#30HMBCM
Oleh: Putri Halimah, M.Si.
CemerlangMedia.Com — Biasanya dunia remaja itu penuh rasa keingintahuan. Akan tetapi, rasa penasaran itu hanya bersifat egosentris, seputar dirinya dan permasalahannya. Pernah gak sih, terbesit pertanyaan:
“Kenapa aku tidak secantik/setampan dia?”
“Kenapa mukaku berminyak, berjerawat?”
“Kenapa kalau memandang wajahnya, jantungku seperti mau copot?” atau
“Kenapa selalu aku yang salah?”
Mungkin masih banyak ribuan tanya lainnya yang pernah terlontar dari hati kecil. Kondisi overthinking semisal ini hanya bisa mendatangkan stres yang pada akhirnya tidak bermuara pada keimanan. So, kita mulai dengan jawaban yang pastinya bisa menembus logika berpikir.
Ada pepatah yang mengatakan, malu bertanya sesat di jalan. Nah, pernyataan penting lainnya adalah dengan siapa kita bertanya itu paling menentukan rute jalannya apakah lebih mulus atau malah lebih berliku. Kebanyakan remaja, mereka ga peduli dengan siapa bertanya, yang penting terkenal, banyak pengikutnya udah bisa jadi role model.
Pernah banget, seorang selebgram yang berpenampilan seksi mengumbar aurat ketika ditanya soal pakaiannya, ia menjawab dengan begitu percaya diri bahwa yang dia pakai tidak merugikan orang lain, dan bukan merupakan suatu kejahatan. Tentu saja, pernyataan tersebut diaminkan ribuan pengikutnya.
Kebayang bukan, bagaimana orang-orang yang tidak mempunyai kapasitas menjawab pertanyaan yang berbasis permasalah hidup umat manusia hari ini malah menjerumuskan mereka kepada pilihan hidup yang menyesatkan. Hmmm, semoga kita masih terlindungi dari sikap seperti itu.
Part kali ini, kita akan menguliti dasar akidah tentang siapa pencipta semesta. Pasti setuju kan, ya, bahwa hanya Allah yang menciptakan jagat raya ini beserta isinya dengan ukuran dan kadar yang begitu pas. Tanpa kurang sesuatu apa pun. Akan tetapi, ada juga yang tidak setuju. Menganggap cara mengimani Tuhan adalah sesuatu yang nisbi, relatif.
Meskipun sesuatu yang ada di semesta ini terdapat dalam sains, tetapi keberhasilan atau kegagalannya ada dalam kuasa Allah. Misalnya, para ilmuwan bisa saja mengeklaim terbentuknya planet bumi dimulai dari Teori Big Bang, yaitu proses ekspansi alam semesta yang dimulai sekitar 13,8 miliar tahun lalu dari sebuah titik super padat dan panas.
Setelah ledakan besar tersebut, alam semesta mengembang dan mendingin, membentuk nebula dan galaksi seperti Bima Sakti. Sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, dari gumpalan gas dan debu di salah satu nebula tersebut, terbentuklah planet-planet, termasuk bumi. Meskipun terbukti secara saintis, tetapi kita harus percaya bahwa semua itu ada dalam kendali dan kuasa Sang Empunya semesta.
Hal ini selaras dengan firman Allah Taala dalam surah Al-Anbiya ayat 30:
اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
Artinya: “Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman?”
Contoh lain, penciptaan manusia dari proses kehamilan. Sebelum terjadinya fertilisasi, jutaan sperma yang ada dalam cairan semen (mani) laki-laki yang terlihat menjijikan itu harus menempuh jalan yang berliku-liku. Akan tetapi, hanya ada satu sel sperma yang berhasil masuk ke sel telur. Terjadilah pembuahan, dan kehidupan baru muncul di dalam rahim. Satu sel tersebut membelah menjadi dua, kemudian empat, delapan, enam belas, dan seterusnya. Hingga ia menjadi janin yang sehat, kuat, dan berhasil dilahirkan. Itulah kita hari ini.
Tanpa campur tangan Allah Taala, siapa yang akan menuntun jalannya sel sperma? Siapa yang mengatur pembelahan sel tersebut hingga tumbuh menjadi janin yang sempurna? Bahkan, kehidupan di dalam rahim begitu kompleks dan teratur. Tanpa campur tangan Allah, mustahil manusia menciptakan yang serupa air ketuban, tali pusar, bahkan kehidupan ajaib lainnya. Tanpa izin Allah, itu mustahil terjadi. Buktinya, banyak pasangan suami istri yang bertahun-tahun menikah, tetapi belum dikaruniai buah hati. Padahal, fertilitas selalu terjadi. Karena apa? Simple karena Allah belum mengizinkan.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ . ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (TQS Al-Mu’minun ayat 12-14).
Dua contoh sederhana di atas membuktikan bahwa kehidupan tidak sesederhana sains. Kehidupan menyimpan begitu banyak sisi ajaib yang mustahil jika terjadi begitu saja tanpa campur tangan yang mengatur dibaliknya, tidak masuk logika jika terjadi dengan begitu rapi dan teratur tanpa ada yang menatanya dengan apik. Bukankah sudah seharusnya ada yang mengatur dan menciptakan itu semua? Tentu saja, ialah Allah Taala, Sang Empu semesta.
Kita beranjak ke level selanjutanya. Apakah Allah sebatas yang menciptakan? Apakah Allah hanya menciptakan manusia tanpa tujuan? Gak mungkin banget ya, kan, Allah gabut tanpa tujuan. Pastilah ada misi rahasia di balik penciptaan ini.
Selayaknya seorang ilmuwan yang menciptakan teknologi mesin cuci. Apalagi mesin cuci sekarang canggih, bisa langsung kering dan rapi tanpa dijemur dan disetrika. Tentu mempunyai tujuan untuk memudahkan urusan emak-emak berdaster, ya, kan. Dan yang paling penting, setiap pembelian mesin cuci tersebut selalu disertai buku petunjuk penggunaan. Supaya apa? Memandu pengguna agar mengetahui cara penggunaan yang benar.
Begitupun Allah, menciptakan manusia bukan tanpa suatu alasan. Tujuan penciptaan manusia tertuang di dalam Al-Qur’an surah Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Ibadah artinya apa? Apa kita harus selalu berada di atas sajadah? Apa kita harus selalu mengarah ke kiblat?
Bukan Sobat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Atau pendapat lain yang mengatakan bahwa “Ibadah adalah istilah yang mencakup segala yang Allah cintai dan ridai berupa perkataan dan perbuatan yang batin maupun lahir.” (Majmu’ah al-Fatawa, jilid 10, hlm. 149)
Semua perbuatan yang kita lakukan berdasarkan perintah Allah, maka itulah ibadah. Sederhananya, salat lima waktu adalah ibadah, belajar di sekolah juga ibadah. Sedekah dan membayar zakat adalah ibadah, begitupun hormat dan taat kepada orang tua dan guru, juga ibadah. Menyayangi saudara adalah ibadah, sama halnya dengan menyayangi teman, termasuk ibadah.
Sudah jelas, Allah menginginkan kita menjadi hamba yang taat, beribadah sesuai dengan perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang oleh-Nya. Begitulah Sang Empu Kehidupan, Dia tidak hanya menciptakan manusia secara kebetulan. Akan tetapi, punya misi besar untuk senantiasa menghamba dalam ibadah panjang di seluruh hidupnya.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 12






















