#30HMBCM
Oleh: Vivi Nurwida
CemerlangMedia.Com — Sulit membayangkan bahwa sebuah negeri yang dikaruniai begitu banyak kekayaan alam justru terjerumus ke dalam krisis berkepanjangan. Begitulah Sudan hari ini. Dunia seolah memandang negeri itu dengan lensa buram: konflik etnis, perang saudara, perebutan suku, dan narasi-narasi dangkal lainnya, padahal apa yang terjadi di Sudan sama sekali bukan konflik kecil antar kelompok. Akan tetapi, arena perebutan kekuasaan global, tempat negara-negara adidaya mengadu pengaruh demi menancapkan kuku hegemoninya.
Sudan bukan negeri miskin. Sudan bukan negeri tanpa nilai ekonomi. Justru sebaliknya, Sudan adalah salah satu negeri terkaya di Afrika, bahkan menempati posisi kedua dalam kelimpahan mineral strategis. Negeri ini menyimpan emas, minyak, gas alam, tembaga, kromit, mangan, seng, uranium, hingga berbagai batu mineral industri. Tanahnya subur karena dialiri Sungai Nil yang legendaris. Sektor pertaniannya begitu kaya hingga Sudan pernah dijuluki “breadbasket of Africa” atau keranjang pangan benua itu.
Secara geopolitik, Sudan berdiri di titik paling strategis, yakni di antara Sungai Nil dan Laut Merah, dua jalur vital dunia. Ia adalah gerbang perdagangan, jalur energi, dan titik unggulan transportasi. Maka, mustahil Sudan dibiarkan berdiri sebagai negeri yang merdeka secara politik, apalagi sebagai negeri Muslim yang memimpikan penerapan syariat Islam.
Karena sesungguhnya, di balik layar, Sudan sedang digempur oleh persaingan dua kekuatan besar, yakni Inggris dan Amerika Serikat yang sama-sama ingin menancapkan hegemoninya. Inggris sejak lama mengincar Sudan, terutama bagian selatan yang kaya minyak dan gas. Sementara AS, sebagai pemimpin kapitalisme global, tidak sudi apabila Inggris memonopoli pengaruh di wilayah strategis semacam ini. Apalagi AS sedang menjalankan proyek besar “New Middle East” yang menjadikan entitas Zion*s sebagai jangkar utama kepentingannya di kawasan. Dengan kata lain, siapa pun yang mengendalikan Sudan, mengendalikan sebagian jalur energi dan pangan dunia.
Sudan dan Kedengkian Negara Adidaya
Sejak Sudan merdeka, peran Barat tidak pernah hilang. Inggris mendorong pembentukan elite nasionalis yang gampang dikendalikan. AS menyusup lewat bantuan internasional, konsultan politik, dan lembaga-lembaga kemanusiaan yang sejatinya membawa agenda geopolitik.
Akan tetapi, ada satu hal yang membuat para penjajah makin gerah yaitu munculnya faksi-faksi Islam di Sudan yang menyerukan syariat dan menginginkan kedaulatan hakiki. Beberapa pemerintahan, bahkan menjadikan Islam sebagai dasar konstitusi.
Di sinilah masalahnya. Bagi kapitalisme global, Islam, dalam bentuk politiknya adalah ancaman terbesar, bukan sekadar keyakinan pribadi. Mereka bisa mentoleransi aktivitas ibadah ritual, tetapi mereka tidak akan pernah menerima Islam yang mengatur negara, sumber daya, dan kedaulatan. Oleh karena itu, siapa pun yang mencoba membawa Sudan kembali kepada Islam, akan dihadang, dilemahkan, dijatuhkan, atau dimonsterkan oleh media global.
Ketika Solidaritas Umat Luntur
Nasionalisme sempit yang ditanamkan kolonialis berhasil memutus persaudaraan umat Islam lintas negeri. Muslim di berbagai negara memandang tragedi Sudan seperti tragedi bangsa asing yang jauh dari urusan mereka, padahal Sudan adalah negeri kaum muslim, tanah yang seharusnya dihormati dan dibela sebagaimana kita membela tanah air sendiri.
Rasulullah saw. telah menggambarkan kondisi seperti ini dalam hadis yang masyhur, “Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang memperebutkan makanan di mangkuk. Lalu seorang sahabat bertanya, ‘Apakah saat itu jumlah kami sedikit, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak. Bahkan kalian pada saat itu sangat banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari hati musuh kalian terhadap kalian, dan Allah memasukkan dalam hati kalian al-wahn.’ Mereka bertanya, ‘Apakah al-wahn itu?’ Beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati.’” (HR Abu Dawud).
Sudan adalah potret nyata hadis ini. Negeri yang kaya, strategis, penuh potensi, tetapi menjadi mangsa perebutan bangsa-bangsa. Bukan karena mereka lemah secara jumlah, tetapi karena mereka kehilangan satu hal paling penting, yaitu kesatuan politik umat dan pemimpin yang menerapkan syariat secara kafah.
Skenario Licik untuk Menjarah Negeri Kaya
Apa yang tampak sebagai pertikaian internal Sudan sesungguhnya adalah pertarungan dua blok besar, yaitu Inggris dengan jaringan politik lamanya, Amerika Serikat dengan ambisi hegemoninya, serta negara-negara boneka yang dikendalikan kedua kekuatan ini dari jauh.
Masing-masing ingin menempatkan Sudan sebagai satelit pengaruhnya. Dan yang diperebutkan bukan rakyat Sudan, tetapi emas mereka, minyak mereka, gas mereka, tanah subur mereka, jalur strategis mereka.
Krisis ini bukan lahir dari kebencian suku. Krisis ini lahir dari ketamakan adidaya. Sebab itulah, Sudan dipecah. Sebab itulah, Sudan tidak dibuat stabil. Sebab, apabila Sudan stabil, apalagi kembali kepada Islam sebagai sistem politik, kapitalisme global akan kehilangan salah satu ladang emas terbesarnya.
Penutup
Sudan bukan satu-satunya negeri kaya yang dibuat hancur agar adidaya dapat mencuri sumber daya. Akan tetapi, Sudan adalah contoh paling gamblang bagaimana sistem global hari ini bekerja, yakni membiarkan negeri kaya tenggelam dalam perang yang direkayasa, menjaga pemerintahan lemah agar mudah dikendalikan, menggunakan media untuk memanipulasi opini publik, dan menyembunyikan fakta bahwa krisis sebenarnya adalah penjajahan gaya baru.
Umat Islam harus membuka mata. Sudan bukan sekadar konflik suku atau perang etnis. Sudan adalah negeri kaya yang direbutkan oleh kekuatan kapitalis dunia, dan rakyatnya menjadi korban dari perebutan pengaruh itu. Selama umat terus terpecah oleh nasionalisme, tragedi Sudan akan terus berulang di negeri-negeri muslim lainnya.
Sudan mengajarkan kita bahwa selama umat tidak kembali kepada syariat Allah dan bersatu di bawah kepemimpinan Islam, maka penderitaan hanya akan berputar terus dalam lingkaran setan kapitalisme. Inilah urgensi persatuan umat. Saatnya umat Islam berjuang menegakkan sistem Islam secara kafah. Hanya dengan itu, darah Sudan akan berhenti mengalir dan rahmat Allah akan kembali turun di bumi. Wallahu a‘lam bisshawab.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 43






















