Oleh: Asy Syifa Ummu Shiddiq
Komunitas Setajam Pena
Kebangkitan umat membutuhkan perjuangan yang serius, terarah, dan mengikuti metode dakwah Rasulullah saw.. Umat juga perlu bersatu dalam perjuangan bersama jemaah dakwah Islam ideologis yang secara konsisten mengajak masyarakat kembali kepada penerapan Islam secara kafah dalam bingkai Khil4f4h.
CemerlangMedia.Com — Pergi ke pasar membeli ketan
Pulangnya mampir membeli semangka
Katanya ingin hidup nyaman
Tetapi aturan Allah ditaruh di belakang meja.
Hijriah kembali menyapa. Umat Islam pun menyambutnya dengan suka cita. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menyemarakkan datangnya Tahun Baru Islam, seolah telah menjadi tradisi yang tidak pernah terlewatkan.
Sayangnya, kemeriahan ini sering kali kontras dengan realita kehidupan yang dihadapi sehari-hari. Di balik semarak perayaan tersebut, muncul sebuah pertanyaan, benarkah kondisi umat Islam saat ini sedang baik-baik saja?
Masih Terpuruk
Jika menengok kondisi di dalam negeri, didapati bahwa umat masih jauh dari kata baik-baik saja. Maraknya korupsi, kriminalitas, serta berbagai penyimpangan moral turut menunjukkan bahwa persoalan umat sangat kompleks. Belum lagi, tekanan ekonomi yang berkepanjangan, terus memperberat kehidupan masyarakat.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 10 Juni 2026 makin membebani daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah. Selain itu, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belum juga mereda menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Apabila gelombang PHK kembali terjadi, beban ekonomi masyarakat tentu akan makin berat (Liputan6.com, 28-06-2026).
Di sisi lain, kondisi dunia internasional juga belum menunjukkan keadaan yang lebih baik. Saudara-saudara muslim di Palestina masih berjuang mempertahankan hidup di tengah agresi yang terus berlangsung. Kesepakatan gencatan senjata yang beberapa kali dicapai, berulang kali pula dilanggar oleh Zionis Israel.
Akibatnya, masyarakat Palestina masih hidup dalam ketidakpastian. Mereka kehilangan tempat tinggal, kesulitan memperoleh kebutuhan pokok, dan hidup di bawah ancaman serangan setiap saat. Berbagai laporan juga menunjukkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka menjadi sasaran serangan. Sementara rumah, sekolah, dan kamp pengungsian yang dipadati warga sipil turut menjadi target pengeboman.
Sumber Kerusakan
Padahal, umat Islam telah memasuki 1 Muharam 1448 Hijriah yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan umat. Akan tetapi, realita menunjukkan bahwa umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah, yaitu umat terbaik yang memimpin manusia kepada kebaikan. Lalu, mengapa berbagai persoalan tersebut terus terjadi?
Sering kali, manusia hanya berfokus pada gejala tanpa berusaha memahami akar persoalannya. Ibarat sebuah kapal yang bocor, penumpangnya sibuk mengecat dinding, membersihkan lantai, dan mempercantik kabin, tetapi membiarkan lubang yang menyebabkan air terus masuk ke dalam kapal. Selama lubang tersebut tidak ditutup, kapal akan terus berada dalam bahaya.
Berbagai kerusakan yang terjadi saat ini bukanlah peristiwa yang muncul tanpa sebab. Setiap persoalan tentu memiliki penyebab. Akar persoalan tersebut adalah sistem kehidupan yang diterapkan saat ini, yakni kapitalisme sekularisme. Sistem ini telah menggeser standar halal dan haram menjadi manfaat serta keuntungan materi semata.
Akibatnya, berbagai bentuk kemaksiatan memperoleh ruang untuk berkembang. Judi daring, eksploitasi manusia, praktik riba, korupsi, serta berbagai bentuk penyimpangan lainnya terus bermunculan. Sementara itu, agama hanya dianggap sebagai urusan ibadah individu, seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Adapun urusan ekonomi, politik, pendidikan, hukum, maupun pemerintahan dipisahkan dari syariat Islam. Pada akhirnya, manusialah yang menentukan aturan kehidupan berdasarkan akal dan kepentingannya sendiri.
Di sisi lain, lemahnya posisi umat Islam di tingkat global juga tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa kaum muslim tercerai-berai menjadi puluhan negara bangsa. Nasionalisme telah memecah persatuan umat. Akibatnya, ketika Palestina diserang oleh Zionis Israel, banyak negara muslim menganggapnya sebagai persoalan internal Palestina, bukan persoalan seluruh umat Islam. Padahal, pada masa lalu, umat Islam memiliki institusi pemersatu yang berfungsi menjaga darah, harta, dan kehormatan kaum muslim.
Momentum Refleksi
Hijrah sejatinya bukan sekadar berpindah tempat atau memperbaiki kualitas ibadah individu. Lebih dari itu, hijrah juga berarti berpindah dari sistem kehidupan yang bertentangan dengan syariat menuju kehidupan yang dibangun berdasarkan wahyu Allah. Dengan demikian, hijrah hakiki merupakan perjuangan untuk meninggalkan sistem kapitalisme menuju penerapan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.
Perubahan sebesar ini tentu tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat. Rasulullah saw. telah memberikan teladan tentang bagaimana membangun individu, masyarakat, hingga negara melalui metode dakwah yang beliau tempuh. Oleh sebab itu, kepedulian terhadap umat tidak cukup diwujudkan dalam bentuk simpati dan empati semata, melainkan harus disertai perjuangan yang nyata.
Kebangkitan umat membutuhkan perjuangan yang serius, terarah, dan mengikuti metode dakwah Rasulullah saw.. Umat juga perlu bersatu dalam perjuangan bersama jemaah dakwah Islam ideologis yang secara konsisten mengajak umat kembali kepada penerapan Islam secara kafah dalam bingkai Khil4f4h.
Khatimah
Muharam mengajarkan bahwa setiap perubahan besar selalu diawali dengan hijrah. Namun, hijrah tidak boleh berhenti pada slogan maupun seremoni tahunan. Hijrah harus melahirkan kesadaran untuk memperbaiki keadaan umat hingga menyentuh akar persoalannya.
Jangan sampai setiap tahun hanya mengganti kalender, tetapi tidak pernah mengubah cara pandang. Jangan sampai terus mengeluhkan kapal umat yang bocor, sementara lubang yang menjadi penyebab kebocoran itu tetap dibiarkan. Agar kapal umat tidak terus berlayar dalam kegelapan, sudah saatnya Muharam menjadi titik awal hijrah menuju penerapan Islam secara kafah.
Wallahu a’lam bisshawab
[CM/Na]
Views: 10






















