#30MBCM
Oleh: Linda Ariyanti
CemerlangMedia.Com — Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)
***
Pagi itu, langit seolah runtuh untuk yang kedua kalinya. Suara dari seberang sana mengabarkan kepadaku bahwa dia telah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Sebagai muslim, aku memahami dan meyakini bahwa ajal pasti datang. Hanya saja, aku tak menyangka akan ditinggalkan kakak perempuanku secepat ini.
Air mataku jatuh bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba saja turun. Langit seolah ikut menangis, kehilangan satu penduduk bumi yang taat beribadah, taat kepada suami, aktif berdakwah, serta senantiasa menolong sesama. Perlahan kubuka kain penutup wajahnya, tak ada lagi tatapan mata itu. Kucium tubuhnya yang sudah terbujur kaku, tetapi masih hangat kurasakan. Dalam hati aku berharap, dia hanya mati suri dan akan hidup kembali.
Sungguh, aku yakin dia pergi dengan tenang bersama malaikat maut yang tidak menakutkan. Sebab, wajahnya terlihat cantik dengan senyuman yang menawan. Bahkan, tubuhnya harum dan makin semerbak setelah dimandikan. Aku seperti mencium aroma Surga, insyaAllah. Rangkaian pengurusan jenazah akhirnya selesai. Dan aku hanya bisa melihat namanya di pusara.
Jangan Meratapi
Kematian adalah hal yang pasti, tidak ada manusia yang kekal abadi di dunia ini. Semua akan kembali kepada-Nya. Kita yang hari ini hidup, sejatinya sedang menunggu giliran. Jika kain kafan sudah selesai ditenun, kita semua akan berpulang menemui Rabbul’alamin. Mau tidak mau, suka atau tidak suka. Karena dunia hanya tempat persinggahan sementara.
Kesedihan pasti dirasakan saat kehilangan orang tersayang. Tetapi dalam Islam, meratapi mayit adalah hal terlarang. Bahkan, pelakunya akan mendapatkan siksa pedih di akhirat. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Wanita yang meratapi mayit, jika dia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dengan memakai kain (baju) yang terbuat dari timah cair dan memakai pakaian dari kudis.” (HR Muslim).
Maka, bagaimanapun luka itu menganga, kita diperintahkan untuk ikhlas dan lapang dada menerimanya. Sebab, kematian adalah takdir (qada) yang harus diimani. Jangan larut dalam kesedihan, tetapi jadikan sebagai pengingat untuk terus melakukan kebaikan, agar kita memiliki cukup bekal untuk pulang.
Perbanyak Amal Kebaikan
Kematian bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan panjang. Setelah jasad kita dikebumikan, ada kehidupan alam kubur yang harus kita lalui. Kemudian saat hari kiamat datang, ada hari kebangkitan, pengumpulan, penghisaban dan terakhir hari pembalasan. Seluruh perbuatan yang kita lakukan akan mendapat balasan. Amal kebaikan akan mendapat balasan surga, sementara amal keburukan akan berujung siksa api neraka. Allah Swt. berfirman dalam QS Az-Zalzalah ayat 7-8:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ (٧) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ (٨)
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”
Setelah kurenungkan, kematian indah kakak perempuanku tentu karena amal kebaikan yang dia lakukan. Sebagai anak, dia tidak pernah membantah ucapan orang tua. Sebagai saudara, dia yang paling peduli dan hadir dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Sebagai teman, dia juga senantiasa membantu orang yang kesulitan. Sebagai ibu, dia mempersiapkan generasi yang taat beribadah dan kuat iman. Terakhir, sebagai pengemban dakwah, tak sehari pun dia lalui tanpa menghadiri kajian dan mengajak muslimah lainnya untuk hijrah. Bahkan, dia yang menghimpun ibu-ibu kompleks dalam majelis kajian bernama Al Kahfi.
Sebagai manusia, kita semua pasti memiliki dosa. Satu-satunya manusia suci yang terbebas dari dosa hanyalah Rasulullah saw. karena Allah Swt. sudah menjaminnya. Sementara kita, tiap detik tiap waktu berpeluang melakukan kesalahan dan kemaksiatan. Maka, sudah selayaknya kita makin giat dalam melakukan amal kabaikan agar pahala kita lebih berat timbangannya daripada dosa. Kebaikan adalah segala hal yang Allah ridai, sementara keburukan adalah segala hal yang Allah benci.
Khatimah
Sudah saatnya kita move on dari kemaksiatan dan move up pada ketaatan. Ingatlan lima perkara sebelum lima perkara. Pertama, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Kedua, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu. Ketiga, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Keempat, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Terakhir, hidupmu sebelum datang matimu.
(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 43






















