#30HMBCM
Oleh: D’Ikhty
Bab 5 Gelang Mutiara
CemerlangMedia.Com — “Dara …! Addara!” panggil Lana dengan suara tinggi.
“Ya, Ma.” Addara menyembul dari balik pintu kamar.
“Kamu lihat gelang Mama, gak? Tadi siang Mama taruh di atas nakas, tapi kok ini gak ada.” Ibu dua anak itu gusar mencari gelang mutiara kesayangan. Lana mengernyit seraya berpikir, “Tak mungkin hilang.”
Ia sangat yakin telah meletakkan gelang di atas nakas bersama kotaknya. Lana berulang kali mengecek di bawah nakas dan membuka laci. Namun, hasilnya nihil. Ia pun mulai berinisiatif mencari di sudut-sudut kamar, di bawah bantal, meraba sela-sela tempat tidur dan kursi sofa panjangnya. Akan tetapi, hasilnya tetap sia-sia.
Detak jantung Lana memburu. Perhiasan dari mutiara air laut itu bukan hanya mahal, tetapi juga memiliki kenangan hangat karena merupakan hadiah pernikahannya dengan Danu.
“Ma, tadi Addara liat Lintang lewat kamar sini dan keliatannya memegang sesuatu. Mama coba tanya aja, mungkin Lintang tau keberadaan gelang itu.” Dengan nada lembut, Addara mencoba meyakinkan mamanya.
Istri Danu itu mengabaikan perkataan Addara. “Addara! jangan bicara sembarangan! Tak mungkin Lintang berani mengambilnya!”
Lana berlutut untuk menyingkap karpet bulu kemudian mengintip di bawah ranjang. Napasnya terasa berat setelah menunduk lama, tetapi tak mendapati benda yang dicari. Rambut yang dibentuk sanggul mini mulai berantakan. Setelan kebaya modern yang berpadu rok sebetis yang sebelumnya rapi, kini berubah kusut.
“Ma, kenapa Mama tak percaya Addara?”
Lana berdiri sejenak. Terjadi perang antara pikiran dan batinnya. “Tak mungkin Lintang yang polos itu mengambil barang tanpa minta izin. Tapi, tak ada salahnya untuk sekadar bertanya, bukan?” pikirnya.
Sepasang kaki Lana mulai berkejaran menaiki tangga menuju kamar Lintang.
“Eh, Tante?” Lintang terkejut mendapati tantenya masuk tanpa izin. Di belakang Lana ada Addara yang memasang mimik tak bersahabat. “Ada apa, Tan?”
Wanita berusia 42 tahun itu tampak ragu untuk bertanya, tetapi akhirnya keluar juga suara dari mulutnya. “Lintang tadi masuk kamar Tante, tidak?”
“Hmm, sepulang sekolah tadi hanya duduk di ruang tamu dan langsung masuk kamar sini, Tan. Lintang juga belum turun makan malam soalnya mau beresin baju dan barang-barang ini dulu.” Gadis itu menunjuk koper berisi barang-barang dari kampung halaman. Senyum polos Lintang membuat Lana ragu untuk bertanya lebih jauh.
Addara melihat gestur mamanya yang mulai ragu. Tak mau kesempatan emas untuk menjatuhkan Lintang hilang, ia mengambil cara kilat untuk membongkar keberadaan gelang mutiara milik mamanya.
Langkah cepat Addara menuju meja rias dan menarik laci tanpa permisi membuat Lintang tersentak. “Apa yang mau dia lakukan?” pikir Lintang bingung.
“Ma, lihat!” Addara mengambil kotak perhiasan berisi gelang mutiara dan menunjukkannya kepada mamanya.
“Lintang! Tante gak nyangka kalau kamu berani mencuri barang Tante!” Suara keras Lana membuat Lintang makin bingung. Sore tadi, Lana terlihat lembut. Hanya berselang beberapa jam, sikapnya berubah total hanya karena mendengar cerita sepihak.
Waktu terasa terhenti. Kabut tebal seolah menutupi pikiran Lintang hingga sulit untuk menemukan jawaban tentang apa yang sedang terjadi.
“Tapi, Tan! Bukan Lintang yang mengambilnya!” tegas gadis yang sementara duduk di kursi di samping meja rias.
“Mana ada maling ngaku!” tandas Addara sinis.
“Tan, Lintang aja belum sempat buka laci ini. Bagaimana Tante dan Addara menuduh Lintang menyimpan perhiasan di laci?” Lintang berupaya membela diri.
Dering telepon milik Lana menghentikan pertikaian panas. “Iya, Pah. Ini Mama sudah siap mau turun.” Lana mematikan telepon.
“Addara, cepat! Papa sudah nunggu di mobil!” Lana menarik lengan putrinya. Langkah dua wanita itu terdengar berisik saat menuruni anak tangga.
Hati Lintang memanas, meski suhu udara malam sangat dingin. Ekspresi wajah yang terbentuk saat menarik bibir atasnya membayang jelas senyuman sinis.
“Apakah ini ulah Addara untuk menjatuhkanku? Hmm, kok jadi berasa masuk dalam cerita drakor, ya?” ujar Lintang bermonolog.
Terdengar bunyi dari dalam perut sebagai tanda protes tubuh Lintang. Bunyi itu menyadarkan bahwa ia belum makan sejak tadi siang. Aroma bawang goreng dan sambal tadi sore kembali membayang. “Hmm, masih ada makanan tidak, ya?”
Suasana rumah lengang hingga langkah kaki halus Lintang terdengar lebih jelas. “Tinggal di rumah ini mah, tak perlu diet-diet, soalnya tiap hari naik turun tangga.”
“Bi … Bi Lastri ….” Lintang menengok ke kanan dan ke kiri mencari sosok asisten rumah tangga di rumah itu.
Wanita paruh baya yang dipanggil pun keluar dari kamar. “Iya, Neng. Ada yang bisa Bibi bantu?”
“Bi, masih ada makanan tidak, ya? Lintang lapar dari siang belum makan.”
“Oh, masih ada, Neng. Ada di meja dapur. Emm, tapi kayakanya udah dingin. Apa perlu Bibi panasin?”
“Gak usah, Bi. Gak apa apa mah … kalau cuma dingin, yang penting bisa mengisi perut yang dari tadi ribut.” Lintang tertawa renyah sambil memeluk lengan Lastri. “Bi Lastri, temani Lintang makan, boleh tidak?”
Lastri kikuk saat lengannya digamit Lintang. Addara yang diasuh sejak bayi saja tak pernah melakukan hal seperti itu. Tak terasa air meleleh dari kelopak mata Lastri.
“Lah, kok Bibi nangis?”
“Eh, enggak, kok, Neng. Ayo Bibi temani makan.” Lastri mengelap air mata lanjut menemani Lintang makan.
Rumah itu memiliki dua set meja makan. Satu set meja makan panjang berisi sepuluh kursi ada di ruang makan utama. Sedangkan satu set meja makan lainnya berisi empat kursi yang terletak di dapur. Biasanya, Lastri dan Dadang makan di meja makan yang ada di dapur.
“Masakan Bibi ternyata luar biasa, ya, lezatos!” Seperti biasa, Lintang suka menggoyangkan kepala saat menikmati makanan lezat.
“Aduuh, Neng Lintang ternyata pandai memuji.”
“Tapi, ini memang beneran lezat, Bi. Bahaya kalau Bibi tiap hari masak makanan enak kayak gini. Badan Lintang bakal membengkak. Hihihi.” Lintang menutup mulut menyembunyikan volume tawa.
Tawa Lintang ternyata menular ke Lastri. Kedua wanita itu saling bersenda gurau seolah sudah saling kenal lama. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan sepiring nasi beserta udang saos merah dan sayur kangkung. Usai makan, Lintang membawa piring kotor ke tempat cuci piring yang menyatu dengan kitchen set.
Kitceh set itu memiliki laci-laci yang tertutup rapat, tetapi akan bergerak halus saat ditarik. Lintang penasaran dengan isi di dalam masing-masing laci. Saat membuka salah satu laci, tampak deretan peralatan memasak yang tersusun rapi. Lampu LED yang tersembunyi memantulkan cahaya lembut membuat siapa saja yang berada di situ merasa nyaman.
Di laci lain terdapat toples kaca yang berisi kopi, gula, dan bahan makanan kering. Lintang mencuci beberapa piring dan gelas kotor hingga kitchen set itu tampak makin bersih dan rapi.
“Neng Lintang, gak usah dicuci, Neng. Biar besok Bibi yang nyuci pagi-pagi sekalian masak.”
“Gak apa apa, Bi. Lagian cuma piring dan gelas berapa biji.” Gadis itu mengelap tangan dengan tisu yang ada di meja.
Lintang kembali mengambil posisi duduk di kursi tempat ia makan sebelumnya. “Hmm, Bi. Paman dan Tante malam-malam gini pergi ke mana, ya?”
“Malam ini katanya ada acara sunatan anak dari teman kantor Tuan Danu. Lanjut acara besok siang ngunduh mantu di rumah Bu Wiryo, adiknya Nyonya Lana di Jogja. Katanya si, mau dua hari di Jogja,” terang Lastri sembari mengelap meja. “Lho, memangnya Nyonya gak bilang?”
“Enggak, Bi.” Lintang mengambil satu batang tusuk gigi untuk membersihkan sisa makanan yang nyangkut di gigi.
“Bi … Addara itu sifatnya gimana, ya?”
“Hmm, Neng Addara itu baik.” Lastri terdiam sejenak lanjut berujar, “Tapi, kadang suka bikin repot, Neng.”
“Bikin repot gimana, Bi?”
“Emm, nanti Neng Lintang juga tau sendiri. Tapi …, kalau bisa, gak usah berurusan dengan Neng Addara. Takutnya nanti jadi masalah, Neng.”
Lintang meneguk segelas air putih hangat tanpa sisa. “Bibi pernah bermasalah dengan Addara, ya?”
“Emm ….” Lastri terlihat gugup untuk bercerita. “Pernah, tapi gak penting, Neng. Oh, ya, sudah malem, Neng. Bibi mau selesaikan setrikaan dulu, ya,” Lastri bergegas menuju kamar dan menutup pintu.
Gaya Lastri yang gugup dan salah tingkah membuat Lintang makin penasaran.
***
[CM/Na]
Views: 1






















