Oleh: Fitri Sumantri
CemerlangMedia.Com — PUISI
Bara mengepul di atas tanah, langit gelap seketika, asap kelam menutup seluruh negeri
Abu-abu dedaunan berterbangan ke jalan-jalan, pemukiman warga dan sampai di depan pintu rumah
Angin membawa kabar tentang lenyapnya hutan tak hanya sekadar kata, tak sengaja
Yang membuat awan tertutup asap tebal dan matahari memerah
Ini bukan hanya tentang bara yang menyala,
tetapi tentang kerakusan yang lama dipelihara
Hutan kehilangan suara,
pohon-pohon tumbang tanpa sempat bertanya,
satwa terusir dari rumahnya
Bahkan, ada yang mati hangus sambil memeluk telur-telurnya
Dan ada pula yang meraung minta pertolongan manusia di tengah kobaran api,
sementara langit menanggung luka
yang tak terlihat di meja-meja penguasa
Sejatinya karhutla bukan hanya tentang api,
Bukan pula sekadar musim yang kering
Sehingga puntung rokok bisa melahap ribuan hektare lahan dalam seketika
Ada tata kelola yang rapuh
Bahkan kini, saat kondisi asap makin pekat, sawit-sawit mulai ditanami pada sela-sela kayu yang telah berubah menjadi arang
Dan kepentingan, tentunya masih saling berkelindan
Hingga hutan perlahan beralih fungsi
menjadi angka-angka keuntungan
Begitu serakahnya manusia, semuanya dinilai dari cuan
Hutan dipandang sebagai komoditas
Yang bisa diperjualbelikan sesuka hati
Asalkan keuntungan sepadan,
Maka kepentingan pemilik modal
lebih kuat dari pada suara rakyat
maka jangan heran
jika yang terbakar bukan hanya pepohonan,
tetapi juga masa depan
Karena memang begitulah sistem kapitalisme demokrasi bekerja
Keuntungan di atas segalanya
Tak peduli merugikan siapa pun, yang penting cuan
Sudah lebih sebulan asap masuk ke rumah-rumah
mengganggu napas, membuat mata perih,
menutup matahari dari langit,
Mengungsikan ruang bermain anak-anak hanya sebatas rumah dan menahan ruang belajarnya cukup di depan layar
sementara keuntungan
tetap dihitung dengan tenang
Siapa yang membayar harga kerusakan itu?
Masyarakat yang kehilangan udara bersih,
petani yang kehilangan penghidupan,
generasi yang mewarisi tanah terluka,
dan alam yang tak pernah mampu
mengajukan tuntutan dengan suara
Serta hewan-hewan yang mencoba berlindung dan mencari makan ke pemukiman warga
Hanya untuk sekadar bertahan hidup, setelah rumahnya lenyap jadi abu
Wahai negeri,
Sampai kapankah kabut asap ini selesai?
Serupa jatah datang bulan yang harap untuk dimaklumi
Langganan yang tak pernah menemukan titik terang
Sebab, percuma jika hanya padamkan apinya saja,
lalu biarkan bara penyebabnya tetap menyala
Benahi sistemnya,
tegakkan keadilan,
lindungi hutan dari keserakahan,
dan tempatkan keselamatan rakyat
di atas kepentingan korporasi dan modal
Sebab, hutan bukan sekadar hamparan tanah
bukan pula sekadar angka dalam laporan
ia adalah napas kehidupan, tempat di mana sumber udara segar bisa dihirup
Air bersih tetap dinikmati
Tempat untuk kebutuhan pokok segelintir orang terpenuhi
Rumahnya obat-obatan serta tumbuhan liar
Dan ketika hutan terus dibakar
demi keuntungan segelintir tangan,
sesungguhnya yang sedang dibakar
adalah masa depan kita sendiri. [CM/Na]
Views: 3






















