Penulis: Diyani Aqorib, S.Si.
Islam membebaskan wanita dari kewajiban mencari nafkah sehingga mereka dapat fokus menjalankan tugas mulia sebagai pembentuk generasi. Tanggung jawab ekonomi sepenuhnya berada di pundak suami.
CemerlangMedia.Com — Menjadi seorang ibu adalah pengalaman yang penuh keindahan, kasih sayang, dan kebanggaan. Namun, realita keseharian yang harus dihadapi sering kali berjalan beriringan dengan rasa lelah yang tidak sederhana. Rutinitas yang dimulai sejak pagi buta hingga larut malam membuat banyak ibu mengalami kelelahan mendalam, bahkan ketika mereka mendapat waktu istirahat sekalipun.
Banyak ibu terbiasa melakukan banyak hal sekaligus. Tanpa disadari, kondisi ini justru menguras energi fisik dan mental mereka. Inilah yang dikenal sebagai depleted mother syndrome, yaitu keadaan ketika tubuh dan pikiran terasa “habis” karena beban yang terus menumpuk.
Dari luar, seorang ibu mungkin tampak baik-baik saja: anak terurus, rumah rapi, pekerjaan selesai, dan rutinitas berjalan sebagaimana mestinya. Namun di balik itu, tidak sedikit ibu yang sebenarnya kelelahan, kewalahan, dan merasa sendirian menghadapi semuanya. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
Apa Itu Depleted Mother Syndrome?
Depleted mother syndrome adalah kondisi kelelahan menyeluruh yang dialami banyak ibu akibat tuntutan harian yang terus bertambah. Mulai dari mengurus anak, mengelola rumah, bekerja, hingga memikirkan hal-hal kecil yang tak pernah habis.
Menurut Cleveland Clinic, psikolog klinis Amy Sullivan, PsyD. menyebutkan bahwa perempuan sering membuat keputusan dengan mempertimbangkan logika dan perasaan sekaligus. Ketika harus memproses begitu banyak hal dalam sehari, energi mental pun lebih cepat terkuras.
Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai
Kelelahan ini tidak selalu terlihat. Namun beberapa sinyal berikut bisa menjadi alarm penting. Pertama, merasa kehabisan tenaga sejak pagi hari. Kedua, muncul keluhan fisik seperti sakit kepala, tegang otot, atau gangguan pencernaan. Ketiga, sulit fokus, emosi naik turun, mudah tersinggung atau lebih sensitif. Keempat, rasa bersalah berlebihan karena merasa kurang baik sebagai orang tua. Kelima, menarik diri dari aktivitas sosial, enggan berinteraksi. Keenam, mudah kewalahan bahkan oleh hal-hal kecil.
Beban Ibu dalam Sistem Kapitalisme
Di tengah sistem kapitalisme saat ini, beban ibu menjadi makin berat. Banyak ibu dituntut untuk bisa melakukan “segala hal”: mengurus anak, mengatur rumah tangga, sekaligus membantu mencari nafkah. Belum lagi kondisi ketika terjadi perceraian dan sebagian laki-laki enggan menanggung nafkah anak. Akhirnya, ibu harus berjuang sendirian demi keluarga.
Akar persoalan ini tidak lepas dari pengaruh sekularisme yang memisahkan kehidupan dari aturan agama. Banyak orang tidak memahami lagi mana kewajiban dan mana yang bukan, mana yang boleh dan mana yang tidak. Bahkan, dalam rumah tangga yang masih utuh pun, masih banyak laki-laki yang tidak menunaikan kewajiban memberi nafkah dengan baik. Ada pula anggapan bahwa jika istri memiliki penghasilan sendiri, maka ia tidak perlu dinafkahi.
Alhasil, seorang ibu harus memikul peran ganda: pencari nafkah dan pengurus rumah tangga. Ditambah minimnya dukungan dari pasangan, kondisi ini memperbesar risiko ibu mengalami depleted mother syndrome.
Tidak mengherankan jika kondisi ini akhirnya membuat banyak ibu merasa tertekan. Bahkan, sebagian wanita memutuskan untuk memilih hidup childfree karena merasa memiliki anak terlalu melelahkan dan membutuhkan biaya besar. Fenomena ini adalah sinyal bahwa ada struktur sosial yang perlu dibenahi agar ibu tidak terus menjadi pihak yang paling terbebani.
Solusi Islam
Islam sebagai agama yang sempurna telah menetapkan aturan yang jelas dan menyeluruh bagi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk peran dan aktivitas harian seorang wanita. Kehidupan rumah tangga yang harmonis hanya dapat terwujud apabila setiap individu menjalankan peran yang telah ditetapkan oleh syariat dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Dalam Islam, wanita diberi kedudukan terhormat sebagai ummun wa rabbatul bait, yakni ibu dan pengelola rumah tangga. Peran ini bukan sekadar tugas domestik, tetapi sebuah amanah besar yang menentukan kualitas generasi masa depan. Rasulullah saw. menegaskan dalam hadisnya,
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban. Laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan dia akan diminta pertanggungjawaban. Seorang wanita adalah pemimpin rumah suami dan anak-anaknya. Dia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR Bukhari).
Kepemimpinan ini menunjukkan betapa mulianya posisi seorang ibu sebagai pendidik dan pembina karakter anak-anaknya. Oleh karena itu, Islam membebaskan wanita dari kewajiban mencari nafkah sehingga mereka dapat fokus menjalankan tugas mulia sebagai pembentuk generasi. Tanggung jawab ekonomi sepenuhnya berada di pundak suami.
Bahkan, apabila pekerjaan rumah tangga menjadi berat bagi istri, sementara suami mampu secara finansial, maka suami dianjurkan, bahkan wajib menyediakan pembantu rumah tangga untuk meringankan tugas istrinya. Hal ini menunjukkan kepedulian Islam terhadap kesejahteraan fisik dan emosional seorang ibu.
Dengan adanya dukungan ini, seorang ibu dapat menjalankan perannya sebagai pendidik utama dalam keluarga dengan optimal. Ia memiliki waktu, tenaga, dan ketenangan untuk membimbing anak-anaknya, membangun karakter, serta menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. Inilah salah satu cara Islam mencegah kelelahan mental dan fisik yang sering dialami para ibu modern, termasuk fenomena depleted mother syndrome.
Pada akhirnya, rumah tangga dalam Islam bukan sekadar institusi sosial, tetapi merupakan ibadah terpanjang dalam kehidupan seorang muslim. Setiap aktivitas di dalamnya, mulai dari mengasuh anak hingga mengurus rumah bernilai pahala apabila dilakukan dengan niat mencari rida Allah Swt.. Dengan menjalankan peran sesuai tuntunan syariat, keluarga muslim akan lebih siap menghadapi tantangan zaman dan menghasilkan generasi yang kuat, berakhlak mulia, serta bertakwa. [CM/Na]
Views: 17






















