Ruang yang Tertinggal

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Rahmah Saparina

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Tidak semua kehilangan datang dengan suara. Ada yang hadir begitu pelan hingga baru kusadari ketika semuanya benar-benar berubah. Saat itu, aku masih menjalani hari-hari seperti biasa, mencoba tersenyum dan menyelesaikan setiap kewajiban. Namun, ada rasa hampa yang terus mengikutiku ke mana pun aku pergi. Aku belum tahu bahwa pengalaman itu akan menjadi salah satu bagian hidup yang paling membentuk diriku.

Aku mengenalnya bukan dari darah yang mengalir di tubuhku, melainkan dari kasih yang tumbuh begitu lama hingga batas antara “anak” dan “bukan anak” terasa tidak pernah ada. Ia adalah seorang perempuan yang memilih mengangkat dan menyayangiku ketika ia sendiri tidak diberi kesempatan untuk memiliki anak. Dan mungkin, sejak saat itu, aku menjadi salah satu cara semesta memperkenalkannya pada arti menjadi seorang ibu.

Aku tetap tumbuh bersama keluargaku sendiri, dikelilingi kasih sayang yang mereka berikan kepadaku. Namun, di antara banyaknya orang yang hadir dalam masa kecilku, ada satu sosok yang memiliki tempatnya sendiri di hatiku. Kedekatan kami tumbuh dari hal-hal sederhana, hadiah kecil, boneka yang ia berikan, tutur katanya yang lembut, dan caranya memperlakukanku seperti seorang putri kecil.

Ada sebuah boneka besar yang sampai sekarang masih menjadi bagian dari ingatanku. Ada pula boneka berbentuk dogy yang pernah ia berikan. Bagi orang lain, mungkin benda-benda itu hanyalah mainan yang suatu hari akan disimpan dan dilupakan. Bagiku, benda-benda itu adalah potongan kecil dari masa lalu benda-benda yang entah bagaimana masih mampu membawaku kembali pada seseorang yang pernah begitu berarti.

Waktu itu aku masih kecil. Dunia terasa sederhana. Aku percaya bahwa orang-orang yang menyayangiku akan selalu ada di tempatnya masing-masing. Aku belum mengerti bahwa kehidupan bisa berubah hanya karena satu kabar yang datang pada sebuah pagi.

Hari itu, aku baru saja terbangun ketika sebuah kalimat sampai kepadaku.
Ia sudah tidak ada.

Awalnya aku tidak percaya. Mungkin karena aku masih terlalu kecil untuk memahami bahwa ada kehilangan yang benar-benar tidak bisa diperbaiki. Aku sempat menganggap kabar itu sebagai kesalahan. Sesuatu yang sebentar lagi akan dibantah. Sesuatu yang ternyata tidak benar.

Bagaimana mungkin seseorang yang kemarin masih menjadi bagian dari hidupku, hari ini tiba-tiba hanya tinggal cerita?

Aku menunggu kenyataan berubah menjadi kebohongan. Namun, keesokan harinya, kenyataan itu justru berdiri makin jelas di hadapanku.

Untuk pertama kalinya, aku berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan berharap. Sosok yang selama ini kukenal melalui suara lembut dan senyumnya, kini terbaring diam. Aku melihatnya, mendekatinya, lalu menciumnya untuk terakhir kali.

Hatiku masih menolak percaya. Dalam pikiranku, mungkin ia akan membuka mata. Mungkin ia akan bangun dan semuanya kembali seperti semula. Mungkin pagi itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang sebentar lagi selesai.

Namun, tidak ada pelukan yang datang.
Tidak ada suara lembut yang memanggilku.
Hanya kesunyian yang terasa terlalu besar untuk dipahami seorang anak kecil.

Di tengah kesunyian itu, seseorang yang juga sedang berusaha menahan kesedihannya membisikkan kepadaku agar aku belajar mengikhlaskan.

Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Bagaimana mungkin aku diminta mengikhlaskan seseorang yang bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya arti kehadirannya dalam hidupku?

Aku hanya tahu bahwa aku kehilangan seseorang.
Sejak hari itu, ada ruang dalam diriku yang tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Hari-hari setelahnya berjalan dengan cara yang berbeda. Ada tempat-tempat yang tiba-tiba terasa asing. Ada benda-benda yang membuatku teringat kepadanya. Ada kenangan yang datang tanpa diminta.

Aku bahkan tidak sanggup datang ke salah satu momen setelah kepergiannya. Bukan karena aku tidak ingin mengenangnya, melainkan karena saat itu aku belum cukup kuat untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa seseorang yang dahulu begitu dekat kini hanya bisa kutemui dalam ingatan.

Dari sana, perlahan aku mengerti bahwa kehilangan bukan hanya tentang seseorang yang tidak lagi berada di depan mata.

Kehilangan adalah tentang kebiasaan yang tiba-tiba berhenti. Tentang percakapan yang tidak akan pernah terulang. Tentang hadiah yang berubah menjadi kenangan. Tentang sebuah nama yang masih ingin dipanggil, tetapi tidak lagi memiliki tempat untuk menjawab.

Namun, waktu tidak pernah benar-benar berhenti hanya karena seseorang sedang berduka.

Hari-hari terus berjalan.
Aku pun belajar berjalan bersamanya.

Keluargaku dan orang-orang baik di sekitarku menjadi tempat untukku bertahan. Mereka tidak dapat mengembalikan seseorang yang telah pergi, tetapi dari mereka aku belajar bahwa ketika satu tangan terlepas, masih ada tangan lain yang bersedia menggenggam.

Aku juga mulai memahami bahwa bangkit tidak selalu berarti berhenti menangis.

Ada hari ketika aku merasa baik-baik saja, lalu sebuah kenangan tiba-tiba membuat mataku basah. Ada saat ketika aku merasa sudah menerima semuanya, kemudian rasa rindu datang lagi tanpa permisi.

Dulu aku mengira, menerima berarti tidak boleh sedih lagi.

Ternyata tidak.
Menerima adalah ketika aku masih bisa menangis, tetapi tidak lagi meminta masa lalu untuk kembali. Menerima adalah ketika aku mengakui bahwa aku rindu, tanpa harus menyangkal bahwa ia telah pergi. Menerima adalah ketika aku mulai memahami bahwa seseorang bisa pergi dari dunia, tetapi kasih yang pernah diberikannya tidak harus ikut menghilang.

Ada dua kali ia datang dalam tidurku.
Dalam mimpi pertama, aku melihatnya mengenakan pakaian putih. Wajahnya terlihat begitu tenang. Ia tersenyum kepadaku, seperti senyum yang dulu kukenal. Tidak ada percakapan panjang. Hanya sebuah pertemuan singkat yang membuatku terbangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Pada mimpi kedua, ia datang dengan pakaian berwarna gelap. Lagi-lagi ia tersenyum. Dalam mimpi itu, seolah-olah ia sedang memasangkanku dengan seseorang, seperti seorang ibu yang masih ingin memastikan anaknya memiliki teman untuk menjalani kehidupan.

Aku tahu itu hanya mimpi.
Tetapi mungkin, terkadang mimpi adalah satu-satunya tempat yang masih memungkinkan rindu bertemu dengan seseorang yang telah pergi.

Setelah bangun, aku sering bertanya dalam hati mengapa seseorang yang sudah begitu lama pergi masih bisa terasa dekat.

Mungkin karena kenangan tidak mengenal jarak.
Ia dapat bersembunyi bertahun-tahun, lalu kembali hanya karena sebuah lagu, sebuah benda, sebuah tempat, atau sebuah mimpi.

Kini aku sudah tumbuh.
Aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menolak percaya ketika mendengar kabar kehilangan. Aku mulai memahami bahwa kehidupan tidak selalu memberikan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang kita inginkan.

Sebentar lagi aku akan memasuki masa yang baru. Aku akan melangkah lebih jauh dari dunia yang selama ini kukenal. Ada banyak hal yang ingin kucapai, banyak tempat yang ingin kutuju, dan banyak versi diriku yang ingin kutemui.

Di tengah semua itu, terkadang aku masih membayangkan satu hal.

Seandainya ia masih ada. Mungkin aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa anak kecil yang dahulu ia perlakukan seperti seorang putri kecil kini sudah tumbuh besar.

Aku ingin berkata, “Mah, aku sekarang sudah besar. Aku sudah melewati banyak hal. Sebentar lagi aku akan melangkah menuju kehidupan yang baru. Aku masih sering menangis, masih sering berpikir terlalu jauh, dan masih sering merasa rindu. Akan tetapi, aku terus belajar untuk menjadi seseorang yang bisa membuatmu bangga. Kalau memang ada cara bagimu untuk melihatku dari sana, semoga kau tahu bahwa kasih sayangmu masih hidup di dalam ingatanku.”

Mungkin aku tidak akan pernah tahu apakah kata-kata itu akan sampai kepadanya. Akan tetapi, tidak semua hal harus sampai kepada seseorang untuk menjadi berarti.

Ada kasih yang cukup disimpan.
Ada rindu yang cukup dikenang.

Dan ada kehilangan yang mengajarkan kita untuk lebih menghargai setiap kehadiran sebelum akhirnya berubah menjadi kenangan.

Dulu aku mengira kepergian hanya akan meninggalkan luka.

Sekarang aku mengerti, terkadang kehilangan juga meninggalkan ruang untuk tumbuh.

Ruang itu memang tidak pernah benar-benar tertutup.

Di dalamnya masih ada suara lembut, senyum, boneka-boneka masa kecil, dan kehangatan dari seseorang yang pernah membuatku merasa begitu disayangi.

Aku tidak ingin mengisi ruang itu dengan siapa pun.

Aku hanya ingin menjaganya. Sebab, beberapa orang memang tidak ditakdirkan untuk tinggal selamanya di sisi kita. Mereka hanya diberi waktu untuk hadir, memberikan kasih, meninggalkan kenangan, lalu pergi ketika waktunya tiba.

Mungkin itulah salah satu cara kehidupan mengajarkanku bahwa kehilangan bukan berarti seluruh kasih ikut hilang.

Ada orang yang pergi dari kehidupan kita, tetapi meninggalkan sesuatu yang membuat kita terus membawa mereka ke mana pun kita melangkah.

Begitu pula dengannya.
Ia telah pergi jauh dari pandangan, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan.

Ia tinggal di sebuah ruang kecil dalam diriku.
Ruang yang tidak berisik.

Ruang yang tidak meminta untuk ditemukan.
Ruang yang hanya sesekali kubuka ketika rindu datang.

Di sana masih ada seorang perempuan yang pernah menyayangiku seperti anaknya sendiri, seorang anak kecil yang pernah merasa begitu dicintai, dan kenangan-kenangan yang tidak akan pernah bisa kuulang.

Mungkin itulah yang tertinggal setelah seseorang pergi. Bukan hanya kesedihan, melainkan kasih yang diam-diam tetap hidup. Selama aku masih mengingatnya, mungkin sebagian kecil dari dirinya akan selalu ikut berjalan bersamaku.

Di dalam ruang yang tertinggal. [CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *