#30HMBCM
Oleh: Reni Tresnawati
CemerlangMedia.Com — Di satu sisi, angka perceraian tinggi di kota maupun di desa. Perceraian menjadi trend di semua usia, baik usia muda maupun usia senja (grey divorce). Di sisi lain, angka pernikahan menurun karena banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan pernikahan, seperti pasangan tidak sesuai dengan ekspektasi, perempuan lebih mandiri, merasa terkekang karena selalu ada yang mengingatkan, adanya childfree, dll..
Data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 399.921 kasus perceraian sepanjang 2024. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 408.342 kasus. Meskipun begitu, jumlah tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum pademi covid-19 yang hanya 291.677 kasus. Sedangkan jumlah pernikahan di Indonesia malah terus menurun. Pada 2020 tercatat sekitar 1,78 juta pernikahan, sementara pada tahun 2024 jumlahnya menyusul menjadi hanya 1,47 juta.
Guru besar Sosiologi Fakultas (ilmu sosial dan sosial dan ilmu budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Khoirul Rosadi menyorot berbagai faktor penyebab perceraian di Indonesia. Ia menjelaskan, perceraian umumnya dipicu oleh ketidakpahaman dan konflik dalam rumah tangga yang sulit diselesaikan. Yang utama kekurangan ekonomi, kerap membuat hubungan menjadi tidak aman (Voi.id, 9-11-2025).
Perceraian dipicu oleh berbagai faktor, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), judi online, perselingkuhan, pertengkaran, dll.. Ini menunjukkan lemahnya pemahaman masyarakat tentang pernikahan karena tidak yang menguatkan apabila ada masalah dan tidak adanya ketakwaan untuk membuat dirinya tegak dalam menghadapi apa yang terjadi.
Pernikahan seolah hanya didasari cinta buta, bukan dilandaskan keimanan yang mentajadas pada hatinya. Apabila pernikahan hanya sebatas trend, maka tidak akan kuat fondasinya dalam membangun rumah tangga, yang ada perceraian solusinya. Inilah hidup di sistem kapitalisme yang hanya mementingkan materi dan kebahagian semu.
Dalam sistem pendidikan, tidak juga belajar tentang kehidupan pernikahan dan hidup rumah tangga, apalagi sistem pergaulan sosial. Anak-anak remaja dibiarkan pergaulanna tanpa batas seperti pacaran, narkoba, judi online, dll.. Anak-anak sudah tidak asing lagi dengan hal yang seperti itu. Anak-anak remaja sekarang hidupnya hedonis, selalu melihat ke atas, yang jadi kiblatnya figur publik karena sering dicontohkan oleh mereka.
Bagaimana anak-anak remaja tidak hancur pemikirannya jika tidak dipupuk oleh keimanan dan ketakwaan. Itu tandanya ketahanan keluarga rapuh dan generasi pun lemah. Kalau sudah lemah, berpikir pun pendek (pragmatis, berpikirnya bagaimana nanti, bukan nanti bagaimana) kalau terjadi sesuatu yang bisa mengancam, segala sesuatu maunya tinggal jadi, tidak mau melewati proses.
Begitu menjalani pernikahan dan tidak sesuai apa yang diimpikan, berpikirnya sempit, tidak jauh ke depan. Kalau sudah begitu, perceraian jalan keluarnya. Berpikirnya lebih baik tidak punya pasangan, punya pasangan itu terkekang, lebih baik bebas menentukan jalan sendiri, bisa cari penghasilan sendiri.
Sementara keluarga kecilnya tidak dipikirkan, apalagi jika sudah punya anak. Anak adalah aset negara yang menjadi generasi penerus untuk keluarga dan negara. Anak merupakan keutuhan rumah tangga. Apabila orang tuanya sudah rapuh, bagaimana anak-anaknya?
Sementara yang menjadi figur pertama yang anak lihat adalah orang tuanya. Orang tua baik, anak pun mengikuti jejak orangtuanya. Bagaimana jika orang tuanya tidak baik, mau mengikuti jejak siapa? Ya, tentu yang ada di sekitarnya, misalnya pergaulan di sekelilingnya atau medsos yang lagi viral.
Dalam Islam, sistem pendidikan mengajarkan pada pembinaan kepribadian Islam yang kukuh dan siap membangun keluarga samara. Semuanya sudah terdapat dalam pendidikan Islam. Aturan pergaulan Islam menjaga hubungan dalam keluarga dan masyarakat sekitar tetap harmonis, saling mengingatkan antar tetangga berdasarkan ketakwaan. Kesejahteraan keluarga dan masyarakat dijamin oleh sistem ekonomi Islam yang menjadikan ekonominya stabil dan menyejahterakan.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 15






















