Goresan Cinta Untuk Tiara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Titin Kartini
Bab 1 Penantian

CemerlangMedia.Com — “Yah, dapat haid lagi,” kataku. Suami yang baru saja beres salat Subuh hanya tersenyum sambil bilang “Baru juga nikah enam bulan, ya tidak apa-apa kalau belum hamil juga masih banyak waktu.” Enteng sekali bicaranya, padahal istrinya sangat kecewa pagi ini.

Kami pasangan muda. Usiaku baru dua puluh tiga tahun, sama dengan usia suami. Kami hanya selisih lima hari saja. Lahir di bulan dan tahun yang sama. Usia perkawinan memang baru enam bulan, tetapi rasanya aku ingin cepat punya momongan.

Suami yang hobi main bola dan bermain musik kerap meninggalkanku sendirian entah pada sore atau malam hari. Jenuh rasanya tak ada kegiatan, aktivitasku hanya sebatas ibu rumah tangga. Melihat teman-teman yang baru menikah langsung hamil itu ada rasa iri. Apalagi mereka kerap membagikan cerita serunya seputar kehamilan yang mereka alami, sementara aku hanya bisa menyimak saja.

Tak dipungkiri, rasa takut tak punya anak itu sempat terlintas dalam pikiran karena aku kalau dapat haid itu merasakan sakit yang luar biasa sehingga terbiasa mengkonsumsi parasetamol. Jika belum minum parasetamol, rasa sakit itu belum reda. Konon katanya, menurut orang-orang jika haid sakit suka susah mempunyai anak, bahkan mandul. Astaghfirullah, padahal cuma katanya secara medis sendiri aku belum tahu.

Bulan pun berganti, tak terasa satu tahun perkawinan telah kami lewati dan tepat satu tahun satu bulan aku merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhku. Aku sakit, namun mamah mertua curiga aku hamil karena beliau melihat ada perbedaan pada tubuhku yang mengarah pada ciri-ciri orang hamil. Aku sering pusing, mual hingga siang hari, tak nafsu makan, malas mandi.

“Coba periksa ke bidan AA, istri kamu itu sepertinya hamil,” saran mamah mertua. Kami pun berangkat ke bidan, dan Masya Allah, alhamdulilah aku positif hamil. “Aku hamil, ya Allah seperti mimpi ada janin dalam rahimku,” gumamku dalam hati, sambil tak henti-hentinya aku bersyukur dan mengelus perutku yang masih rata.

“Sehat-sehat ya, Nak, dalam rahim Ibu. Kamu kebahagiaan Ibu dan Ayah juga keluarga. Hadirmu sudah sangat kami nantikan. Alhamdulillah, kamu hadir menjadi penyempurna kehidupanku,” tak terasa air mata kebahagiaan tumpah dari pelupuk mata, hari bahagia menyertai langkah kaki ini.

Kehamilan yang berat aku rasakan. Semua makanan yang masuk pasti keluar lagi. Badan lemas, kepala pusing, badan kurus tapi perut buncit. Mencium apapun hidung ini langsung mual, sampai melihat telur dan mie instan mentah langsung mual dan muntah. Masya Allah, rasanya seperti hidup segan mati tak mau.

Namun dalam perjuangan itu, aku ingat Umiku yang sudah tiada, “Yaa Allah, seperti inikah Umiku saat mengandungku.” Berat sekali ternyata menghadapi kehamilan ini, dan ini berlangsung hingga usia kehamilan lima bulan, meski di bulan ke enam hingga sembilan pun masih merasakan tidak enak badan ini, tetapi tidak separah di awal kehamilan.

Janinku tumbuh sehat, meski selalu dihadapkan pada pemeriksaan dengan hemoglobin yang selalu dibawah standar juga berat badan yang tidak bisa naik. Kata suami seperti orang cacingan, hmmm tak apalah pikirku mungkin memang harus seperti ini perjuangannya.

Bahagia selalu menyelimutiku, tatkala janin dalam perutku bergerak-gerak dengan lincahnya. “Ibu Bapak, ini sepertinya berjenis kelamin perempuan karena saya tidak melihat tanda-tanda alat kelamin laki-laki, bayinya sehat dengan berat yang normal sesuai pertemuan bulannya, posisi sudah bagus tinggal nunggu kelahirannya saja ya,” kata dokter yang melakukan USG di suatu klinik.

Tentu saja kami bahagia sekali mendengar kabar ini. Untuk jenis kelamin, aku dan suami tidak masalah. Laki-laki ataupun perempuan karena ini anak pertamanya, tetapi mamah mertua yang cenderung ingin cucu perempuan. “Mamah selalu meminta cucu perempuan, semoga Allah kabulkan, jika laki-laki pun tidak apa-apa yang penting sehat tanpa kurang suatu apapun.”

Bukan tanpa alasan mamah mertua menginginkan cucu perempuan karena beliau hanya punya dua putra, suamiku dan adik iparku maka beliau wanita paling cantik di rumahnya.

“Ayah, Ibu mau beri nama Tiara Sasta Negara ya, putri kita,” kataku. “Alasannya atau artinya apa, Bu?” jawab suami.

“Tiara itu sebutan untuk crown atau mahkota yang dipakai seorang ratu di sebuah kerajaan dan seorang ratu pastinya selalu dihormati dan tidak semua wanita mendapatkan posisi itu. Adapun Sasta, Ibu suka saja nama itu, gambaran wanita cantik, sedangkan Negara sesuatu yang sangat luas melampaui sebuah negeri. Jadi Tiara Sasta Negara, wanita cantik yang selalu dihormati karena keluasan ilmunya, salihah, pintar, dan cerdas.” Panjang lebar aku menjelaskan pada suami tentang arti nama calon bayiku. Alhamdulilah, beliau menerimanya.

Minggu, 13 Agustus 2006 dari pagi hingga sore perutku ini merasakan sesuatu yang berbeda sering nyeri, mungkin ini biasa dirasakan menjelang detik-detik kelahiran, aku menyikapinya dengan santai dan masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa ibu rumah tangga bahkan mencuci pakaian ke tempat pemandian umum sebuah mata air di daerahku.

Semakin siang semakin merasa ga karuan rasanya perut ini, “Kenapa Nak, mau lahiran sekarang kah? Hayu Ibu, insyaallah siap kita berjuang ya bersama-sama,” sambil kuelus perut ini.

“Ayah, tolong sore ini jangan main bola dulu, Ibu sepertinya mau mendekati kelahiran,” pintaku pada suami yang sudah bersiap-siap untuk main bola. Namun sayang, suami yang memang belum paham saat itu hanya bilang, “Sebentar kok, HPL kan besok tanggal 14. Ayah main bola dulu ya, nanti kalau ada apa-apa, suruh adekmu atau siapa saja menyusul ke lapangan.”

Hmmm bagaimana rasanya, ia yang terkadang lebih egois menurutku. Mau marah pun rasanya sudah habis tenaga ini. Ya, sudahlah, biarkan saja. Jarak lapangan bola dengan rumah pun tak terlalu jauh.

Tetiba ada sepupu datang dan melihatku sedang meringis menahan sakit. “Kamu kenapa? Mau lahiran? Iwan ke mana?” tanyanya beruntun.

“Sepertinya iya, Iwan lagi main bola,” jawabku.

“Astaghfirullah, istri mau lahiran, malah sempat main bola.” Ia pun memberitahu adik-adikku untuk menyusul suami dan memberitahu mamah mertua.

Pukul enam menjelang Magrib, akhirnya aku dibawa ke Puskesmas terdekat sesuai domisiliku berada. Saat itu, menggunakan mobil pick up atau kijang buntung punya tetangga. Aku berada di depan bersama mamah mertua juga supir dan suami di belakang. Merasakan nikmatnya menjadi wanita seutuhnya, Masya Allah. Tepat pukul tujuh malam, saat azan isya berkumandang, Tiaraku lahir dengan selamat, sehat, dan sebagai manusia secara fisik sempurna. Rasa sakit beberapa jam yang lalu rasanya hilang semua, mendengar tangis bayi merah yang mungil dan cantik dengan berat 3 kilogram.

Hadirnya bayi kecil yang cantik makin menambah kebahagiaan rumah tanggaku. Meski secara ekonomi kami masih terus tertatih, tetapi suami pun makin bertambah dewasa, tidak seegois ketika belum ada Tiara. Kehadiran Tiara menjadi penyemangat untuk kami lebih baik lagi dalam segala hal.

Akhirnya, penantian ini berbuah manis. Tiaraku tumbuh sehat, cerdas, lucu, dan makin menggemaskan dari waktu ke waktu. Tiara hadir menjadi penyempurna keluarga. Kebahagiaan yang tidak hanya dirasakan olehku dan suami, tapi oleh seluruh keluargaku. Kasih sayang yang berlimpah dari kakek neneknya juga om dan tante-tantenya. Tiara bagaikan berlian yang berkilau yang selalu dijaga, tak boleh tergores sedikit pun.

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia.Com) [CM/Na]

Views: 42

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *