#30HMBCM
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
CemerlangMedia.Com — Kini, kata industri tidak hanya mengacu pada manufaktur atau pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi, olahraga pun tercakup di dalamnya. Ini sebagaimana pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir yang merasa optimistis industri olahraga di tanah air bakal menjadi salah satu komponen pertumbuhan ekonomi.
Hal ini mengacu pada target pertumbuhan ekonomi pemerintah antara 5—8 persen. Jika masih terpaku pada komponen belanja pemerintah, maka akan sulit tercapai. Oleh karena itu, butuh kolaborasi dengan seluruh stakeholder untuk membuat kegiatan ekonomi baru, yaitu sports tourism (republika.co.id, 6-12-2025).
Sport tourism adalah ekosistem industri olahraga di Indonesia yang dapat didongkrak lewat ISS 2025, sebuah ajang yang merupakan kali pertama menjadi wadah bagi para pelaku industri olahraga seperti atlet, investor, hingga federasi. Erick mencontohkan AS, dari industri olahraganya mencapai nilai 417 miliar dolar AS, sesuai data yang dikeluarkan sebuah konsultan keuangan Inggris Kearner pada 1 Juni 2025.
Kearney bahkan memprediksi pertumbuhan industri olahraga dunia akan mencapai delapan persen per tahun dan pada 2030 mendatang menyentuh nilai 602 miliar dolar AS. Menteri UMKM Maman Abdurahman pun mengatakan, industri olahraga di tanah air mengalami pertumbuhan sebesar Rp41 triliun per tahun 2024.
Demikian pula, Kementerian Perindustrian merilis ekspor alat olahraga mengalami kenaikan sebesar 4,2 persen selama periode Januari hingga Agustus dengan taksiran nilai ekspor sebesar 84,78 juta dolar AS. Dari semua ini, Erick memastikan, Indonesia akan mengambil peluang ini untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kapitalisme Perluas Komoditas, Seolah Sejahtera Hanya Angka
Danantara pun siap mendukung program-program besar Kemenpora yang pasti hal itu akan memberikan manfaat bagi negara, pernyataan itu disampaikan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria di Sports Summit (ISS) 2025 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta. Salah satunya adalah pengembangan sport tourism yang dinilai telah berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi banyak negara, termasuk di tanah air (republika.co.id, 7-12-2025).
Dukungan Danantara menurut Dony adalah komitmen dalam mendukung setiap penyelenggaraan even Indonesia dan berbagai negara di dunia yang telah menjadikan sport tourism sebagai country policy. Sebab, terbukti memberi dampak ekonomi signifikan, baik dari kunjungan wisatawan, perputaran uang, hingga peningkatan pendapatan UMKM.
Kreativitas kapitalisme yang diterapkan hari ini memang tanpa batas. Apa pun bisa jadi komoditas, salah satunya olahraga. Kita dipaksa meninggalkan pendapat bahwa olahraga sekadar latihan fisik dan kebugaran agar badan senantiasa sehat. Bagi kapitalisme, olahraga pun bisa berubah menjadi ladang cuan dan investasi tanpa akhir.
Fakta ini menjawab, mengapa motor GP, Olimpiase, World Cup, dan lainnya begitu mendunia dan mengapa Indonesia begitu ngotot membangun Sirkuit Motor GP di Mandalika, meski dengan babak belur menanggung utang. Semua demi prestise dan sah menjadi anggota keluarga negara-negara di dunia.
Namanya kapitalisme, tentu di dalamnya banyak kolaborasi terjadi, mulai fashion, kuliner, pariwisata hingga permainan politik kekuasaan. Siapa yang bermain? Jelas bukan rakyat jelata yang boro-boro memikirkan olahraga, makan sehari sekali saja susah, ditambah dengan mahalnya biaya hidup, maka tentu hanya mampu membahas bagaimana bertahan hidup.
Yang bermain jelas para kapitalis, pemilik modal, baik modal materi, jaringan atau afiliasi maupun kekuasaan di pemerintahan. Negara dalam sistem kapitalisme tidak lebih dari regulator kebijakan. Pertanyaannya, apakah sport tourisme mampu menjadikan rakyat Indonesia sejahtera? Dalam artian tidak lagi menanggung biaya hidup yang tinggi, rasa aman terjamin, pendidikan terakses dengan mudah dan lainnya? Jika tidak, lantas untuk siapa manfaat industrialisasi olahraga ini?
Sekali lagi, tentu hanya bagi segelintir orang atau lebih tepatnya segelintir elite korporasi yang memainkan modalnya di dunia olahraga. Ini tidak bicara sehat, tetapi bicara bisnis dan perputaran uang pada sekelompok kecil pengusaha dan investor. Dan jika hanya mereka yang sejahtera, maka ini sudah melenceng dari tujuan diadakannya negara.
Situasi bak hutan rimba, siapa kuat, dia pemenangnya. Dalam Islam, negara atau pemimpin adalah pelayan rakyat, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Imam (Khalifah) adalah raain (gembala) dan ia bertanggungjawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).
Indonesia pada kenyataannya terjebak dalam permainan kapitalisme ini. Jangankan sejahtera, rakyat Indonesia dan berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi, nasib para atletnya pun masih suram. Terlalu banyak persoalan yang menjadi PR, bahkan pada akhirnya, olahraga hanya satu jebakan nasionalisme yang kebablasan.
Seolah perjuangan mengharumkan negara adalah melalui olahraga, berbagai perolehan emas dan logam lainnya di berbagai ajang lomba dan kompetesi hanyalah gambaran ironi sebuah negara penganut kapitalisme. Di sisi lain, sumber daya alam yang melimpah, justru dikuasai asing, dieksploitasi, dan dihancurkan melalui sebuah kesepakatan kerjasama ekonomi dan lain-lain.
Islam Solusi Hakiki Wujudkan Sejahtera
Olahraga dalam Islam adalah kegiatan mubah, memang dianjurkan sebagaimana Rasûlullâh yang memerintahkan mengajari anak-anak untuk berenang, bermain pedang, dan berkuda. Rasûlullâh juga pernah mengadakan kompetesi dalam olahraga, tetapi bukan dalam rangka memperoleh materi tertentu, bahkan bukan jadi pendongkrak ekonomi negara. Itu adalah dua hal yang berbeda.
Olahraga juga bukan ajang untuk menunjukkan nasionalisme dan paham lain selain Islam. Bahkan, Islam mengharamkan seseorang yang beraktivitas berdasar pemahaman selain syariat Islam. Negara wajib menjamin pelayanan kebutuhan pokok rakyat individu per individu, yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan.
Dengan mengelola sumber daya alam yang dikaruniakan Allah Swt. berupa kepemilikan umum (hutan, laut, tambang, energi, dan lainnya) dan kepemilikan negara (jizyah, fa’i, kharaz, dan lainnya), negara tidak akan bergantung kepada olahraga, meski memfasilitasi berbagai hal yang berhubungan dengan olahraga, seperti lapangan, pusat olahraga dan lainnya. Bahkan tidak bekerja sama dengan asing, berkompetisi, dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari nasionalisme, kemudian diindustrialisasikan.
Justru negara akan memelihara kedaulatan negara dari rongrongan pemikiran sesat yang bertentangan dengan syariat. Menjadikan olahraga sebagai pendongkrak ekonomi, jelas lahir dari pemikiran kapitalisme yang harus dibuang segara. Allah Swt. berfirman,
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah: 50).
Wallahu a’lam bisshawab.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 23






















