#30HMBCM
Oleh: Siti Aisyah
CemerlangMedia.Com — Memiliki tetangga yang saleh (baik) adalah sebuah nikmat dan dapat dianggap sebagai salah satu sebab kebahagiaan di dunia. Islam sangat menekankan pentingnya memiliki hubungan baik dengan tetangga, dan tetangga yang saleh membawa banyak manfaat, yang bisa diibaratkan sebagai “keajaiban” dalam kehidupan bermasyarakat.
Berikut adalah beberapa “keajaiban” atau manfaat mendapatkan tetangga yang saleh:
Pertama, bagian dari kebahagiaan hidup.Rasulullah saw. menyebutkan bahwa salah satu dari empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan hidup adalah memiliki tetangga yang saleh lagi baik hati.
Kedua, lingkungan yang tenteram dan harmonis. Tetangga yang saleh cenderung menciptakan suasana lingkungan yang damai, saling menjaga, dan penuh ketenangan karena mereka menjalankan ajaran agama untuk berbuat baik dan tidak mengganggu orang lain.
Ketiga, saling mengingatkan dalam kebaikan. Kita akan memiliki rekan yang bisa saling mengingatkan dalam hal ibadah dan perbuatan baik, yang dapat meningkatkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam).
Keempat, bantuan saat dibutuhkan. Tetangga adalah orang yang paling dekat, ketika tertimpa musibah atau sakit, tetangga yang baik dan saleh biasanya yang pertama kali datang menolong dengan tulus.
Kelima, menjaga keamanan dan kehormatan. Memiliki tetangga yang saleh berarti lingkungan tempat tinggal Anda lebih aman dari gangguan, baik dari perkataan maupun perbuatan.
Keenam, mencerminkan keimanan. Berbuat baik kepada tetangga adalah indikator kualitas keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Memiliki tetangga yang saleh akan memotivasi kita untuk turut mengamalkan ajaran ini.
Ketujuh, mendapatkan doa kebaikan. Kebaikan yang kita berikan kepada tetangga, dan kebaikan yang mereka balas, dapat mendatangkan rahmat dan perlindungan Allah, serta doa-doa baik dari mereka.
Islam sangat menekankan pentingnya memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga, bahkan Nabi Muhammad saw. hampir mengira tetangga bisa mendapatkan warisan karena seringnya malaikat Jibril mengingatkan tentang hak-hak mereka.
Kisah tetangga dalam Umar bin Khattab berpusat pada teladan keadilan dan kepeduliannya terhadap tetangganya, baik muslim maupun non-muslim.
Ia tidak membiarkan tetangganya kelaparan, bahkan ia pernah memotong tangan orang yang mencuri karena tetangganya sendiri melaparkan. Selain itu, ia juga mencontohkan pentingnya keadilan bagi semua orang. Bahkan, ia menolong tetangganya yang bukan muslim seperti kisah Abdullah bin Umar yang memberikan daging kurban kepada tetangga Yahudi.
Kisah-Kisah tentang Tetangga Umar bin Khattab
Tidak membiarkan tetangga kelaparan. Suatu ketika, seorang pria datang mengadu kepada Umar karena dicuri. Saat ditanya oleh Umar, pria itu mengaku mencuri karena keluarganya kelaparan. Umar kemudian bernasihat, “Hukuman pencuri adalah potong tangan, tapi kalau pencuri ini yang kebetulan tetanggamu sendiri melakukan pencurian lagi di rumahmu maka bukan tangannya yang aku potong, tetapi justru tanganmu yang aku potong.” Hadits Nabi Muhammad saw. juga menyebutkan, “Bukan orang beriman yang kenyang sementara tetangganya kelaparan”.
Keadilan bagi semua. Umar bin Khattab dikenal tidak membeda-bedakan antara rakyatnya, baik muslim maupun non-muslim. Ia memastikan setiap orang diperlakukan dengan adil, prinsip keadilan ini sangat penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera.
Menolong tetangga Yahudi. Abdullah bin Umar, putranya, memberikan daging kurban untuk tetangganya yang beragama Yahudi. Hal ini menunjukkan bagaimana Umar mengajarkan pentingnya kebaikan dan kepedulian terhadap semua tetangga, tanpa memandang agama.
Konsep Tetangga dalam Ajaran Islam
Pertama, perintah Allah. Allah Swt. dalam Al-Qur’an (QS An-Nisa: 36) memerintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga, baik yang dekat maupun yang jauh. Perintah ini menunjukkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan siapa pun yang tinggal di sekitar kita.
Kedua, perintah Rasulullah. Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, batasan tetangga. Batasan tetangga bisa mencapai 40 rumah ke segala arah, menunjukkan cakupan tanggung jawab yang luas.
Keempat, menjaga privasi. Penting untuk tidak mengusik atau mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa izin.
Kelima, menjaga kehormatan. Menjaga pandangan dari melihat istri, anak perempuan, dan pembantu wanita tetangga.
Keenam, komunikasi dan interaksi. Menyapa dengan ramah, mengucapkan selamat saat mereka berbahagia, dan menghindari ghibah.
Ketujuh, menjaga lingkungan. Tidak melakukan hal-hal yang bisa mengganggu, seperti menutup akses jalan atau ventilasi.
Kedelapan, sabar dan memaafkan. Bersikap sabar dan pemaaf jika terjadi perbedaan atau ketidaksepakatan, mencontoh teladan Nabi Muhammad saw..
Menjalankan kehidupan bertetangga yang baik akan membantu menciptakan interaksi sosial yang suportif, aman, dan kondusif untuk menjalankan kehidupan beragama dan bermasyarakat dengan baik sesuai dengan tuntunan Al- Qur’an dan hadis. Maka dari itu, pagar yang baik akan menghasilkan tetangga yang baik, yang saling cinta karena Allah.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 14






















