Masih Dibanjiri Derita: Dunia Bilang “Gaza Baik-Baik Saja”?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Vivi Nurwida

CemerlangMedia.Com — Ada ironi yang menyakitkan ketika berbicara tentang Gaza hari ini. Dunia berkali-kali menyebut kata gencatan senjata, seolah semua penderitaan terhenti begitu saja ketika tinta kesepakatan ditandatangani. Namun, bagi rakyat Gaza, “damai” itu hanyalah kabar yang indah di layar televisi, bukan kenyataan yang mereka rasakan di tanah yang becek dan penuh reruntuhan.

Ketika hujan musim dingin turun, tenda-tenda yang rapuh tidak mampu menahan derasnya air. Banyak tenda sobek, roboh, atau terangkat angin, membuat keluarga-keluarga Palestina menggigil di tengah malam yang basah. Anak-anak kedinginan, orang tua merapatkan tubuh mereka untuk melindungi keluarga dengan cara paling sederhana: memeluk erat agar tubuh anak tetap hangat. Badan Pengungsi Palestina UNRWA menggambarkan situasi ini sebagai “memburuk dengan cepat” karena tenda tidak lagi berfungsi sebagai tempat berlindung (AntaraNews, 15-11-2025).

Lebih menyayat lagi, di balik “gencatan senjata”, pintu-pintu Gaza tetap terkunci. Material penting, seperti tenda yang kuat, alat bantu bangunan darurat, rumah mobil dan perlengkapan keselamatan tidak diizinkan masuk. UNRWA, bahkan secara resmi meminta Israel mengizinkan masuknya perlengkapan pertolongan darurat karena kondisi di kamp-kamp pengungsian makin berbahaya. Namun, permintaan itu tak digubris.

Walaupun dunia berbicara tentang “redanya pertempuran”, tetapi korban terus berjatuhan. Sejak gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, lebih dari 260 warga Palestina telah gugur dan lebih dari 630 orang mengalami luka-luka akibat serangan, sisa-sisa amunisi, penyakit, dan kondisi hidup yang tidak manusiawi. Angka-angka ini berasal dari laporan resmi lembaga kemanusiaan internasional dan masing-masing angka adalah nyawa yang tidak sempat menikmati sesuatu yang bernama “perdamaian”.

Akan tetapi, dunia tetap berkata, “Gaza sudah lebih baik.” Betapa kejam sebuah narasi bisa bekerja. Israel sendiri telah menewaskan lebih dari 69.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, di Gaza sejak Oktober 2023 dan menghancurkan daerah kantong itu hingga rata dengan tanah.

Gencatan Senjata: Istirahat Bagi Penjajah

Jika ada satu pelajaran dari gelombang tragedi ini, maka inilah dia: gencatan senjata bukanlah solusi, apalagi penyembuh. Ia hanya jeda yang menguntungkan penjajah, bukan penyelamat bagi yang tertindas.

Di satu sisi, dunia berupaya menampilkan citra stabil. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya: blokade tetap berjalan, bantuan ditahan, dan warga sipil terus hidup tanpa jaminan keselamatan. Banjir, dingin, dan kurangnya perlengkapan membuat tenda-tenda pengungsian berubah dari tempat perlindungan menjadi perangkap kematian pelan-pelan.

Narasi “semuanya membaik” itu muncul bukan dari fakta lapangan, tetapi dari kepentingan politik global. Amerika Serikat dan negara-negara Barat berupaya mempertahankan ilusi bahwa pendekatan mereka adalah jalan damai, padahal serangkaian laporan lapangan membuktikan kondisi kemanusiaan memburuk, meski gencatan senjata berjalan. Dengan kata lain, dunia sedang memoles tragedi agar terlihat lebih ringan.

Akar Masalah

Selama akar masalah tidak disentuh, penderitaan Gaza akan terus berulang. Akar itu bukan sekadar perang, bukan sekadar pertikaian dua pihak yang setara. Akar masalah itu bernama penjajahan. Selama dunia memberi ruang bagi penjajah untuk tetap berkuasa, maka setiap gencatan hanya menjadi topeng yang menutup luka, bukan mengobatinya.

Setiap negara besar yang ikut “menengahi” konflik sebenarnya hanya memperkuat status quo. Mereka tidak sedang memadamkan api, tetapi meniupnya pelan-pelan agar tetap hidup. Pendekatan Barat dari masa ke masa tidak pernah berorientasi pada pembebasan Palestina, tetapi pada pengelolaan konflik agar tetap menguntungkan pihak-pihak yang berkuasa. Oleh karena itu, tidak aneh apabila penderitaan Gaza makin berat justru setelah gencatan diumumkan.

Islam Solusi Hakiki

Ada poin yang sangat penting dan sering diabaikan: Gaza tidak hanya membutuhkan bantuan kemanusiaan. Gaza tidak hanya membutuhkan seruan solidaritas. Gaza tidak hanya membutuhkan kecaman dari podium konferensi internasional. Akan tetapi, Gaza membutuhkan perlindungan nyata.

Perlindungan itu terwujud pada masa-masa emas umat Islam hadir melalui institusi Khil4f4h, sebuah kepemimpinan tunggal yang menjadi junnah (perisai) bagi seluruh kaum muslim. Tanpa perisai itu, negeri-negeri muslim hari ini terpecah, tidak mampu menggerakkan kekuatan mereka untuk membela Gaza.

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.).

Solusi Islam bukan sekadar wacana teoritis, tetapi sistem yang pernah hidup selama berabad-abad lamanya. Ia pernah melindungi jutaan umat dari penjajahan, menegakkan keadilan, dan menyatukan kekuatan politik serta militer dalam satu komando.

Gaza membutuhkan jihad. Bukan jihad yang dipersempit maknanya oleh media Barat, tetapi jihad sebagai kekuatan politik dan militer negara Islam untuk membela mereka yang ditindas. Gaza juga membutuhkan Khil4f4h. Bukan sekadar simbol sejarah, tetapi institusi riil yang menyatukan negeri-negeri muslim agar mampu menutup penjajahan dari akarnya.

Selama umat masih mempersepsikan perjuangan Palestina sebagai isu kemanusiaan semata, bukan isu ideologis dan politik, maka penderitaan Gaza akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Saatnya Berhenti Tertipu Narasi Dunia

Hari ini, dunia mungkin percaya bahwa Gaza “berada di jalur pemulihan”. Akan tetapi bagi umat Islam, yang membaca laporan lapangan, mendengar tangis para ibu, dan memahami akar persoalan, harus tahu bahwa penderitaan itu belum berakhir. Umat harus tahu bahwa dunia sedang salah melihat. Lebih penting lagi, umat harus tahu harus menyadari bahwa posisi kaum muslim bukan sebagai penonton, tetapi sebagai umat yang memiliki kewajiban syar’i untuk menolong saudara.

Gaza tidak membutuhkan rasa iba yang cepat menguap. Gaza membutuhkan kesadaran ideologis.
Gaza membutuhkan kebangkitan.
Gaza membutuhkan Khil4f4h yang menjadi perisai umat. Untuk itu, mari terus suarakan solusi itu sampai hari kemenangan tiba.

Wallahu a‘lam bisshawab.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 49

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *