#30HMBCM
Oleh: D’Ikhty
Bab 2 Kertas Kosong
CemerlangMedia.Com — Riuh tawa dan teriakan memenuhi udara di ruang kelas XI D. Kehebohan di kelas tiba-tiba senyap saat irama sepatu pantofel berderap mantap di koridor mendekati pintu ruangan. Lintang mengekor di belakang Siska dan menghentikan langkah saat pemilik pantofel tersebut berdiri di depan whiteboard.
“Kelas kalian ini memang gak bisa tenang, ya,” ujar Siska sambil menggelengkan kepala.
“Kalo mau suasana tenang, ya … di kuburan, lah, Bu.” Suara bariton keluar dari mulut Bimo, siswa paling usil yang duduk di pojok kanan kelas.
Gelak tawa kembali menyelimuti ruang kelas yang berisi 18 siswa. Suasana kelas XI D memang tak pernah sepi. Meja dan kursi kelas reguler itu pun jarang rapi. Meja yang terbuat dari perpaduan kayu solid dan besi powder coating dipenuhi coretan dan stiker karakter. Kursi yang terbuat dari material polypropylene berkualitas tinggi pun kerap berpindah tempat.
“Tolong diam dulu! Ibu mau memperkenalkan siswi baru untuk kalian.” Siska menarik lengan Lintang untuk lebih mendekat dan memperkenalkan diri.
“Assalamu’alaikum. Nama saya, Anditya Lintang Kinasih. Biasa dipanggil Lintang. Senang bertemu teman-teman dan salam kenal untuk semuanya ….”
Bimo berdehem, “Hmm, boleh nanya, kan, Bu Guru?” Tanya Bimo sambil mengangkat tangan kanan lanjut bertanya, “Adek manis, pacarnya udah ada belom?”
“Huuuu ….” Siswa sekelas bersorak memecah ketenangan yang baru berlangsung dua menit.
Siska menengok Lintang yang memasang muka masam sambil menggenggam udara kosong di tangan. “Sudah … sudah. Ini hari pertama Lintang masuk sekolah. Tolong jangan ganggu dia. Ibu minta tolong … buatlah citra positif untuk kelas dan sekolah kalian!”
Siska melangkah ke arah Lintang, “Lintang, di kelas ini tersisa dua bangku kosong di depan. Silakan Lintang lebih nyaman duduk di mana bisa pilih.”
“Baik, Bu.” Dengan langkah pasti, Lintang berjalan menuju bangku yang berdekatan dengan tembok.
“Anak-anak, mohon bisa rukun, ya …,” pinta Siska sebelum akhirnya meninggalkan kelas.
“Ya, Bu ….” Teriakan siswa terdengar bergemuruh.
Siswa yang kini berjumlah 19 orang kembali riuh. Kursi berderit, kertas beterbangan. Di pojok kiri ada tiga siswa bermain ludo. Siswa lain sibuk dengan ponselnya.
Pagi ini, seharusnya jadwal Heru membimbing mata pelajaran matematika. Guru killer tersebut hampir tak pernah terlambat. Keterlambatan kali ini menjadikan siswa XI D mengira, jam pelajaran pertama kosong.
“Oi, anak baru!” Lintang mendongak saat Bimo tiba-tiba sudah berdiri di depannya. “Pas dilihat dekat, eh, manis jugak kau rupanya,” ungkap Bimo dengan logat Medan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Lintang. Reflek, Lintang memukulkan buku di tangan ke wajah Bimo.
“Oi, berani kali kau ni!” gertak Bimo.
Belum kelar Bimo menggoda, Citra yang duduk berseberangan dengan Lintang, berdiri dengan gaya menantang, “Heh, Bemo. Lo, gak denger tadi Bu Siska pesan apa?”
“Tak payah kau ikut campur, Citra!” Suara Bimo meninggi membuat Citra makin emosi.
“Cit, kayaknya dia pengin dipukul mulutnya biar kembar sama dengan mulut bemo,” ungkap teman sebangku Citra, Beryl. Ungkapan Beryl membuat Bimo menjeling.
Citra, si wanita tomboi itu berdiri mendekati Bimo. Diangkatnya kerah baju Bimo hingga kedua kakinya terangkat. “Kalo lu berani ganggu makhluk bernama perempuan, gue wajib ikut campur! Paham!” Kedua mata Citra membulat bak mau keluar dari tempatnya.
Merasa kekuatannya tak sebanding dengan gadis pemilik sabuk hitam-merah taekwondo itu, Bimo memilih mengalah. “Ok, ok, aku takkan ganggu dia lagi. Tapi … lepaskan dulu bajuku.”
Beryl berdiri mendekati sepasang kawan yang sedang berkonflik sengit. “Cit, jangan percaya kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kemarin sore dia masih ganggu anak sebelah. Padahal, kan, dah janji gak ganggu lagi.” Citra makin menguatkan cengkeramannya.
“Pagi ini kalian tampak bersemangat sekali, ya.” Citra terkejut mendengar suara Heru. Gadis itu reflek melepas cengkeraman. Jago dalam bela diri, tak membuat Citra berani terhadap guru.
Kelas tiba-tiba hening. Siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Suara deritan terdengar halus saat mereka memperbaiki posisi kursi. Suasana gaduh berganti dengan ketegangan.
“Baiklah,” ucap Heru tenang. Namun, ketenangan tersebut justru membuat para siswa tegang hingga menegakkan badan sempurna. “Mumpung masih pagi dan kalian juga masih punya banyak energi, pagi ini, kita ulangan tema terakhir.”
Siswa sekelas kembali riuh perlahan. Di antara mereka berbisik halus menyatakan ketidaksiapan untuk ulangan.
Lintang mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas dan menyaksikan aneka gaya teman-teman barunya saat menghadapi ulangan mendadak. Gadis itu menahan tawa dengan mengatupkan bibir saat melihat mimik Bima yang sok jagoan tiba-tiba kelimpungan. Pelajaran algoritma kali ini cukup sulit dipahami Bima dan siswa lainnya.
“Kamu siswa pindahan, ya?” tanya Heru kepada Lintang dengan ramah.
Lintang memperbaiki posisi duduk agar lebih tegap sembari menganggukkan kepala. “Iya, Pak. Hari ini hari pertama saya bergabung di sekolah ini.”
Heru menggigit bibirnya. “Kamu sudah mendapat materi algoritma belum?” tanya Heru pelan.
Siswa sekelas heran melihat guru yang terkenal dingin, kejam, dan keras itu bersikap ramah dan lembut di hadapan Lintang.
“Sudah, Pak!” Jawaban tegas Lintang menjadikan Heru lebih bersemangat membagikan soal.
Heru berdiri di depan kelas memberi pesan, “Tiga pekan lagi kalian ulangan semester ganjil. Semoga kalian semua bisa fokus belajar biar naik kelas.” Kertas yang berisi tiga soal essay tema algoritma pun mulai dibagikan.
“Kali ini, saya membuat soal yang berbeda-beda. Jadi, jangan harap kalian bisa saling nyontek! Manfaatkan waktu yang tinggal 25 menit! Trus, lagi, bagi kalian yang tidak mengumpulkan jawaban ulangan kali ini, saya tidak izinkan mengikuti ulangan semester!”
Suara riuh terbang ke udara kemudian menghilang. “Citra, tolong nanti kumpulkan hasil ulangan di meja saya. Selesai tidak selesai, tetap dikumpul!” tegas Heru.
“Baik, Pak!” jawab Citra sebelum akhirnya Heru meninggalakan kelas tanpa pamit.
Ancaman Heru untuk tidak ikut ujian semester sepertinya tak main-main. Ada tiga anak, termasuk Bimo yang tidak bisa mengerjakan soal ulangan tema sebelumnya hingga mengumpulkan kertas kosong. Kini, para siswa terlihat serius menatap soal.
Suasana kelas sunyi. Hanya gesekan pena di atas kertas yang terdengar tajam. Lintang yang belum mengenal karakter guru matematika tersebut, terlihat santai saat mengerjakan soal. Jarum jam terasa berjalan cepat kemudian berlari meninggalkan jejak waktu yang tersisa.
Bimo menggigit ujung pensilnya. Lelaki tukang onar itu tampak tegang. “Dit, tolong, lah …,” pinta Bimo ke teman sebangkunya, Aditama.
“Wani, piro?” ujar Aditama kalem.
“Dit, serius, ah. Kali ini aku tak mau ada masalah lagi sama guru. Tolonglah, bantu jawab.”
“Lah, gue aja gak bisa jawab. Gimana mau bantu, lu?” celetuk Aditama. “Coba tanya sama anak baru itu. Kayaknya dia dah mau kelar, tuh.”
Bimo berdiri jinjit dan menyaksikan pemandangan unik. Pena yang dipegang Lintang tampak lincah menari-nari di atas kertas. Bimo kembali duduk. Ia malu untuk meminta bantuan Lintang, tetapi juga tak melanjutkan upayanya membujuk Aditama, mantan ketua geng tersebut.
“Woi, waktu abis! Kumpul! Kumpul!” Citra, ketua kelas XI D mengingatkan waktu sudah habis, lanjut mengambil kertas jawaban, mulai dari siswa yang duduk terdepan sampai ke belakang.
Sampai di bangku Bimo, Citra mengernyitkan dahi melihat kertas ulangan milik teman sekelasnya itu kosong. Kertas di meja Bimo tak ada tulisan kecuali nama dan kelas. “Matilah, kau kali ini, Bimo. Siap-siap saja kau tak dapat uang jajan setahun. Bhahahaha.” Citra menarik kertas di hadapan Bimo untuk digabungkan dengan kertas lain di tangannya.
Bimo terkejut mendengar ucapan Citra. “Tau dari mana dia kalau uang jajanku terancam diblokir?” pikirnya.
***
[CM/Na]
Views: 6






















