Di Kala Sunyi Menelan Namaku

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Nila Saadah Al Karomah

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Ada masa ketika aku mengira bahwa menjadi seseorang berarti harus memiliki tempat di antara banyak orang. Aku pernah memandangi dunia dari pinggirnya, menyaksikan tawa yang tidak menjadi milikku, mendengar percakapan yang tidak menyertakan namaku, dan melewati hari-hari seolah keberadaanku hanyalah bayangan kecil di antara riuhnya kehidupan.

Aku memulai perjalanan hidupku di tengah keluarga yang menyambut kehadiranku dengan harapan dan doa. Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi anak kecil yang perlahan mengenal dunia di sekitarku. Hingga pada usiaku yang kelima, abangku pergi meninggalkanku dan menetap di rumah kakek. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk memahami arti sebuah kepergian. Aku hanya menjalani hari-hariku seperti biasa, sementara waktu perlahan membawaku melewati berbagai pengalaman.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah memiliki seorang teman, tetapi ia kemudian pindah. Sejak kelas dua hingga kelas empat, aku lebih sering sendirian. Ketika bel istirahat berbunyi, anak-anak bermain dan tertawa bersama, sedangkan aku duduk di teras sekolah sambil bersandar pada tiang, memandangi mereka dari kejauhan.

Aku juga pernah mengalami perlakuan buruk dari teman-teman, mulai dari cubitan yang meninggalkan luka hingga tanganku yang dicengkeram di jembatan sepulang sekolah. Mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa ketika orang lain lewat, sementara aku menahan tangis, berusaha agar air mataku tidak jatuh membasahi pipi. Masa kecil itu mengenalkanku pada kesepian sebelum aku benar-benar memahami artinya.

Di kelas empat, aku pernah membeli lima buku tebal yang sangat kusukai. Dengan gembira, kutuliskan namaku di halaman pertama setiap buku. Namun, sebelum pelajaran dimulai, semuanya menghilang dari tasku. Ketika menjelaskan kejadian itu, aku justru mendapat ucapan menyakitkan dari guru, seolah aku sengaja tidak membawa buku karena merasa sudah ‘pintar’.

Aku sedih karena kejujuranku tidak dipercaya. Meski begitu, hidupku terus berjalan. Aku yang pernah mendapat peringkat terakhir di kelas satu, perlahan menunjukkan kemampuanku. Di kelas empat, aku meraih peringkat kedua, lalu peringkat ketiga di kelas enam. Awal yang sulit tidak menentukan akhir perjalanan.

Memasuki masa SMP, kehidupanku mulai memiliki warna baru. Aku memiliki sahabat-sahabat yang menjadi bagian dari kenangan masa sekolahku. Sewaktu di kelas tujuh, sebuah kejutan datang: aku meraih peringkat pertama. Awalnya, aku hanya berdesakan untuk melihat siapa yang mendapatkan hadiah.

Aku melihat yang berada di peringkat kedua sampai bersujud dan yang di peringkat ketiga gembira, tidak menyangka namakulah yang berada di urutan teratas. Ibuku bahkan sudah menangis haru sebelum namaku dipanggil. Saat itu, kebahagiaan terasa begitu besar, seolah usaha yang selama ini kulakukan akhirnya membuahkan hasil yang tidak pernah kubayangkan.

Aku terus berusaha mempertahankan prestasiku hingga lulus SMP. Setiap kali ayah dipanggil untuk menerima penghargaan atas pencapaianku, terlihat ada bangga di wajahnya. Bagiku, prestasi bukan sekadar angka atau piala, melainkan bukti dari usaha yang kulakukan sedikit demi sedikit.

Memasuki SMA, aku mulai menjalani hari-hari dengan caraku sendiri. Aku tidak lagi terlalu sibuk memikirkan bagaimana agar diterima oleh semua orang. Meski terkadang ada yang mengusikku, aku belajar untuk tidak membiarkan perkataan mereka merenggut ketenanganku.

Saat kembali sekelas dengan sahabat dan teman-teman di kelas sebelas dan dua belas, hari-hari sekolah terasa lebih akrab. Perlahan, aku memahami bahwa tumbuh dewasa bukan tentang menjadi orang yang paling ramai, melainkan tentang keberanian menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura.

Banyak pengalaman telah membawaku sampai di titik ini. Tidak semuanya indah, tetapi setiap kejadian meninggalkan pelajaran. Andai aku bisa bertemu dengan diriku yang dahulu, aku ingin mengatakan bahwa ia tidak perlu merasa kecil hanya karena dunia belum memberinya tempat. Ia tidak harus meragukan dirinya hanya karena orang lain gagal melihat kemampuannya.

Perjalananku masih panjang. Masih ada mimpi yang ingin kuraih dan banyak hal yang ingin kupelajari. Aku ingin terus melangkah bukan untuk membalas orang-orang yang pernah menyakitiku, melainkan untuk menjadi seseorang yang kubanggakan sendiri. Aku ingin tumbuh tanpa melupakan masa lalu, menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan hati, dan menjalani hidup tanpa terus membandingkan diriku dengan orang lain.

Pada akhirnya aku menyadari bahwa masa lalu tidak menentukan siapa diriku hari ini. Untuk siapa pun yang pernah merasa tersisih atau diremehkan, jangan biarkan perkataan orang lain memadamkan harapanmu. Kamu tetap berharga, meski dunia belum mampu melihat kelebihanmu. Jadikan setiap luka sebagai pelajaran dan teruslah melangkah, meski perjalananmu terasa berat. Ingatlah, kamu tidak harus selamanya menjadi bayangan karena suatu hari nanti, kamu pun berhak bangkit dan menjadi cahaya. [CM/Na]

Views: 6

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *