Oleh: Siti Norwahidah
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Kalimat itu masih tersimpan jelas di sudut ingatanku. Sejak kecil, aku kerap mendengarnya dari keluarga maupun orang-orang di sekitarku. Mula-mula, kuanggap itu hanya gurauan yang akan berlalu bersama tawa.
Namun, waktu mengajarkanku bahwa kata-kata pun dapat meninggalkan luka. Perlahan, kalimat itu tumbuh menjadi suara yang menetap di kepalaku, membuatku meragukan diri sendiri hingga tanpa kusadari, aku tumbuh dengan rasa tidak percaya diri.
Aku masih mengingat suatu hari ketika mengikuti ibu menghadiri acara keluarga. Di tengah keramaian, aku menyadari perbedaan yang selama ini berusaha kuabaikan. Kulitku lebih gelap dibandingkan sebagian besar anggota keluarga yang berkulit putih dan berparas rupawan.
Ketika suasana mulai mereda, seorang nenek tiba-tiba melontarkan komentar yang hingga kini masih bergaung dalam benakku.
“Mengapa hitam sekali kulitmu? Tidak seputih dan secantik kakakmu.”
Aku hanya terdiam. Namun, di dalam dada, sesuatu terasa runtuh, seperti kaca bening yang pecah tanpa suara. Sedikit demi sedikit, perkataan bernada rasis yang kudengar mengikis kepercayaan diriku. Aku menjadi pemalu dan mulai menjauh dari keramaian. Bahkan, aku kesulitan menerima pujian karena pikiranku selalu mencari alasan untuk menyangkal hal-hal baik tentang diriku.
Pada suatu malam, aku berdiri di hadapan cermin dengan mata yang digenangi air mata. Aku seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang selama ini terlalu sering kusalahkan hanya karena terlahir berbeda. Aku lelah memandang diriku melalui mata orang lain, lelah merasa kurang hanya karena tidak sesuai dengan ukuran kecantikan yang mereka ciptakan.
Di tengah kesunyian, kukumpulkan keberanian untuk menguatkan diriku sendiri.
“Aku tidak seburuk yang selama ini kupikirkan. Aku berharga. Aku cantik dengan caraku sendiri. Aku tidak pantas direndahkan hanya karena penampilanku berbeda.”
Cermin di hadapanku tidak berubah. Warna kulitku pun tetap sama. Namun, malam itu, sesuatu di dalam diriku mulai bergeser. Aku ingin belajar melihat diriku bukan dari luka akibat perkataan orang lain, melainkan dari keberanian untuk tetap menghargai diri sendiri.
Dari perjalanan itu, aku belajar bahwa penampilan bukanlah ukuran harga diri. Perbedaan bukan alasan untuk merasa rendah, dan pujian orang lain bukanlah syarat agar aku merasa berharga. Luka itu mungkin masih meninggalkan bekas, tetapi bekas luka bukanlah akhir cerita. Ia menjadi pengingat bahwa aku pernah terluka, tetapi memilih untuk pulih dan terus bertumbuh.
Kini, aku ingin terus belajar menerima diriku apa adanya, dengan warna kulit dan segala hal yang menjadikanku diriku sendiri. Sebab, aku berhak mencintai dan menghargai diriku, bahkan sebelum dunia belajar melakukannya. [CM/NA]
Views: 3






















