Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Managing Editor CemerlangMedia.Com
Dakwah pemikiran bukan sekadar taklid atau ikut-ikutan, melainkan memahami Islam sebagai solusi komprehensif atas problematika kehidupan. Ketika seseorang memiliki pemikiran yang benar sesuai tuntunan Islam, langkahnya akan terarah. Setiap individu akan menyadari bahwa perannya bukan hanya di dalam masjid, tetapi juga sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam.
CemerlangMedia.Com — Kebangkitan sebuah bangsa tidak dimulai dari tumpukan harta atau kekuatan fisik, melainkan dari sejauh mana mereka menyadari hakikat diri dan tujuan hidupnya. Oleh karena itu, diperlukan dakwah yang terus-menerus, konsisten, terstruktur, dan sistematis.
Sebagian masyarakat sering kali menganggap dakwah sekadar bicara di atas mimbar atau ajakan moralitas personal. Dakwah juga dianggap sebagai tugas ulama dan orang-orang yang fasih mengutip dalil Al-Qur’an dan hadis. Tidak salah dengan hal itu. Namun, apabila mendambakan perubahan dan kebangkitan umat, maka dakwah harus menyentuh pemikiran.
Medan Tempur Ghazwul Fikri
Dunia hari ini menjdi medan tempur ghazwul fikri (perang pemikiran). Pemikiran umat diracuni ide-ide kufur yang tidak bersumber dari Islam. Ya, sejak runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani, dunia kini dikuasai oleh sistem kapitalisme sekuler dan sosialis komunis, sedangkan Islam dibatasi pada wilayah ritual dan individu.
Kapitalisme terus mempropagandakan ide dan pemikirannya di tengah umat. Begitu pula dengan sosialisme, berusaha memengaruhi pemikiran umat dengan ideologinya. Sementara Islam dijauhkan dari kehidupan. Pun, sejarah kegemilangan Islam, dikubur dan dikaburkan. Seolah-olah Islam tidak lebih dari sekadar agama yang hanya fokus pada ibadah.
Hegemoni Barat dengan ideologi kapitalisme makin mencengkeram dunia. Seluruh negara tunduk di bawah kepemimpinan global, tidak terkecuali negeri-negeri Islam. Umat tidak lagi merasa satu tubuh, masing-masing punya kepentingan sesuai dengan ideologi yang dianut, yakni kapitalisme yang berasaskan materi.
Dalam sistem kapitalisme, tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Selama kepentingan terjamin, satu sama lain akan menjadi sekutu. Sebaliknya, ketika kepentingan terancam, kawan pun bisa menjadi lawan.
Berbagai cara pun dilakukan guna membungkam orang-orang yang berseberangan, terutama mereka yang mengajak umat untuk berpikir cemerlang dan mendalam. Terkadang, umat saling dibenturkan demi mengukuhkan ide-ide kapitalisme sekuler.
Isu radikalisme, ektremisme, dan terorisme terus dihembuskan. Isu ini menjadi momok yang menakutkan bagi umat. Sementara itu, moderasi beragama dengan prinsip semua agama sama, dipelihara agar tumbuh sumbur dan diterima umat. Narasi yang tampak indah, tetapi hakikatnya merusak akidah umat Islam.
Hegemoni Barat
Hegemoni Barat dengan ideologi kapitalisme memosisikan negara berkembang merasa ketergantungan kepada kapitalisme global. AS dengan ideologi kapitalisme, tampil sebagai negara super power. Jika suatu negara tidak tunduk di bawah kekuasaannya, siap-siap saja diperangi, seperti yang terjadi di Venezuela. Perdagangan narkotika menjadi alasan AS menggulingkan pemerintahan Nicolás Maduro (republika, 3-1-2026). Benar atau tidaknya tuduhan tersebut, isu tentang cadangan minyak Venezuela yang melimpah, bahkan nomor satu di dunia, diduga kuat menjadi alasan digulingkannya pemerintahan yang sah (cnbcindonesia, 7-1-2026).
Tidak cukup hanya Venezuela, kini AS berupaya menggulingkan rezim Kuba (sindonews, 22-1-2026). Sikap AS tentunya menimbulkan pertanyaan di benak publik. Jika memang pemerintah Venezuela terlibat perdagangan narkotika, lantas apa hubungannya dengan Amerika? Bukankah hukum internasional sistem demokrasi melarang negara intervensi urusan domestik, kedaulatan, atau politik negara lain?
Ketua sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai, serangan Amerika Serikat ke Venezuela melanggar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (kompas.com, 8-1-2026). Fakta ini seolah menunjukkan kepada dunia bahwa AS bisa menggulingkan pemerintahan yang sah. Dewan Keamanan PBB sebagai organisasi penjaga perdamaian dunia seolah tidak punya kekuatan apa-apa.
Menguak Fakta Sejarah
Hari ini, dunia mengakui dan tunduk pada kekuatan AS. Namun jika menilik sejarah Islam, AS bukanlah siapa-siapa. Bahkan, negeri Paman Sam itu pernah membayar upeti kepada Kekhalifahan Turki Utsmani.
Pada masanya, Kekhalifahan Turki Utsmani sangat disegani dan ditakuti, sekalipun oleh armada perang AS. Inilah salah satu potret zaman keemasan umat Islam setelah masa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, para sahabat, dan tabiin.
Kehebatan angkatan laut kekhalifahan tidak perlu diragukan lagi. Ketika armada laut AS mulai berlayar di perairan internasional, kapal-kapal tersebut ditangkap oleh kapal laut Kekhalifahan Turki Utsmani karena melewati wilayah laut Khil4f4h tanpa izin. Penangkapan kapal-kapal itu, memaksa AS mengakui kedigdayaan Negara Khil4f4h.
Bahkan, dalam perjanjian Barbary, AS dipaksa untuk membayar sejumlah uang kepada Negara Khil4f4h sebagai imbalan izin untuk berlayar di Samudra Atlantik dan Laut Mediterania. Amerika juga membayar pajak tahunan (upeti) dalam bentuk emas kepada Negara Khil4f4h. Amerika juga diwajibkan membayar upeti tahunan menurut kalender Islam, bukan menurut kalender masehi.
Sejarah ini menunjukkan bahwa Islam pernah berjaya dan Khil4f4h benar-benar negara adidaya pada masanya. Namun, pada 3 Maret 1924 M, Kekhalifahan Turki Utsmani dihapuskan oleh Mustafa Kemal Ataturk, tokoh sekuler dan liberalis Turki yang ketika mati, bumi pun tidak mau menerima jasadnya. Sejak saat itu, umat Islam tercerai berai dan jauh dari syariat.
Terjebak Buaian Semu
Umat yang sudah terlalu lama tidur dalam buaian kapitalisme, cenderung merasa nyaman dalam ketidakberdayaan. Masyarakat seolah telah terbiasa memandang kebahagiaan sebatas angka di rekening atau pemuasan gaya hidup materi semata. Tanpa sadar, standar kebenaran telah bergeser. Bukan lagi apa yang Allah ridai, melainkan apa yang mendatangkan keuntungan materi paling besar.
Inilah tantangan terberat dakwah pemikiran. Para pengemban dakwah tidak hanya berhadapan dengan ‘ketidaktahuan’, tetapi juga berhadapan dengan sistemik yang masif.
Pendidikan, media, hingga kebijakan publik terus memproduksi narasi bahwa agama harus dipisahkan dari pengaturan hidup (sekularisme). Akibatnya, Islam hanya diletakkan di sudut-sudut masjid dan lembaran mukena. Sementara muamalah, politik, hukum, pemerintahan, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pergaulan dibiarkan dikelola oleh syahwat kapitalisme.
Oleh karena itu, umat harus berani menunjukkan cacat kapitalisme yang menciptakan ketimpangan sosial dan kerusakan moral. Umat harus melihat bahwa kesempitan hidup yang mereka rasakan saat ini dan penjajahan fisik maupun nonfisik bukanlah ‘takdir yang tidak bisa diubah’, melainkan dampak dari penerapan sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan.
Menyemai Ideologi Islam
Dakwah bukan lagi sekadar pendidikan akhlak, melainkan menyuguhkan Islam sebagai mabda (ideologi) sekaligus solusi hakiki untuk setiap persoalan. Umat harus tahu bagaimana Islam mengatur ekonomi tanpa riba, politik yang melayani rakyat, dan hubungan sosial yang memuliakan martabat manusia.
Namun, pemikiran tidak akan hidup tanpa pengemban dakwah yang tangguh. Untuk itu, dibutuhkan kelompok-kelompok dakwah yang konsisten menyuarakan kebenaran di tengah riuhnya narasi batil. Kebangkitan sejati akan terjadi ketika umat mulai merasa ‘asing’ dengan kemaksiatan sistemik dan sadar bahwa penjajahan sesungguhnya adalah bercokolnya ideologi kapitalisme.
Umat Islam memiliki potensi besar, sejarah yang gemilang, dan panduan hidup yang sempurna dari Al-Qur’an dan Sunah. Oleh karena itu, masyarakat butuh goncangan pemikiran yang menyadarkan bahwa umat Islam adalah ‘singa yang sedang dirantai’.
Umat Islam harus menyadari bahwa mereka merupakan keturunan Muhammad Al-Fatih (sang penakluk Konstantinopel), cucu Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi (sang penakluk kaum Salib). Umat Islam adalah keturunan Sultan Selim III, yang pada masa pemerintahannya, Amerika membayar upeti kepada Daulah Khil4f4h agar armada lautnya bisa berlayar di Samudra Atlantik dan Laut Mediterania.
Memang, proses ini tidak instan. Ia adalah napas panjang perjuangan. Namun, fajar tidak pernah datang secara tiba-tiba. Fajar tersebut dimulai dengan satu gurat cahaya yang perlahan mengusir pekatnya malam. Begitu pula dengan kesadaran umat. Sekecil apa pun upaya membongkar pemikiran kapitalisme hari ini, ia adalah fondasi pertama bagi bangunan kejayaan Islam di masa depan.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman,
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi….” (QS An-Nur: 55).
Khatimah
Dakwah pemikiran bukan sekadar taklid atau ikut-ikutan, melainkan memahami Islam sebagai solusi komprehensif atas problematika kehidupan. Ketika seseorang memiliki pemikiran yang benar sesuai tuntunan Islam, langkahnya akan terarah. Setiap individu akan menyadari bahwa perannya bukan hanya di dalam masjid, tetapi juga sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam.
“… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d: 11).
[CM/Na]
Views: 6






















