihan Lintang, harus kerja keras beradaptasi dengan siswa Budi Mulia. Untung gak masuk kelas unggulan.” Addara tertawa.

“Dara! Jaga sikap kamu!” Lana tak kuasa untuk menegur Addara yang mulai tak sopan.

“Ma, kok Mama bela dia?” tanya Addara emosi.

Lana meremas lembut telapak tangan Lintang. “Kamu pasti lapar. Bi Lastri kayaknya udah selesai masak, tuh. Kamu mandi dulu, nanti lanjut makan, ya?” katanya mengelus lengan Lintang.

Lintang baru hendak berdiri saat Danu mengucap salam. Cermin hias hexagonal di dinding ruang tamu memantulkan wajah letih Danu. Kemeja putihnya kusut bak peta yang dipenuhi garis tak beraturan. Lelaki itu menarik ujung kemeja bagian bawah agar terlihat lebih rapi. Namun, kusutnya membandel. Kerah baju yang miring kompak dengan ujung lengan yang tertekuk.

Meski lelah, Danu masih bersedia menyunggingkan senyum untuk menyenangkan anggota keluarganya. “Lintang, tadi Paman mampir ke butiknya Bu Irene untuk membeli beberapa pakaian. Ukuran badan kamu kayaknya sama dengan Addara, kan, ya? Ini, Lintang ambil dan coba pake, ya, semoga muat.” Danu meletakkan lima paper bag di meja.

Mata Addara menyipit tanda kesal tingkat tinggi. “Papa! Punya Addara mana?”

“Baju kamu kan dah banyak, Ra. Andai baju-bajumu bisa bicara, mereka akan berteriak merasakan sesak napas karena saling terimpit.” Ucapan Danu tak salah, mengingat Addara sendiri punya dua lemari dengan tiga pintu. Masing-masing lemari penuh tumpukan baju.

“Emm …, terima kasih, Paman. Lintang boleh liat-liat dulu, ya?” Senyum Lintang disambut anggukan hangat Danu.

Addara membelalakkan mata saat sepupunya mengeluarkan pakaian ala butik dari paper bag. Longdress salem dengan krah sabrina merupakan model baju yang selama ini diimpikan Addara. Ada satu lagi baju yang menarik perhatian Addara. Terusan pendek perpaduan warna biru langit di bagian kiri dan putih di bagian kanan. Reflek, Addara mendekati sepupunya untuk meraih kedua baju tanpa permisi.

“Pah, Papa. Kemarin kan Addara minta dua model baju ini. Kok malah dikasih sama Lintang?”

“Kamu, kan, bisa beli lagi nanti.” Danu berkelit.

“Stok pakaian di butiknya Bu Irene selalu limited edition, Pah. Biasanya, masing-masing model cuma satu helai. Kalaupun ada, nunggunya bakalan lama ….”

Sikap manja Addara membuat Lintang kikuk. “Paman, mungkin lebih baik ini untuk Addara saja. Lintang belum butuh baju karena baju lama pun masih bagus-bagus.” Lintang melipat baju yang sempat dibongkar kemudian memasukkan kembali ke dalam paper bag.

“Harga baju satu biji aja sampe jutaan, terlalu mahal, lengannya pendek pula. Hmm, sayang kalau dipakai dalam rumah, tapi gak mungkin juga kalo dipakai keluar rumah. Bajunya juga terlalu panjang. Ukurannya lebih cocok untuk Addara,” ungkap Lintang dalam hati.

“Addara, kenapa kamu gak bisa ngalah sama saudaramu? Papamu cuma pengin belikan Lintang sesuatu. Tolong bersikap dewasalah.” Lana berusaha berucap selembut mungkin, tetapi Addara tak merespons.

“Kalau gitu, Paman kasih uang tunai aja, ya. Terserah Lintang mau dipakai untuk beli baju atau keperluan lain.” Danu mengambil amplop putih dari tas laptop dan mengeluarkan sebagian isinya kepada Lintang. “Paman kasih lima juta dulu, cukup, ya?”

“Baik, terima kasih, Paman.”

Addara duduk mematung. Tatapannya mengeras saat melihat amplop itu berpindah ke tangan Lintang. Jemarinya mengepal, sementara dadanya terasa panas oleh perasaan yang sulit diucapkan. Matanya masih terpaku pada amplop di tangan Lintang, lalu beralih ke wajah gadis dari kampung itu. Ia berusaha berpaling, tetapi pandangan kembali tertuju ke arah Lintang.

“Ma, lihat! Papa lebih sayang Lintang dari pada Addara.” Api cemburu mulai membakar diri Addara.

“Addara! Jaga ucapanmu!” teriak Danu.

Addara terkejut mendengar suara papanya yang meninggi. Selama ini, Addara jarang sekali digertak maupun dikasari. Rasa cemburu, marah, dan kecewa bercampur di hati Addara. Belum genap satu hari Lintang tinggal di rumah itu, Addara sudah merasa tersaingi.

“Gue musti cari cara untuk menyingkirkan anak kampung ini. Kalau tidak, perhatian Papa tak lagi untuk gue. Uang Papa akan terkuras habis karena harus memenuhi semua kebutuhannya. Huh! Baru satu hari saja sudah menyihir Papa dan Mama. Tunggu aja!” Pikiran jahat mulai merasuki akal Addara.
***

[CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *