Di Balik Punggung Mereka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Rulistha Ifani

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Namaku Listafa, dan tulisan ini adalah upaya untuk menelusuri kembali jejak-jejak kecil dari seorang anak yang dahulu begitu rapuh menghadapi dunia. Peristiwa-peristiwa itu bermula di masa-masa awal sekolahku, tepatnya saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak, sebuah fase di mana batas antara berani dan takut masih sangat tipis.

Aku ingat betul bagaimana setiap pulang sekolah, air mataku sering kali menjadi bahasa utama untuk mengadu pada Ayah. Salah satu yang paling membekas adalah saat seorang teman perempuan yang kelakuannya jauh lebih nakal daripada anak laki-laki mana pun. Ia dengan seenaknya mematahkan pensil kesayanganku.

Bukannya marah, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil mencari perlindungan di balik punggung Ayah, yang kemudian bertanya dengan nada bingung, “Kenapa kamu tidak marah saja?” Pertanyaan itu terasa asing bagiku karena saat itu aku belum tahu caranya membela diri.

Kerapuhan itu juga terlihat jelas saat kegiatan senam pagi. Aku tidak bisa dipisahkan dari Kak Mumus. Meski barisanku seharusnya di depan dan Kak Mumus di belakang, aku tetap bersikeras ingin berada di dekatnya. Entah berapa kali ibu guru harus menyerah dan membiarkanku melanggar aturan barisan, sekadar agar tangisku berhenti.

Saat itu, hidupku terasa aman hanya jika ada sosok yang melindungiku. Aku belum menyadari bahwa ketergantungan itu adalah awal dari sebuah pelajaran hidup yang kelak akan mengubah cara pandangku terhadap keberanian dan kemandirian. Hari-hari itu berjalan dengan polos, di mana setiap masalah kecil terasa seperti bencana besar, tetapi selalu ada pelukan hangat yang siap menenangkannya.

Namun, masa aman itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan di TK, aku dipindahkan ke sekolah baru, terpisah dari Kakak. Di sana, aku benar-benar sendirian tanpa satu pun wajah familiar. Ditambah kedua orang tuaku yang sibuk bekerja, “tembok perlindungan” itu kini tidak lagi ada di sampingku. Rasa sepi itu mencekik, aku seperti anak kecil yang tersesat di tengah keramaian.

Puncak kesepian itu tiba saat jam istirahat. Teman-teman baru berlarian ke kantin, digandeng ibu mereka masing-masing. Aku hanya berdiri terpaku di balik pagar sekolah, menatap kepergian mereka dalam diam. Dadaku sesak. Aku ingin menangis dan memanggil ibu, tetapi aku tahu, tidak ada yang akan datang.

Kembali ke kelas, aku menyeka sisa air mata dan menarik napas panjang. Hari itu, Bu Guru mengajak kami membuat kerajinan tangan. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku memberanikan diri menyapa teman di sebelahku, meminjamkan gunting, dan tertawa pelan untuk pertama kalinya. Perubahan itu tidak instan, tetapi dimulai dari satu senyum kecil.

Dari momen itu, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak merasa takut, melainkan melangkah meski kaki gemetar. Tanpa perlindungan yang dahulu selalu kucari, aku justru menemukan sesuatu yang lebih berharga, teman-teman sejati yang menemaniku hingga SMP. Ternyata, berdiri sendiri bukan berarti kesepian selamanya.

Kini, saat aku menoleh ke belakang, Listafa kecil yang dahulu berdiri di balik pagar itu sudah tidak sendiri lagi. Aku belajar bahwa “punggung” yang kucari selama ini bukan lagi sosok Ayah atau Kakak, melainkan keberanian yang tumbuh di dalam diriku sendiri. Aku tidak lagi bersembunyi, aku melangkah maju, dikelilingi teman-teman yang memilihku bukan karena terpaksa, tetapi karena tulus. [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *