Di Balik Cahaya Gawai, Ada Gelap yang Menggerus Generasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Apabila ingin menyelamatkan generasi dari kehancuran moral dan spiritual, solusinya tidak cukup hanya dengan nasihat orang tua atau kampanye literasi digital. Umat butuh sistem yang melindungi, mengarahkan, dan menjaga mereka dari kecanduan dan paparan konten merusak.

CemerlangMedia.Com — Hari ini, sulit menemukan remaja yang tidak menggenggam gawai hampir setiap menit. Jika dahulu generasi sebelumnya disebut “tidak bisa lepas dari televisi”, maka generasi sekarang tumbuh dengan dunia di ujung jari, dunia yang sayangnya lebih banyak berbahaya daripada bermanfaat.

Waktu istirahat bukan lagi untuk memulihkan diri, bercengkerama dengan keluarga, atau menenangkan hati dengan doa. Waktu istirahat kini habis untuk scroll, scroll, dan scroll. Bahkan, salat pun sering dikerjakan tergesa-gesa demi kembali ke layar yang begitu memikat.

Inilah realita getir yang harus diakui. Di balik cahaya kecil sebuah layar, tersimpan konten-konten yang perlahan melukai cara berpikir, cara bersikap, dan cara generasi memahami hidup.

Pornografi, judi online, pinjol, konten moderasi beragama yang menyesatkan, cyberbullying, bahkan trafficking, semuanya masuk tanpa diundang. Hati yang belum matang, pikiran yang masih rapuh, dan keimanan yang masih bertunas menjadi sasaran empuk industri konten yang hanya mengejar keuntungan.

Akibatnya, lahirlah generasi muslim yang retak dari dalam. Di depan orang tua mereka tampak baik-baik saja, tetapi dunia digital memberi mereka identitas lain.

Split personality muncul: satu jati diri di dunia nyata, satu lagi di dalam kamar gelap bersama ponsel yang tidak pernah lepas dari tangan. Mereka menjadi rapuh, kehilangan arah, dan tanpa sadar masuk dalam arus gaya hidup sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Masalah ini tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari ekosistem digital yang dibiarkan liar. Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi ia seharusnya dijaga dan diarahkan.

Sayangnya, negara dengan sistem sekuler gagal hadir sebagai pelindung. Pengawasan longgar, regulasi tak berpihak pada perlindungan generasi, dan visi pembangunan digital yang tidak menempatkan keselamatan moral sebagai prioritas. Ruang digital seperti pasar tanpa pagar, siapa saja bebas masuk, apa saja bebas beredar, dan generasi muda menjadi korban pertama.

Sementara dalam sistem pemerintahan Islam, negara memiliki fungsi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung). Negara tidak hanya hadir sebagai pengatur administrasi, tetapi sebagai penjaga akidah, moral, dan kesehatan mental rakyat.

Negara akan memastikan bahwa konten berbahaya diblokir sebelum sempat menyentuh layar anak-anak. Teknologi penyaringan tercanggih diterapkan, bukan hanya untuk membatasi, tetapi juga untuk mengarahkan ruang digital menjadi lahan pendidikan, tsaqafah Islam, dan dakwah yang menguatkan.

Lebih dari itu, syariat Islam yang ditegakkan secara kafah akan menghapus akar-akar kerusakan yang kini merajalela, mulai dari pornografi, perjudian, hingga ide-ide yang merusak iman. Syariat bukan hanya memberi hukuman, tetapi membangun sistem sosial yang bersih, aman, dan menenteramkan. Baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Oleh karena itu, apabila sungguh ingin menyelamatkan generasi dari kehancuran moral dan spiritual, solusinya tidak cukup hanya dengan nasihat orang tua atau kampanye literasi digital. Umat butuh sistem yang melindungi, mengarahkan, dan menjaga mereka dari kecanduan dan paparan konten merusak.

Inilah saatnya umat memperjuangkan tegaknya syariat Islam sebagai satu-satunya penjaga sejati bagi generasi agar tangan-tangan kecil yang kini tidak lepas dari gawai, kelak tidak lepas dari doa, ilmu, dan kebaikan. Waallahu a’lam bisshawab

Gesti Ghassani [CM/Na]

Views: 28

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *