Jantung Hatiku

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Nurhy Niha

CemerlangMedia.Com — Aku Mina, seorang ibu dengan tiga orang putra. Saat teman seusiaku mengejar impian mereka, aku terpaksa menikah muda. Setelah lulus SMA, selama beberapa bulan aku bekerja sebagai pelayan.

Ibuku memilki penyakit jantung dan darah tinggi yang bisa tiba-tiba kambuh tanpa kita duga.

Sepulang kerja, aku menemukan ibu tergeletak di dapur. Karena panik, langsung kubawa ibu ke rumah sakit terdekat.

Ibu belum sadar juga, aku takut terjadi apa-apa. Aku dan Nami adikku menunggu dalam cemas. Ayah masih di luar kota, aku bingung harus bagaimana.

Kalau mengabari ayah, berarti ayah akan pulang dan itu perlu uang untuk ongkos pulang. Keuangan kami sangat pas-pasan. ku berpikir, uang ongkos ayah lumayan, bisa dijadikan tambahan uang rumah sakit ibu.

Setelah berpikir panjang, akhirnya aku mengabari ayah. Aku berpesan agar ayah tidak usah pulang. Jika kondisi ibu belum membaik, baru ayah boleh pulang. Sedih sekali, karena uang yang minim, kami jadi harus berhemat demi bisa membayar rumah sakit ibu. Andai pelayanan kesehatan gratis, pasti aku tidak keberatan ayah pulang. Kalau pakai BPJ* aku masih trauma dengan pelayanan yang lambat dan berbelit-belit.

Sampai keesokan harinya, ibu belum sadar juga. Kalau siang ini ibu tidak ada kabar baik, aku akan menyuruh ayah pulang. Alhamdulillah, pukul 09.00, ibu akhirnya sadar. Siang hari kami diperbolehkan menemui ibu. Ibu terlihat lemah sekali, aku dan Nami berusaha kuat di depan ibu. Ibu menggenggam tanganku lalu berkta,

“Mina, Ibu mau, Teteh nikah.”

“Ibu takut, Teteh gak ada yang jaga. Nanti Ibu minta Uwa nyariin jodoh buat Teteh.”

Aku tak mungkin nenolak di kondisi ibu yang baru saja sadar. Aku hanya diam, bingung mau menjawab apa. Usiaku masih 18 tahun, belum siap rasanya untuk menikah.

Ibu adalah jantung hatiku, semua akan kulakukan demi kebahagiaannya. Ibu yang terkena penyakit jantung, tetapi aku pun ikut jantungan.

Semenjak aku kecil, ayah bekerja di luar kota. Jujur, aku kurang merasakan kehadiran dan fungsinya. Aku berusaha mengatasi masalah kesehatan ibu tanpa melibatkan ayah.

Ayah pasti akan pulang karena khawatir, tetapi respons ayah ketika ada, terasa menambah bebanku. Ayah termasuk tempramental dan itu sangat membuatku takut.

Beberapa hari ibu dirawat dan akhir pekan ini ibu pulang. Kami pulang, dalam perjalanan, ibu bercerita kalau besok uwa akan mengenalkanku pada seorang laki-laki.

“Kenalan saja dulu, nanti kalau cocok bisa dilanjutkan,” ucap ibu semangat.

“Baik, Bu,” jawabku singkat.

“Semoga saja tidak cocok, biar tidak dilanjutkan,” doaku dalam hati.

Esok hari, uwa datang bersama seorang pemuda. Dia karyawan baru yang kerja di kantor uwa. Sebenarnya oke juga, ya bolehlah untuk lanjut berkenalan.

Ibu senang dengan responsku yang mau melanjutkan perkenalan ini. Semua berjalan lancar dan ayah pun pulang ingin mengenal lebih jauh pemuda ini.

Saat mereka bertemu, sepertinya ada sedikit masalah. Aku merasa ada sesuatu sampai ayah menceritakannya.Ternyata dia belum bisa menikah dalam waktu dekat ini karena ada beberapa adik yang harus ditanggung pendidikannya.

Dia adalah tulang punggung keluarganya. Jadi kalau untuk menikah dalam waktu dekat tentu belum siap. Kecewanya ibu sangat terlihat dan bisa kami rasakan.

Aku berkenalan lagi dengan pemuda lainnya dan berjalan lancar sampai pelaminan. Aku berharap, suamiku bisa mengisi tangki cintaku yang kosong. Alhamdulillah, tepat di usiaku yang ke-19, kami menikah. Usia yang terbilang muda untuk menikah. Kami berusaha menjalaninya bersama, lengkap dengan bumbu-bumbu rumah tangganya.

Aku sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga yang full di rumah. Aku merasa kerepotan ketika memiliki dua anak dengan jarak usia yang dekat, rasanya seperti dunia jungkir balik.

Saat teman-temanku bersenang-senang, sementara aku sibuk mengurus anak. Aku sering sekali sakit karena kelelahan mengurus dia balita dan beberes rumah.

Suamiku sangat intovert, dia lebih suka diam dan menyendiri. Suami yang aku harapkan jadi jantung hatiku, malah membuatku jantungan.

Sering terbesit penyesalan dalam hatiku, kalau saja aku tidak menikah secepat ini, aku pasti akan bersenang-senang seperti mereka. Bukan hanya merawat anak yang menguras energiku, tetapi pengalaman mengandung dan melahirkan yang tidak mudah membuatku sedikit trauma.

Pengalaman yang minim dalam merawat bayi membuatku baby blues. Bayiku sering sakit dan ibu yang sering drop membuatku makin pusing. Aku merasa sendirian di awal pernikahan ini. Laki-laki yang aku harapkan mengisi kekosongan hatiku, malah sibuk dengan dunianya sendiri.

Saat menginjak usia pernikahan 10 tahun, anak-anak sudah tidak terlalu menguras energi. Aku baru bisa menikmati ketenangan dan indahnya pernikahan. Ujian selama 10 tahun ini cukup menguras emosi. Ada saja masalah yang datang.

Rasanya rindu memiliki bayi lagi terlebih dua anakku adalah laki-laki. Lucu sepertinya memiliki seorang anak perempuan. Semoga saja aku bisa mempunyai anak perempuan.

Di kehamilan yang ke-3, semuanya lebih mudah. Aku bisa menikmati setiap prosesnya. Saat lahir tenyata bayi laki-laki lagi. Aku berusaha menerimanya karena ini di luar kekuasanku. Belajar dari pengalaman, aku sudah bisa menikmati dan hafal bagaimana mengurus bayi.

Semua terasa nyaman dan tenang. Memang, pengalaman adalah guru yang terbaik. Usia pernikahan yang makin bertambah membuatku lebih mengerti suamiku. Dulu aku mengira salah pilih suami, ternyata kami hanya belum saling mengenal saja.

Dalam hubungan, masalah selalu datang, kesalah pahaman dan rasa ingin selalu dimengerti adalah hal yang biasa. Komunikasi yang baik dan kebesaran hati untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing adalah kunci panjangnya usia pernikahan kami. Pernikahan memang penuh dengan bumbu-bumbu yang membuat kita terasa lebih hidup.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 12

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *