Di Antara Banyak Aku

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Karya: Kelaudia

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Aku teringat pada kenangan kala itu, sewaktu kecil, ketika yang kutahu hanyalah bermain di rumah dan rumah. Tanpa pernah melihat dunia luar di balik tembok yang selalu menjadi batas aku kecil melangkah.

Hingga hari itu datang.

Tembok yang dahulu hanya sebatas penghalang, kini berubah menjadi sebuah pintu.

Dengan wajah gugup, penuh pikiran, aku kecil mendorong pintu itu.

Sejak saat itu, duniaku tidak hanya sebatas rumah. Ada tempat lain yang juga seperti rumah bagi aku kecil.

“Sekolah.”

Kata yang asing, tetapi mampu membuat aku kecil bahagia berhari-hari.

Dari tempat itu, aku kecil belajar bahwa ternyata dunia begitu luas. Sangat luas.

Hingga aku kecil mulai bermimpi,

“Bisakah aku menjelajahinya suatu hari nanti?”

Sebuah pertanyaan yang hingga sekarang masih menjadi impianku.

Namun, tidak kusangka, suatu hari aku mendapat teguran yang membuat aku kecil terdiam lama. Sangat lama.

“Diamlah, jangan berisik. Apa gunanya kamu ke sini jika hanya untuk hal-hal yang tidak berguna?”

Andai aku tahu itu hanya sekadar ungkapan belaka tanpa makna. Namun nyatanya, aku kecil terlalu banyak berpikir hingga menganggapnya sebagai teguran keras yang selama ini tidak pernah ada yang memberikannya kepadaku.

Pertanyaan-pertanyaan mulai membayangi aku kecil.

“Aku salah, ya?”

“Di mana salahnya?”

“Aku nakal banget kayaknya.”

“Tapi bukannya mereka lebih nakal dari aku?”

“Kenapa aku?”

“Kenapa hanya aku?”

Lebih banyak lagi pertanyaan yang berkembang dari satu kata sederhana: Kenapa.

Jika diingat, cukup menggelikan dan lucu.

Betapa aku yang dahulu terlalu memikirkan pandangan orang lain terhadap diriku, yang belum tentu merupakan sesuatu yang baik bagi diriku sendiri.

Sejak saat itu hingga aku remaja, aku selalu menjadi seperti apa yang orang lain inginkan. Seperti itulah aku di depan mereka.

Namun, lama-kelamaan, entah kenapa, meski ada seseorang yang dekat denganku mengalami musibah di depanku, hal itu tidak mampu menimbulkan riak emosi dalam diriku yang remaja.

Teman-teman yang dahulu dekat, kini menjauhiku.

Seperti dahulu.

Hanya karena aku terlalu berbeda dari mereka.

Aku terlalu dewasa untuk usiaku yang seharusnya.

Perlahan, aku mulai merasakan arti sendirian.

Hal itu membuatku takut. Sangat takut.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menyembunyikan segala emosi asliku. Perlahan, tetapi pasti, semuanya kembali seperti semula.

Sejak itu pula, aku remaja selalu merencanakan segalanya.

Dari cara tersenyum hingga bertutur kata.

Sampai pada hari ketika aku remaja merasa lelah. Sangat lelah.

Hingga aku mengutarakan sebuah keluhan kepada seorang guru yang aku anggap sebagai orang yang dekat denganku. Namun, jawaban yang kudapat justru membuatku terdiam hingga sekarang.

“Untuk apa bersedih seperti itu? Tahu tidak, di luar sana, ada yang lebih menderita dari kamu, Nak. Jangan anggap dirimu itu orang yang paling terluka jika kamu saja tidak tahu betapa menderitanya orang lain selain kamu.”

Sejak saat itu, perkataan tersebut aku jadikan sebuah pedoman.

Agar diriku tidak pernah merasa lelah.

Agar diriku tidak pernah mengeluh.

Agar aku tidak lagi menganggap perasaanku sendiri sebagai sesuatu yang penting.

Sekarang, aku menjadi diriku sendiri. Setidaknya, begitulah yang terlihat. Meski nyatanya, kebohongan itu tetap bukan “aku”.

Aku sendiri sudah lupa seperti apa “aku” yang sebenarnya. Sebab, terlalu banyak “aku” yang telah aku ciptakan dalam diriku ini.

Sekarang aku sadar, tidak peduli siapa “aku”. Sebab selamanya, diriku tetaplah diriku sendiri.

Seperti apa pun aku nantinya, tetaplah aku.

Mungkin aku tidak perlu lagi mencari tahu mana “aku” yang sebenarnya. Sebab semua “aku” yang pernah aku ciptakan, semua perubahan yang pernah terjadi dan semua hal yang pernah aku lewati tetap menjadi bagian dari diriku.

Mungkin, menjadi diri sendiri bukan tentang menemukan satu versi diriku yang paling benar. Melainkan menerima bahwa aku akan terus berubah, tumbuh, dan menjadi banyak versi dari diriku sendiri.

Pada akhirnya, tetap aku. Aku yang sudah berjalan sejauh ini. [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *