#30HMBCM
Oleh: D’Ikhty
Bab 1 Aroma Udara Perkotaan
CemerlangMedia.Com — Matahari mengintip malu di balik gedung pencakar langit. Deru mesin motor bersahutan seiring suara klakson mobil dan kendaraan lain. Ribuan kendaraan antre melintasi jalan raya menjadi pemandangan biasa ibu kota di pagi hari. Bau asap knalpot membumbung di udara berbaur aroma kopi dan gorengan pedagang kaki lima.
Keempat roda mobil putih berputar melamban saat mendekati gerbang hitam-gold. Hiruk pikuk siswa memasuki gerbang sekolah elite berlantai dua, diiringi canda tawa. Matahari masih asik mengintip, menyaksikan senyum lembut Lintang di hari pertama sekolah barunya.
“Lintang, Paman hanya bisa antar sampai di sini, ya.” Pria yang merupakan adik dari ayah Lintang itu melirik jam tangan yang menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. “Nanti, Bu Siska mengantarmu ke kelas baru,” ujar pria bernama Danu setelah mematikan mesin.
Ada gadis lain yang duduk di samping Lintang, yaitu Addara. Anak sulung Danu tersebut sibuk merapikan rambut panjangnya. Gadis itu mengambil lipstik dari saku ransel dan memoles tipis di bibir. Agar warna lebih merata, ia mengatupkan bibir atas dan bawah. Cermin kecil di tangan gadis berusia 17 tahun itu memantulkan sepasang bibir yang kini terlihat lebih cerah dan glossy.
Danu mengambil sebuah ponsel dari saku dan memencet 12digit angka. Sebuah nama terhubung untuk melakukan panggilan keluar. Lelaki berusia 43 tahun itu tampak gelisah menanti jawaban suara dari seberang.
“Assalamu’alaikum. Maaf, Bu Siska, saya sudah sampai di depan gerbang sekolah.” Panggilan terputus setelah suara di seberang mengiyakan.
“Lintang, Paman langsung ke kantor, ya, soalnya ada rapat pagi.” Danu tampak tergesa-gesa hingga langsung mematikan ponsel usai menerima jawaban dari Siska.
“Baik, Paman. Lintang pamit, ya ….” Lintang yang duduk di belakang kursi Danu membungkukkan badan dan menjulurkan tangan kanan. Diraihnya punggung tangan Danu untuk membawanya ke kening.
“Addara, tolong temani Lintang dan carikan teman baru, ya?” Danu bergantian menjulurkan tangan kanan ke arah Addara.
Tanpa jawaban, Addara bergegas keluar mobil dari sebelah kiri sembari membanting pintu. Sepasang kakinya membawa tubuh setinggi 165cm itu melewati zebra cross menuju gerbang sekolah. Arika dan Alice yang sedari tadi menunggu di pintu gerbang menyambut gembira. Ketiga siswi tersebut berbisik-bisik dan tertawa lepas sambil berangkulan.
“Addara!” Danu memanggil anak gadisnya, tetapi tak digubris. “Huft. Anak satu ini ….”
“Lintang, maaf kalau Addara tak menghiraukanmu.” Danu mendengus kesal, bahunya turun seolah menunjukkan rasa kecewa dan pasrah. “Ah! itu Bu Siska sudah di depan gerbang!” Danu menunjuk seorang wanita memakai kemeja putih dan rok biru langit di bawah lutut.
“Baik, Paman. Terima kasih sudah mengantar Lintang, ya ….” Lintang membuka pintu mobil kanan perlahan dan menutupnya kembali.
Kaki kanan Lintang menapaki aspal jalan disusul kaki kiri. Ia menengok Danu sejenak. Suara mesin kembali dihidupkan dan mobil pun melaju. Untuk pertama kali, udara pagi Kota Jakarta menyentuh pipinya. Aroma udara perkotaan terus membaui hidung Lintang. Tanpa ragu, Lintang melangkah menuju wanita bernama Siska.
Senyum Siska mengembang menyambut gadis berkerudung di depannya. Dibandingkan siswa lain, Lintang terlihat berbeda. Kehidupan hedonis di perkotaan menjadikan para siswa lebih mengutamakan penampilan. Di tengah tren remaja memakai seragam sekolah slim fit dan serba mini, Lintang memilih berhijab. Seragamnya rapi, tetapi dipandang kuno bagi siswa lain.
“Lintang, kita ke bagian kesiswaan dulu untuk ketemu Pak Agus, ya ….” Ucapan lembut Siska disambut dengan senyum manis disusul anggukan Lintang.
Gadis berkulit sawo matang dengan tinggi 158cm tersebut mengedarkan pandangan. Gedung berlantai dua itu kontras jika disandingkan dengan gedung sekolahnya di kampung. Lintang tak memedulikan ratusan pasang mata yang menatap dingin dan penuh selidik atas kedatangannya. Sosok Lintang seolah menjadi pemandangan aneh bagi siswa SMA Budi Mulia.
Mentari mulai berani menampakkan diri dengan memantulkan cahaya melalui kaca-kaca jendela gedung sekolah elite tersebut. Lintang melewati halaman yang luas, penuh dengan tanaman yang tertata rapi dan hamparan rumput hijau.
Senyum Lintang mengembang. “Meski tak lagi menghirup udara sawah yang wangi di pagi hari, udara di sini ternyata masih cukup segar,” gumamnya lirih.
Suara bel sekolah menggema sebagai pertanda jam pelajaran segera dimulai. Suara langkah kaki siswa terdengar beriringan menaiki tangga marmer menuju kelas masing-masing. Lintang menghentikan langkah, tepat di depan majalah dinding bercat hijau tua.
Mading berukuran 150cm x 200cm tersebut menempel di dinding lorong depan ruang kesiswaan. Kertas warna-warni cerah berupa foto, artikel, ilustrasi, puisi, dan info kegiatan sekolah menempel rapi hingga mencuri perhatian gadis berhidung tinggi tersebut.
“Lintang, ayo, masuk.” Siska meraih lengan Lintang yang masih berdiri tenang menikmati permandangan menarik di dalam bingkai besar berbentuk persegi panjang.
“Oh, baik. Bu.”
“Lintang …, ini Pak Agus. Selanjutnya, silakan kamu berbincang langsung dengan Pak Agus, ya. Ibu ada perlu ke ruang guru sebentar.”
Siska mempersilakan Lintang untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Agus sebelum akhirnya menghilang dari ruang Wakasek Kurikulum itu.
Lintang terlihat gugup mendapati Agus mengedarkan pandangan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh misteri.
“Jadi, ini yang namanya Lintang?” tanya Agus tanpa mengharap jawaban. “Nama yang bagus, tapi sayang, penampilannya kok, jadul, ya,” ujar Agus sambil memainkan pena bergaris vertikal hitam-putih.
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi. “Hmm, saya khawatir kalau kamu sulit beradaptasi dengan siswa-siswa teladan di sini.”
Sepasang mata Lintang beradu dengan mata Agus. “Maaf, maksud Pak Agus gimana, ya?”
“Jadi, gini. Sekolah kami memisahkan siswa berprestasi di kelas unggulan dan siswa biasa di kelas reguler.” Agus memperbaiki posisi duduk santai dengan posisi tegak.” Sepupumu, Addara termasuk siswa berprestasi, makanya masuk kelas unggulan. Pak Danu meminta saya untuk menyatukan kamu di kelas Addara, tetapi saya ragu dengan kemampuanmu.”
Hawa panas tiba-tiba singgah di dada Lintang. Ada sedikit rasa sakit yang menusuk hatinya. “Pak Agus sedang meremehkanku,” ujarnya dalam hati.
Kerudung gadis itu melambai ringan saat Lintang menguatkan hati dengan mengatupkan kedua mata. “Apakah setiap orang kampung dicap bodoh dan terbelakang oleh orang kota?” Lintang kembali bergumam dalam hati.
“Astaghfirullahal’adzim ….” Gadis itu menggerakkan bibir untuk beristighfar dan kembali membuka mata. Seketika hawa panas pun berlari pergi. “Saya masuk kelas reguler aja, gak apa-apa, Pak, yang penting bisa belajar.”
Senyum cerah Lintang membuat Agus penasaran. Selama ini, setiap siswa yang masuk SMA Budi Mulia selalu berupaya keras untuk masuk kelas unggulan. Bahkan, ada di antara orang tua siswa yang memasukkan anaknya ke kelas unggulan dengan ‘pelicin’.
“Oh, oke. Saya sampaikan ke Bu Siska dulu.”
***
[CM/Na]
Views: 1






















