Pengeroyokan, Buah Pendidikan Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Dalam Islam, pendidikan diberikan bukan hanya untuk mencetak seseorang menjadi pintar, tetapi juga membentuk pribadi yang beradab dan bisa mengarahkan potensinya untuk kebaikan. Sosok guru bukanlah sebatas pemberi ilmu, tetapi juga pemberi teladan.

CemerlangMedia.Com — Kasus kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. Sebuah video viral menunjukkan adanya aksi pengeroyokan terhadap seorang guru oleh murid-muridnya di salah satu SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi akibat saling hina (15-01-2026). Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar, kini menjadi arena untuk saling hajar.

Aksi kekerasan dan tindakan amoral di dunia pendidikan ini bukan hanya berpacu pada masalah personal dan emosional belaka. Tindakan pengeroyokan oleh murid dan penghinaan oleh guru di sekolah merupakan hasil dari rapuhnya penanaman adab dan minimnya pembentukan nilai Islam dalam pendidikan berbasis sekuler (pemisahan agama dari seluruh lini kehidupan).

Dalam pendidikan berbasis sekuler, kesadaran akan ‘pentingnya adab sebelum ilmu’ hanya menjadi slogan yang tidak benar-benar dipahami maknanya. Nilai-nilai Islam makin tergerus oleh nilai-nilai yang mengedepankan kebebasan berekspresi sehingga membuat seseorang nirempati.

Pemisahan agama dari pendidikan ini juga membuat siswa maupun guru kehilangan tujuan akhir dalam proses belajar mengajar, yaitu mendapat rida Allah. Ketika kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih berfokus pada pencapaian materi tanpa diimbangi nilai moral dan spiritual, relasi guru dan murid bergeser menjadi hubungan transaksional untuk sekadar memenuhi status sosial.

Dalam hal ini, guru dan murid menjalankan perannya tidak lagi atas dasar kelembutan, kasih sayang, dan penghormatan (ta’zim). Ketegangan dan kekerasan pun sangat mungkin terjadi sehingga pada akhirnya, lingkungan sekolah tidak lagi menjadi ruang belajar mengajar yang aman dan nyaman.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan lingkungan pendidikan yang dibangun dalam sistem Islam. Dalam Islam, pendidikan diberikan bukan hanya untuk mencetak seseorang menjadi pintar, tetapi juga membentuk pribadi yang beradab dan bisa mengarahkan potensinya untuk kebaikan.

Sosok guru bukanlah sebatas pemberi ilmu, tetapi juga pemberi teladan. Dalam mendidik, diwajibkan bagi guru untuk memberikan ilmu dan nasihat dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sedangkan bagi murid, memuliakan seorang guru juga merupakan kewajiban.

Guru maupun murid akan dipahamkan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak hanya didirikan dengan tujuan materi semata, tetapi juga untuk membentuk kepribadian Islam yang ihsan dan tidak mengenal tindak kekerasan. Inilah yang akan terwujud ketika akidah Islam dijadikan landasan oleh negara dalam menyusun kurikulum pada sistem pendidikan.

Indah Puspasari, S.E.
Aktivis Muslimah Jogja [CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *