Oleh: Ummu Iffah
CemerlangMedia.Com, CERPEN — Rani menarik ujuk kain dengan motif mawar merah muda yang warnanya mulai memudar. Matanya menangkap sobekan sepanjang lima sentimeter di ujung sprei. Sobekan itu tampak jujur, seolah mewakili hatinya yang sudah lama koyak oleh sikap Andi.
Sudah beberapa bulan ini, Andi bersikap acuh tak acuh. Kamar tidur mereka terasa lebih luas dari ukuran biasanya. Bukan karena furniture yang berkurang, melainkan karena jarak yang terbentang.
Rumah itu terasa asing bagi Rani. Andi yang selalu pulang larut malam pun jarang menyapa untuk sekadar menanya kabar, apalagi mengecup keningnya. Bahkan, ia sering kali tertidur di ruang tamu setelah seharian lelah bekerja.
Rani mengambil kotak jahitan. Ia duduk di pinggir ranjang, tempat yang biasanya menjadi saksi bisu keheningan mereka.
Rani mulai menusukkan jarum. Memorinya memutar ulang sikap mereka belakangan. Bermula dari hal kecil, keduanya pun saling diam. Bayangan-bayangan itu berkelindan.
“Kenapa begini, sih, Mas?” ucap Rani lirih.
“Aku pikir, pernikahan itu akan selalu indah dan penuh suasana romantis, tetapi ternyata….” Kalimat itu menggantung di awang.
Sprei itu selesai dijahit. Bekasnya memang masih ada, sedikit berkerut, tetapi kain itu kini kembali utuh.
**
Sore itu, mendung menggantung di langit Jakarta. Awan hitam siap memuntahkan segala yang dikandungnya.
Suara motor Andi memasuki teras rumah. Rani sudah berdiri di ruang tamu menyambut Andi pulang. Ia tidak lagi berpura-pura sibuk di dapur seperti biasanya.
Andi masuk dengan wajah kusam, dasinya sudah longgar. Laki-laki itu tampak seperti baru saja kalah dalam peperangan.
“Mas,” panggil Rani lembut.
Andi menoleh sedikit terkejut karena biasanya sang istri hanya akan menyapanya lewat denting piring di meja makan. Laki-laki itu mengucap salam, sadar kalau wanita yang sudah ia dapatkan dengan penuh perjuangan, berdiri di hadapannya.
“Aku sudah mengganti sprei. Sudah aku jahit bagian yang sobek,” kata Rani pelan. Ia melangkah mendekat, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merapikan kerah kemeja suaminya yang terlipat.
“Maafkan aku ya, Mas. Selama ini, aku lebih sering merobek perasaanmu daripada menjahitnya,” ucap Rani tulus sembari meraih tangan sang suami lalu menciumnya.
Andi membeku. Tatapannya yang lelah perlahan melunak. Ada sesuatu yang runtuh di balik sepasang mata laki-laki itu. Benteng harga diri yang selama ini ia bangun setinggi langit, kini runtuh oleh tatapan sang istri.
“Aku juga,” suara Andi serak. Ia balik mencium tangan sang istri yang masih dalam genggaman.
“Aku lupa kalau rumah ini bukan hanya tempat tidur, tetapi tempat kita pulang.”
“Seharusnya, ketika kamu marah, aku tidak membalas dengan mendiamkanmu,” ucap Andi penuh penyesalan.
Di luar, hujan mulai turun dengan deras. Sesekali suara petir menggelegar memenuhi angkasa, seolah sedang membersihkan debu-debu pengabaian yang selama ini menyelimuti atap rumah mereka.
Kini, di dalam kamar itu, di atas sprei dengan jahitan kecil di sudutnya, percakapan hangat mulai mengalir. Luka itu memang masih ada, membekas seperti jahitan di sprei mawar merah muda, tetapi mereka sepakat untuk tidak lagi membiarkannya menganga lebar.
Andi menarik napas panjang, aroma pewangi sprei yang baru diganti Rani menyeruak masuk ke dadanya, memberikan rasa tenang yang sudah lama hilang. Ia menatap jahitan kecil di sudut ranjang itu dengan saksama.
“Jahitannya rapi, Ran,” bisik Andi, jemarinya meraba bekas benang yang menyatukan kain itu.
“Namun aku tahu, menjahit perasaan jauh lebih sulit daripada ini,” Andi tersenyum menatap sang istri.
“Sulit karena kita sama-sama memegang gunting, Mas. Kita sibuk memotong bagian yang kita tidak suka dari pasangan, sampai lupa kalau yang kita butuhkan adalah benang untuk menyatukan perbedaan.”
Andi menoleh, menatap mata istrinya dalam-dalam. “Apa yang paling menyakitimu selama aku diam, Ran?”
Rani terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. “Bukan kemarahanmu, Mas, tetapi rasa asing itu. Kita duduk semeja, tetapi jiwamu tidak di sana. Aku merasa asing di rumahku sendiri. Aku takut… aku takut suatu hari nanti, sobekan itu terlalu lebar hingga tidak ada lagi benang yang cukup panjang untuk memperbaikinya.”
“Maafkan aku yang pengecut. Aku pikir dengan diam, aku sedang menghindari pertengkaran. Ternyata, diamku justru menciptakan badai yang lebih sunyi di hatimu,” Andi menggenggam tangan Rani lebih erat.
Keduanya sadar, pernikahan tidak selalu runtuh karena badai besar atau orang ketiga. Sering kali, ia hancur karena debu-debu pengabaian yang menumpuk hari demi hari. Ia hancur karena kebaikan-kebaikan kecil yang berhenti dilakukan, atau sekadar hilangnya ucapan terima kasih atas kopi yang diseduh, atau pelukan yang diberikan sebelum berangkat kerja, atau tidak peka atas lelahnya istri di rumah. Menuntut pasangan untuk sempurna, tetapi enggan memperbaiki diri sendiri.
Malam itu, di bawah rintik hujan, mereka belajar kembali cara menjadi sepasang penjahit yang akan selalu sedia jarum dan benang setiap kali ada bagian dari hati mereka yang mulai koyak. Mereka berjanji akan menjadi dua penjahit yang setia memperbaiki setiap sobekan yang muncul dimakan waktu. [CM/Na]
Views: 7






















