Oleh: Putri
Persoalan kesehatan mental generasi muda tidak semestinya ditanggung individu seorang diri. Diperlukan sinergi yang menyeluruh dari ketahanan akidah individu, kepedulian serta kontrol masyarakat, dan peran negara dalam menjamin kesejahteraan hidup. Penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai negara Islam akan membentuk tatanan masyarakat yang saling menjaga sehingga setiap warga negara tidak lagi menanggung beban sendirian di tengah beratnya tekanan hidup.
CemerlangMedia.Com — Saat ini, kesempatan untuk bertemu dan terhubung dengan orang lain makin terbuka, baik melalui media sosial maupun aktivitas secara langsung. Setiap orang bisa berada dalam banyak grup, komunitas, pertemuan, atau keramaian setiap harinya.
Namun, banyaknya interaksi tidak selalu berarti seseorang memiliki tempat untuk berbagi. Sebab, berada di tengah banyak orang belum tentu menghilangkan rasa sepi jika tidak terbangun hubungan yang membuat seseorang merasa didengar, dipahami, dan ditemani ketika menghadapi masa-masa sulit.
Potret Kerapuhan Mental Generasi Muda
Kurangnya kualitas hubungan sosial dan minimnya ruang untuk berbagi sering kali menjadi celah bagi rapuhnya ketahanan mental seseorang. Persoalan kesehatan mental sebenarnya dapat melibatkan banyak faktor dan tidak bisa disederhanakan pada satu penyebab tertentu.
Sejumlah kasus belakangan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian serius. Salah satunya adalah kasus mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Ia diduga melakukan percobaan bvnvh diri di lingkungan kampus (detiknews.com, 12-09-2026).
Sementara itu, seorang pria ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. Sebelumnya, ia diketahui sempat mengunggah pesan perpisahan melalui media sosial. Selain itu, ia juga diberitakan pernah memberikan donasi sekitar Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. Kasus ini mendorong Kementerian Kesehatan RI mengingatkan adanya risiko copycat suicide, yakni tindakan bvnvh diri yang terinspirasi oleh kasus atau pemberitaan sebelumnya (cnnindonesia.com, 11-09-2026).
Selain dua kasus tersebut, data layanan kesehatan mental juga memperlihatkan besarnya persoalan yang dihadapi generasi muda. Berdasarkan data Healing119.id, layanan tersebut tercatat telah diakses oleh hampir 16 ribu orang dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.036 pengguna memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup, 54,08 persen di antaranya berasal dari kelompok usia 21–30 tahun.
Saat Hidup Kehilangan Pegangan
Kehidupan yang dijalani generasi muda saat ini menjadi bagian penting dalam memahami persoalan kesehatan mental. Sebab, cara seseorang menghadapi tekanan tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan pribadi, tetapi juga oleh nilai yang diyakini, hubungan yang dimiliki, serta lingkungan tempat ia menjalani kehidupan. Tanpa pegangan hidup yang kuat, kegagalan, kehilangan, dan berbagai persoalan bisa terasa jauh lebih berat. Di sinilah agama memiliki peran penting.
Saat ini, masyarakat hidup dengan pandangan yang cenderung memisahkan agama dari berbagai aspek kehidupan. Pada sebagian orang, agama hanyalah sebuah identitas, simbol, atau ritual semata. Agama belum sepenuhnya menjadi landasan dalam memandang dan menghadapi persoalan hidup, padahal manusia tidak hanya membutuhkan pencapaian materi, tetapi juga ketenangan batin, arah hidup, dan keyakinan yang dapat menjadi tempat berpijak ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah menjadi bagian penting dari ketenangan batin seorang muslim.
Pada saat yang sama, generasi muda menghadapi tuntutan dari banyak arah. Mereka dituntut berprestasi, mandiri, produktif, dan mampu bersaing, sementara media sosial lebih sering menampilkan kebahagiaan dan pencapaian dibandingkan kegagalan, kekecewaan, atau pergulatan pribadi. Tidak mengherankan jika ada orang yang tampak baik-baik saja, padahal menyimpan banyak permasalahan seorang diri.
Kesibukan mengejar target pribadi juga dapat merenggangkan hubungan dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar. Interaksi mungkin tetap berlangsung, tetapi tidak selalu berkembang menjadi hubungan yang cukup dekat untuk menjadi tempat berbagi. Sayangnya, ketika masalah datang, tidak semua orang memiliki tempat yang benar-benar dapat dipercaya untuk mendengar, memahami, atau dimintai bantuan.
Oleh karena itu, menghadapi persoalan ini tidak cukup hanya dengan memberi semangat atau meminta seseorang untuk menjadi lebih kuat. Diperlukan pendampingan, ruang untuk bercerita, serta pegangan yang membantu seseorang menemukan kembali arah hidup.
Menguatkan Jiwa, Menata Masyarakat dan Negara
Dalam Islam, seorang muslim diajarkan bahwa kehidupan memiliki tujuan dan setiap kesulitan merupakan bagian dari ujian. Kegagalan dalam pendidikan, pekerjaan, maupun urusan lain, bukanlah akhir dari segalanya.
Akidah Islam menjadi pegangan agar seorang muslim tidak kehilangan arah ketika menghadapi masa sulit. Akidah membuat seorang muslim tetap memiliki harapan ketika hidup terasa berat. Sebab, ia yakin pertolongan Allah selalu ada dan kesulitan bukanlah akhir dari segalanya, sebagaimana firman Allah, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5–6).
Namun, tanggung jawab tidak berhenti pada individu. Lingkungan sekitar juga berperan penting dalam menjaga satu sama lain. Tolong-menolong dalam kebaikan perlu diwujudkan melalui kepedulian nyata, termasuk memberi ruang bagi orang lain untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Jika diperlukan, meminta bantuan tenaga ahli di bidang psikologi atau medis juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar.
Di sisi lain, ketahanan seseorang juga dipengaruhi oleh kondisi kehidupan yang harus ia hadapi sehari-hari. Oleh karena itu, tanggung jawab tidak hanya berada pada individu, keluarga, dan masyarakat, tetapi juga negara. Negara berperan memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, termasuk melalui penyediaan pendidikan dan layanan kesehatan serta terciptanya kondisi ekonomi yang layak.
Di sinilah pentingnya penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah). Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah, tetapi juga hubungan antarmanusia serta tanggung jawab negara dalam mengurus masyarakat. Allah Swt. berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS Al-Baqarah: 208). Ayat ini menegaskan pentingnya menjalankan Islam secara menyeluruh.
Pada akhirnya, persoalan kesehatan mental generasi muda tidak semestinya ditanggung individu seorang diri. Diperlukan sinergi yang menyeluruh dari ketahanan akidah individu, kepedulian serta kontrol masyarakat, dan peran negara dalam menjamin kesejahteraan hidup. Penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai negara Islam akan membentuk tatanan masyarakat yang saling menjaga sehingga setiap warga negara tidak lagi menanggung beban sendirian di tengah beratnya tekanan hidup. [CM/Na]
Views: 5






















