Kapitalisme Sekuler Melahirkan Nakes Nirempati

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Zakiah Ummu Faaza

Jaminan kesehatan yang layak hanya akan dinikmati jika Islam menjadi asas dalam mengatur negara. Hal ini adalah bentuk pertanggungjawaban dunia dan akhirat.

CemerlangMedia.Com — Sebagai manusia yang diberikan amanah untuk menjadi tenaga kesehatan di tengah-tengah masyarakat, tentunya harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan kepribadian yang baik. Mereka adalah sosok yang diharapkan memberikan ketenangan dan obat bagi para pasiennya. Namun, pada kenyataannya, nakes melakukan perundungan tehadap seorang pria yang mengeluhkan pelayanan kesehatan di medsos.

Dilansir dari portal daring, sebuah unggahan viral di media sosial Threads dari pasien BPJS kesehatan yang mengeluhkan belum mendapat ruang rawat inap meski telah menunggu lama. Beragam komentar, termasuk dari sejumlah akun yang diduga milik dokter dan nakes dinilai tidak menunjukkan empati. Selain itu, fakta di lapangan juga menunjukkan RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional memiliki kapasitas terbatas dalam menyediakan kamar perawatan sehingga pasien harus menunggu delapan jam (cnnindonesia.com, 8-8-2026).

Fenomena tersebut membuktikan bahwa kondisi pelayanan kesehatan saat ini sangat memprihatinkan. Komentar dari dokter dan nakes terhadap pasien BPJS menunjukkan sikap nirempati (cacat kepribadian). Mereka tega berkata yang tidak pantas terhadap pasien yang kondisinya benar-benar sangat membutuhkan pertolongan. Padahal, nakes adalah orang yang berpendidikan tinggi, bahkan dipercaya sebagai pelayan masyarakat.

Selain itu, pasien BPJS juga menunggu terlalu lama hingga delapan jam lamanya untuk mendapatkan ruang perawatan yang layak. Hal itu adalah bukti kondisi sistem kesehatan saat ini rusak dan diskriminatif. Jaminan kesehatan yang seharusnya ditanggung negara secara merata, justru dibebankan kepada pasien. Fasilitas dan kecepatan pelayanan kesehatan tergantung kepada kemampuan pasien (objek bisnis).

Sistem Kapitalisme Sekuler Penyebabnya

Sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan di negeri ini melahirkan kepribadian yang cacat/nirempati. Kepribadian ini lahir dari pola pikir dan pola sikap yang tidak islami, terus-menerus berlangsung dan menjadi kebiasaan umum di masyarakat. Salah satu faktor utama yang membentuk kepribadian tersebut adalah sistem pendidikan.

Sistem pendidikan sekularisme yang asasnya hanya mengejar nilai tinggi semata tanpa memedulikan akhlak, moral, serta ketakwaan siswanya, melahirkan perilaku nirempati. Sistem ini juga yang membuat generasi jauh dari agamanya, tidak mengenal halal dan haram dalam melakukan suatu perbuatan. Oleh karena itu, wajar jika terbentuk karakter manusia yang suka menghina dan melakukan perundungan, baik itu di dunia nyata maupun dunia maya.

Selain itu, dalam sistem kapitalisme, kesehatan ibarat barang mahal bagi rakyat. Kesehatan akan didapatkan dengan mudah jika rakyat mampu membayar secara tunai ataupun melalui jalur BPJS kelas atas dengan pembayaran tertentu. Jadi, bukanlah hal yang aneh dalam sistem kapitalisme ini jika banyak pasien yang meninggal akibat tidak ditangani segera oleh rumah sakit.

Negara sebagai pengurus rakyat seharusnya mampu melahirkan generasi beriman dan bertakwa. Hal ini sebagai landasan kepribadiannya sehingga mampu mengenal halal dan haram. Pada saat berkata ataupun bertindak, mereka akan senantiasa merasa diawasi.

Negara juga seharusnya mampu memberikan pelayanan kesehatan yang merata bagi setiap lapisan masyarakat tanpa memandang kelas sosial karena kesehatan adalah kebutuhan seluruh masyarakat. Sayangnya, semua ini tidak dapat terwujud. Justru masyarakat berjuang sendirian untuk kesehatannya.

Solusinya Hanya Islam

Islam adalah agama sekaligus mabda. Islam bukan hanya mengatur ibadah semata, tetapi mengatur semua aspek kehidupan, termasuk di dalamnya layanan kesehatan. Dalam Islam, sistem kesehatan merupakan hak dasar sehingga akan senantiasa dijamin oleh negara sepenuhnya, mulai dari pelayanan nakes hingga pembiayaan.

Pembiayaan kesehatan berasal dari baitulmal yang dananya bersumber dari pengelolaan harta milik umum, seperti sumber daya alam yang dikelola negara sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Artinya, jaminan kesehatan dalam sistem Islam benar-benar terwujud karena dalam hal ini peran negara sangat menonjol sebagai ra’in.

Negara Islam memberikan pelayanan kesehatan gratis, merata, dan berkualitas tinggi. Seluruh masyarakat diberikan pelayan kesehatan dengan sebaik mungkin tanpa memandang status sosial ataupun agama. Negara mengurusi sepenuhnya jaminan kesehatan masyarakat tanpa melibatkan swasta (asing) sehingga kehadiran peran pengurus rakyat berikut tanggung jawabnya benar-benar dirasakan.

Gambaran pelayanan kesehatan yang diatur Islam pada masanya adalah menyediakan infrastruktur dan fasilitas kesehatan yang memadai. Pada masa Islam, hampir semua kota besar memiliki rumah sakit. Di Kairo, RS Qalaqun dapat menampung hingga 8.000 pasien.

Semua RS pada masa Daulah Islam sangat lengkap, termasuk tes kompetensi bagi setiap dokter dan tenaga kesehatan. Bahkan, rumah sakit menjadi tempat favorit para pelancong asing yang ingin sedikit merasakan pelayanan mewah tanpa biaya karena seluruhnya gratis. Namun, apabila terbukti tidak sakit, mereka akan diperkenankan pergi karena kewajiban menjamu musafir hanya tiga hari, sebagaimana dalam hadis,

الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَمَا أَنْفَقَ عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ
“Menjamu tamu itu adalah tiga hari, dan hak istimewanya adalah sehari semalam. Apa yang dinafkahkan (diberikan) setelah itu adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ditambah lagi, pembiayaan sistem kesehatan dilakukan sepenuhnya oleh negara. Pembiayaan tersebut dari pos-pos pemasukan baitulmal yang salah satunya berasal dari pengelolaan barang tambang yang melimpah ruah. Negara juga menyiapkan semua fasilitas kesehatan dengan membentuk lembaga wakaf bagi individu yang ingin beramal dan berkontribusi untuk kepentingan umat sehingga banyak madrasah dan fasilitas kesehatan bebas biaya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa jaminan kesehatan yang layak hanya akan dinikmati jika Islam menjadi asas dalam mengatur negara. Hal ini adalah bentuk pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Alhasil, masyarakat akan merasakan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan tidak perlu khawatir lagi akan biaya pengobatan.

Oleh karena itu, perlu disadari bersama bahwa solusi tuntas atas persoalan nirempati nakes serta pelayanan kesehatan yang tidak tersedia adalah dengan mencampakkan sistem buatan manusia yang rusak dan merusak. Kemudian kembali kepada sistem yang sahih, sistem buatan Sang Pencipta dengan penerapannya dalam seluruh aspek kehidupan. [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *