Goresan Cinta untuk Tiara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Titin Kartini
Bab 8 Tenanglah Ibu, Ada Kakak

CemerlangMedia.Com — Empat hari di rumah sakit swasta, keadaan suami belum juga membaik. Ada satu pemeriksaan yang harus dilakukan, tetapi sayang, di rumah sakit tersebut alatnya tak tersedia. Dokter pun menyarankan mencari rumah sakit baru yang menyediakan pelayanan tersebut.

Dibantu para sahabat ayah, para pengemban dakwah Islam mencari informasi dengan segera. Suami dibawa menggunakan angkutan umum ke daerah Cisarua Kabupaten Bogor dengan keadaan masih seperti itu, tidak mengenaliku. Kami berdua plus bertiga dengan sopir angkot, terus komunikasi dengan sahabat suami yang juga mengikuti menggunakan motor.

Malam sampai daerah Cisarua, dengan segala macam administrasi, tetapi akhirnya ditolak dengan alasan tak ada alat medis yang disebutkan dari rumah sakit pertama. Padahal rumah sakit tersebut rumah sakit khusus paru-paru dan suami diagnosa dokter TB meningitis.

“Ibu, jika mau, saya masukan ke pasien covid saja,” saran seorang petugas.

Saat itu memang sedang mewabah covid, tetapi tentunya risiko berat harus ditanggung oleh suami, juga aku. Sudah pasti keluargaku akan diisolasi. Padahal dalam keterangan rumah sakit pertama, suamiku bebas covid.

“Astaghfirullah,” tak henti-hentinya aku beristighfar, memohon ampunan dan pertolongan dari-Nya.

Pukul 11 malam sampailah pada rumah sakit kedua milik pemerintah yang berada di Kota Bogor. Pukul dua dini hari, suami baru ditempatkan di kamar perawatan.

Komunikasi terus berjalan dengan Kakak Tiara melalui ustazahnya. Namun, koneksi internet yang buruk menjadi, komunikasi kami tak semulus saat di rumah sakit pertama. Ia kerap ingin video call, tetapi qadarullah, tak pernah bisa.

Malam ketiga suami mengalami pendarahan yang membuatku panik. Hari keempat tak ada tindakan yang signifikan dari dokter. Akhirnya, aku memutuskan untuk membawa pulang, selain pelayanan yang aku rasa tidak maksimal, ruangan yang digunakan untuk suami pun jauh dari kata layak.

Perjanjian hitam di atas putih pun terjadi. Jika suatu saat terjadi apa-apa dengan suami, pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab.

Kuambil risiko itu, tentunya dengan bermusyawarah bersama keluarga juga para guru dan sahabat-sahabat suami yang ikut mengurusi dari rumah sakit pertama hingga kedua. Aku selalu berkabar pada Tiara, ayahnya makin membaik. Ini memang salah, tetapi aku takut, Tiaraku terbebani.

Akhirnya, suami tiba di rumah, aku pun segera mengabari Tiara. Malam ketiga di rumah, Tiaraku telepon. Seperti biasa, menanyakan kabar dan kondisi ayahnya. Kudekatkan gadget pada telinga suami agar ia mendengar suara putrinya, meski tak tahu, apakah ia akan merespons atau tidak.

“Assalamualaikum. Ayah, bagaimana kabarnya? Ayah lekas sehat, ya, Kakak sayang Ayah karena Allah.” Suatu keajaiban, sang ayah merespons walau dengan jawaban singkat, “Ya.”

Senangnya Tiara mendengar suara sang ayah, begitu pun dengan aku. Ada harapan besar pada diri ini bahwa suami pasti sehat kembali.

Memasuki hari keempat, pada malam harinya, suami tak mau tidur. Matanya terus melihat ke atas sampai aku telepon sahabat suami dan memvideokan hal aneh tersebut.

“Babah, tolong jagain dulu ayah Tiara, Titin mau salat Subuh dulu,” pintaku pada bapak mertua yang baru saja pulang dari musala.

Selepas salat Subuh, aku mengelap suami, mengganti pakaiannya, menyuapinya makan hingga meminumkan obat. Aku beranjak sebentar untuk menjemur pakaian.

Kulihat suami makin aneh, dari kaki sampai pinggang terasa sangat dingin. Dingin sekali, tetapi dari pinggang ke atas masih terasa hangat. Kudekati ia sambil berbisik di telinganya, “Ayah, kenapa? Ibu ada di sini bersama Ayah.” Namun, hati ini merasakan akan ada sesuatu.

Aku tak beranjak dari sisinya. Aku berada di kiri dan putriku, Kyara berada di sebelah kanannya. Kalimat “La illa ha illallah” terus kubisikan dan setelah tiga kali kalimat tersebut, kepala suami menyentuh pipiku seperti orang pingsan. “Ayah, kenapa?” Tak ada respons. Putriku, Kyara sudah menangis histeris, semua orang berdatangan mendengar Isak tangisku.

Ahad, 13 Desember 2020, pukul 07.30 wib, suamiku menghembuskan napas terakhirnya. “Innalilahi wa innailaihi raajiuun,” ucapku.

Tiaraku datang dari pondok. Tiaak ada tangis histeris, tetapi aku tahu, tangisnya ia tahan. Ia peluk sang ayah, ia kecup keningnya.

Tiara memelukku yang terus menangis, ia menatapku dan berkata, “Tenanglah, Ibu, ada Kakak,” ucapnya sambil tersenyum getir.

Tiaraku hadir bak gadis remaja yang sudah dewasa. Ia yang menenangkan aku.

“Dahulu kita bareng-bareng suka mengurus jenazah. Kini, saya mengurus jenazah antum. Antum paling semangat membantu kalau ada yang meninggal, mulai dari memandikan, mengafani, masya Allah, sekarang antum yang saya kafani,” ucap seorang tetangga yang memang biasa bersama suami mengurus setiap ada musibah kematian di daerah kami.

Tiga bulan lamanya aku seperti orang linglung. Berjalan seperti tidak menapak. Namun, Tiaraku yang selalu memberi semangat dan harapan serta mengingatkan bahwa ini ketetapan Allah yang tidak bisa kita ubah.

“Ibu harus ikhlas, ada Kakak, Teteh Kyara, dan Ade Salman yang akan menjadi penyemangat Ibu. Ibu bisa, Ibu hebat. Ayo Ibu, kita bangkit, kasian Ayah, kalau Ibu begini. Jangan nangis terus,”ucapnya.

Masya Allah, Tiaraku, begitu dewasa. Hadir sebagai penyemangat hidupku. Selalu dengan kalimat, “Tenanglah Ibu, ada Kakak.”

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 26

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *