Kupu-Kupu dan Lebah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

 

Penulis: Dini

CemerlangMedia.Com, FABEL — Langit mendung, matahari tampak malu-malu menampakkan cahayanya. Pagi yang masih dingin. Rerumputan basah oleh embun pagi. Suasana tampak lengang. Hanya ada beberapa burung kecil sibuk mencari makanan di antara dedaunan yang jatuh di bawah pohon.

Di taman bunga yang elok, tampak seekor kupu-kupu kecil sedang terbang di antara bunga-bunga yang mekar dengan cantiknya. Dia hinggap di mahkota bunga mawar. Tanpa ragu dia menghisap madu bunga mawar. Beberapa saat kemudian dia terbang lagi. Mencari bunga yang lain lagi.

Ah…senangnya menjadi kupu-kupu, selalu berada di taman penuh bunga yang cantik mewangi. Menghisap madu bunga setiap saat.

“Hai, Kupi yang cantik, hari ini engkau tampak ceria sekali,” sapa seekor lebah yang baru saja datang dan hinggap di atas bunga lili.

“Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah atas semua nikmatnya padaku sehingga hari ini aku masih diberikan kesempatan hidup dan menikmati semua anugerah-Nya,” jawab kupu-kupu riang sambil menghisap madu di bunga lain.

“Benar, Kupi, begitu besar nikmat Allah pada kita, berupa sehat, umur yang berkah serta rezeki berlimpah di sekitar kita,” sahut lebah lagi.

Beberapa serangga lain sudah mulai berdatangan ke taman bunga. Mereka saling menyapa dan bersenda gurau.

Begitu juga, makhluk Allah yang lain, baik burung-burung kecil, capung, laba-laba, cacing tanah dan banyak lagi. Mereka semua sibuk bersyukur kepada Allah Swt. atas semua nikmat yang telah dilimpahkan kepada semua makhluk-Nya dan menikmati berbagai rezeki berlimpah di sekelilingnya.

Rezeki makanan, minuman, kesehatan, kebahagiaan berkumpul dengan teman-teman, matahari yang bersinar cerah. Ah, sungguh nikmat Allah tidak bisa dihitung karena terlalu banyak.

“Wahai Kupi, kemarin aku melihat banyak telur kupu-kupu di sana,” jelas lebah pada kupu-kupu sahabatnya yang terbang di sekitar bunga sepatu warna merah muda. Kupi segera terbang ke arah yang ditunjukkan Lubi-Lubi, si lebah sahabatnya.

“Iya, benar sekali, Lubi-Lubi. Di sini ada banyak telur kupu-kupu di daun-daun,” ujar Kupi pada lebah yang baik hati itu.

Kupi memperhatikan sekelilingnya. Ada sekumpulan telur berwarna putih yang sangat kecil menempel di bawah daun-daun hijau itu. Itu adalah telur kupu-kupu.

“Hati-hati, jangan sampai ada pemangsa yang akan memangsa telur kupu-kupu ini, Kupi,” kata Lubi-Lubi, si lebah baik hati sahabat Kupi.

“Iya, Lubi-Lubi, semoga Allah menjaga telur-telur ini sehingga bisa menetas semua,” doa Kupi.

Telur kupu-kupu sering banyak yang tidak bisa menetas semua karena berbagai faktor. Di antaranya adalah dimangsa oleh predator seperti burung-burung kecil, ular kecil ataupun serangga lain.

Sudah lebih seminggu, Kupi dan Lubi-Lubi sering menjenguk telur kupu-kupu itu. Ternyata yang bisa menetas hanya beberapa saja. Mereka telah menjelma menjadi larva kecil. Mereka sekarang berubah menjadi ulat daun yang suka makan daun sampai habis.

Kupi sering menasihati ulat-ulat kecil supaya memakan daun yang banyak supaya proses perkembangan mereka berikutnya berjalan baik.

Setelah melewati beberapa pekan, ulat-ulat kecil itu kemudian berubah menjadi kepompong yang menggantung di ranting, dahan, dan juga daun tanaman.

Ketika menjadi kepompong, ulat-ulat itu diselimuti semacam kapsul yang cukup keras kulitnya hingga beberapa waktu.

Di dalam kepompong itu, ulat-ulat itu tidak makan dan minum hingga berminggu-minggu. Hingga akhirnya mereka keluar dari kepompong dalam bentuk yang sangat indah, yaitu kupu-kupu cantik dengan aneka warna disayapnya.

Semua proses perkembangbiakan kupu-kupu, mulai dari telur hingga terlahir menjadi kupu-kupu kembali disebut metamorfosis.

Kupi dan Lubi-Lubi sangat senang memiliki teman-teman kecil yang cantik-cantik.

Mereka terbang dan hinggap dari satu bunga ke bunga lain penuh semangat dan suka cita.

Taman bunga itu makin ramai oleh penghuni baru. Kupi dan Lubi-Lubi apabila sudah tiba waktunya pun akan pergi meninggalkan semuanya. Mati. Diganti generasi muda berikutnya.

Begitulah kehidupan ini. Selalu berganti generasi. Apabila generasi sebelumnya makin menua lalu mati, digantikan generasi berikutnya. Silih berganti.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 13

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *